Tampilkan postingan dengan label Timnas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timnas. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Desember 2012

Komentar yang Mengiringi Perjalan Timnas Indonesia di AFF 2012.


Berakhir sudah petualagan Timnas Indonesia di AFF Suzuki Cup 2012. Indonesia tidak lolos dari fase grup. Tim asuhan Nil Maizar ini kalah bersaing dari Singapura dan Malaaysia. Sempat terbercik harapan kala tim ini mampu mematahkan rekor tak pernah menang dari Singapura 14 tahun terakhir, namun Timnas akhirnya dikandaskan Malaysia. Pedih? Pasti!

Rabu, 24 Oktober 2012

Pemain Indonesia Untuk AFF 2012.

Hanya sekitar sebulan lagi perhelatan sepakbola akbar negara ASEAN, AFF Suzuki Cup 2012 akan digelar di Kuala Lumpur dan Hanoi. Indonesia tergabung di grup A, tergabung bersama Malaysia -tuan rumah, Singapura dan Laos.

Kamis, 12 April 2012

Terima Kasih Nil Maizar



2010, saat Arcan Iurie mewujudkan semua harapan pecinta sepakbola di Sumatera Barat. si perokok berat membawa tim kebanggaan Ranah Minang berlaga di kompetisi terbaik di Indonesia, Indonesian Super League (ISL), setelah di babak perebutan Juara Ketiga, Semen Padang sukses membekuk Persiram Raja Ampat lewat gol tunggal Edward Wilson Junior, di sore yang lembab di Manahan, Solo.





Minggu, 11 Maret 2012

Garuda Muda : Kita Kalah Dari Brunei !!


Dulu waktu saya kecil, Brunei merupakan sebuah hadiah dari surga jika ditempatkan satu grup dengan Indonesia –mungkin negara lain juga berpikir demikian, dalam turnamen sepakbola regional Asia Tenggara, karena Brunei dapat dijadikan sebagai lumbung gol, ya siapa tim terbanyak membobol gawang Brunei maka tim itu akan mendapatkan keuntungan dalam selisih gol. Sudahlah itu dulu, tentulah mereka sudah berkembang dan belajar dari pengalaman, tidak seperti bangsa ini. Ehh..

Malam itu, 9 Maret 2012, mungkin hari itu akan ditandai oleh 400ribu warga Brunei sebagai hari bersejarah bagi sepakbola mereka. Goliath baru saja menang atas David, seperti itulah analoginya atas kemenangan 2-0 mereka atas Indonesia. Sebelum game itu dipiruitkan oleh wasit mungkin saja rakyat Brunei berpikir realistis, bukan pesimis, “menahan Indonesia atau kalah dengan skor tipis ekivalen dengan juara!”. Tapi mereka memperoleh lebih dari itu, mereka mengalahkan Negara kita, Indonesia.

Meski dalam level junior, bukan level tim utama, tapi kemenangan Brunei patut diapresiasi, mereka unggul segalanya dari Indonesia malam itu, organisasi tim mereka lebih baik, efisiensi penyerangan masih lebih baik, mereka bermain sangat efektif. Dukungan dari Raja Sultan Hasanah Bolkiah mungkin menjadi pelecut semangat bagi awak Brunei. Mereka ingin membuktikan kepada Rajanya, kalau mereka bisa!

Restart
Mungkin sudah 5 tahun terakhir kita tak pernah lagi melihat Tim Nasional Brunei Darussalam dalam pertandingan bola resmi. Ya, mereka disanksi oleh FIFA karena intervensi yang dilakukan pemerintah mereka dalam sepakbola mereka –sebuah hal yg haram oleh FIFA. Secara tidak langsung mereka kembali memulai kerangka sepakbola mereka dari awal. Menciptakan timnas Brunei Darussalam yang tangguh dan disegani di Asia Tenggara, mungkin itu cita-cita mereka, mereka bekerjasama untuk mencapai itu.
Kita pulangkan itu pada Indonesia, mungkin masalah yang akan saya bahas ini sudah cukup bosan kita membaca dan mengulasnya, tapi saya hanya menekankan satu hal pada PSSI, yaitu bekerjasamalah dalam membangun impian itu. Tidak hanya Djohar Arifin atau Arifin Panigoro yang punya impian sepakbola Industri, main di Piala Dunia, tapi itu juga merupakan cita-cita kita bersama rakyat Indonesia. Apa salahnya kita membangun pondasi menuju kesana bersama-sama? Jangan pentingkan ego semata. Kita tidak bisa menuduh siapa yang benar siapa yang salah dalam masalah ini, tapi alangkah baiknya kita introspeksi diri kita. Jangan merasa kita benar dan yang lain salah. Baiklah PSSI yang terhormat, marilah hilangkan phobia atas rezim lama yang menurut kalian busuk itu, mari kita jalin keharmonisan dalam merajut mimpi kita itu. Ya, mungkin hanya itu.
Brunei bisa menjuarai suatu turnamen –meski turnamen minor—karena pengurus mereka direstart dan mau bekerjasama. Masa kita kalah sama Brunei? Cukuplah sekali itu saja!

Kamis, 01 Desember 2011

Oleh-Oleh Dari Beckham


Semalam David Beckham dan timnya LA Galaxy memulai Tur Asia Pasifiknya. Lawan pertama yang mereka hadapi adalah Indonesia Selection, perpaduan pemain tua kenyang jam terbang serta pemain muda kaya potensi. Memang pertandingan itu dimenangkan oleh timnya Becks, tapi ada beberapa oleh-oleh yang ditinggalkan lulusan akademi Man. United ini bersama timnya.

Indonesia Selection bermain tidak buruk semalam, tak ada beban harus menang atau sesuatu yang perlu dikejar, sehingga para pemain bermain lepas dan mampu memberikan perlawanan bagi LA Galaxy. Pemain tua dan muda melebur dalam satu sentuhan pelatih berbakat, Rahmad Darmawan. Sejenak kita bisa melupakan carut marut yang melanda PSSI lewat harapan yang diberikan anak muda, macam Andik, Diego atau Egi. Pemain yang selalu menjadi perhatian saya adalah Andik Vermansyah, bujang 19 tahun asal Surabaya ini begitu bersinar semalam, dia seolah-olah ingin mengkampanyekan skill yang ia miliki, setidaknya kepada LA Galaxy. Penetrasi Andik dari sayap kanan sering merepotkan pertahanan kiri lawan, bakat kecepatan yang alami membuat pemain lawan kocar-kacir, bahkan seorang Beckham sampai harus menghentikan Andik lewat tackle.

Asa
Beckham memang tidak mencetak gol, timnya memang terlihat seolah-olah tak terlalu memaksakan bermain, tapi kita bisa melihat dari jumlah pelanggaran dan yang nyata jumlah peringatan dalam bentuk kartu, mereka unggul, jadi kita bisa menyimpulkan kalau mereka masih bermain dalam taraf serius, dan kita bisa mengimbanginya. Ini adalah suatu pertanda bahwa pemain kita bisa. Yah, bisa setidaknya tidak terlihat ‘diajari main bola’ oleh Galaxy.

Kecepatan dimiliki dua pemain kerdil, Andik dan Okto, ini modal bagi Timnas kita untuk menjadikan mereka pemain sayap hebat, setidaknya untuk level regional. Sementara itu, ketajaman seorang Indo-Belanda dalam overlapping dan kesigapan dalam bertahan ada pada Diego Michiels. Kecermatan dalam mengatur tempo irama permainan dan kesigapan dalam membuntukan serangan lawan ada pada Egi Melgiansyah. Ketajaman dan kemampuan pemanfaatan bola mati yang menyatu dalam Patrich Wanggai. Belum lagi pemain seperti Titus Bonai atau Abdurrahman yang tak bisa ikut bertanding. Dan tak lupa pemain terbaik saat ini, Boaz Sollossa.

Dari deskripsi saya tersebut, kita boleh menaruh asa pada beberapa pemain itu untuk membangun Timnas yang kuat pada masa mendatang. Tapi semuanya berpulang kepada perangkat pelaksana. Percuma Anda punya bunga yang indah, tapi tak akan bisa tumbuh mekar jika tak disiram. Seperti itulah mereka, mereka hebat, berpotensi, dan Beckham mengakui itu dalam wawancara singkatnya dengan salah satu stasiun TV seusai laga. Tak ada kejelasan dalam kompetesi, jelaslah menghambat kemampuan mereka untuk berkembang dan menggali potensi yang sudah ada itu. Sadarlah PSSI! Bangsa ini punya talenta seperti mereka, apakah kita akan menyia-nyiakan talenta itu terkikis oleh ketidakpandaian kita dalam mengasah mereka, sehingga Timnas kita, yah, hanya bisa menjadi kompetitor Malaysia, Vietnam atau Timor Leste.

Pesona Andik
Beckham memang tak bermain penuh 90 menit, tapi aksi-aksinya di lapangan cukup menghibur –meski hal yang kita tunggu tak terjadi, yaitu gol freekick-nya--. Saat laga usai, jelaslah pemain Indonesia berkeinginan menukar jerseynya dengan bapak Romeo ini, tapi dari bahasa tubuh Beckham seolah menunggu seseorang dengan tidak buru-buru melepas jersey putihnya itu. Dari kejauhan muncul seorang bocah kerdil tergopoh-tergopoh dengan senyum terkambang bagai layar di bibirnya. Ya, dialah Andik, pesonanya malam itu seolah meluluhkan hati Beckham akan skill pemain pendek ini. Tanpa ragu-ragu Andik memotong sesi wawancara Beckham dengan stasiun TV demi mengganti jerseynya dengan Andik. Riuh penonton seakan membuat Andik seakan terbang ke awan, pelukan hangat dari sang maestro menjadi motivasi bagi anak ini untuk berkembang.
Semoga pelukan dan jersey itu bisa menjadi pelecut bagi Andik untuk bisa terbang lebih tinggi dan mengalahkan Becks. Terlalu berlebihan? Saya kira tidak.

Rabu, 16 November 2011

Masih Cinta Timnas 'kah Kita ??




Kita tentu masih mengingat bagaimana kurang lebih 11 bulan ke belakang seorang Austria bisa mengubah paradigma masyarakat mengenai Tim Nasional Indonesia lewat permainan nan menghibur dari timnya. Namun sekarang, seorang Belanda menyihir paradigma itu menjadi sebuah mimpi buruk.

Bukan maksud mengkomparasikan Alfred Riedl dengan Wilhemus Rijsbergen dalam pengantar tulisan ini, tapi tulisan ini menjadi salah satu media bagi penulis untuk menyampaikan keresahannya melihat (kembali) menipisnya animo masyarakat menyaksikan Tim Nasional Utama bangsa ini.

Kita memang sudah masuk kotak dalam perburuan menuju babak 10 besar Kualifikasi Piala Dunia zona Asia, tapi bukan berarti ini akhir segalanya, banyak hal yang perlu diperbaiki dari tim ini. Hal pertama yang perlu disoroti adalah kinerja perancang strategi permainan. Kita telah melihat bagaimana sepak terjang Meener Wim dalam usahanya memperbaiki tim nasional. Dari 8 laga resmi yang dijalani eks-anak buah Rinus Michel iniadalah 1 kali menang, sekali bermain imbang, sisanya menahan malu. Memang sih, kita pernah menahan Arab Saudi di laga ujicoba, tapi itu seakan tiada arti karena setelah itu kita tak bisa mengulangi hasil positif tersebut. Bukan menyalahkan Wim, tapi itulah tanggung jawab pelatih, dimana timnya kalah maka dialah orang pertama yang bertanggung jawab atas kegagalan, tapi Wim tak seperti itu, pelimpahan kesalahan dilimpahkan kepada anak-anaknya, logikanya senakal-nakal anak, tak pernah seorang ibu menyalahi anaknya. Tapi Wim tak bisa bertindak seperti itu, ia seakan lepas tangan, dan menyalahkan kinerja pemainnya, yang ia tegaskan bahwa pemainnya tak memiliki skill dasar bermain bola! Kata-kata pedih itu terucap saat Indonesia dipermalukan Bahrain di rumah sendiri. Penonton tak kalah kecewa, ungkapan kekesalan dilampiaskan dalam bentuk anarki barbar. Tapi tentulah kekesalan itu bukan tanpa sebab, permainan yang menghibur tak melulu dipertontonkan membuat penonton seakan merugi menggocek kantong dan meluangkan waktunya hanya untuk memberi kekesalan bagi mereka.

Puncaknya kemaren, saat melawan Iran, kita seperti tak punya semangat untuk berusaha setidaknya tak dipermalukan, tapi semangat itu seakan tak terpancar dari cara bermain para arjuna bangsa. Dan yang lebih parah lagi, puluhan ribu sorak sorai yang biasanya menjadi amunisi tambahan bagi tim, seakan hilang. GBK sepi. Selama saya menonton Timas Indonesia, tak pernah saya melihat stadion pendiri bangsa itu sangat lengang seperti kemaren. Semua itu adalah bentuk kekecewaan. Mulailah PSSI berkaca dan mengintrospeksi diri atas lengangnya minat masyarakat mendukung tim nasional kita. Perbaharuilah yang seharusnya diperbahurui, hilangkanlah yang seharusnya dihilangkan. Jangan lagi mencari kambing hitam atas semua itu. Kapten tim Bamabang Pamungkas menyadari akan kekecewaan massa atas apa yang terjadi, dan dia meminta agar semua mulai mengintrospeksi diri. Kapten hebat kita itu sadar bahwa jika berlarut-larut dalam mencari hitam tidaklah menyelesaikan semuanya. Jangan biarkan kehilangan rasa respek dari penonton awam kepada Timnas hilang, seiring dengan kinerjanya yang gagal. Telah nyata buktinya bahwa, Timnas gagal! Tak perlu lagi ditawar, ini sudah sampai batas akhir. Lakukan perombakan total!

Kami masih loyal kok!
GBK sepi, bukan berarti keloyalan suporter dipertanyakan. Jangan sampai menyalahkan suporter, jangan pernah menganggap kami mendukung arjuna kami kala menang. Tidak! Kami mencintai tim kami, tapi buat apa mendukung tim yang sudah kehilangan semangat untuk bangkit. Buktinya, GBK padat merayap kala timnas SEA Games bertanding, bukan berarti kami Glory Hunter (Pengincar kejayaan), kami merasa terhibur pada permainan mereka dan mereka membuat kami bangga. So, don’t judge us as unloyality fans. Sepakbola adalah hiburan, kami berhak mendapat hiburan dari pekerja lapangan hijau sekaligus membanggakan kami. So, berbenahlah PSSI! Tunjukkanlah Pak Djohar kalau anda memang bukan pemimpin gagal! Ditunggu penagihan janjinya ya, Pak!

Rabu, 07 September 2011

Brazil Itu gak Dekat !!


Saat asa muncul kala mampu mengalahkan Turkmenistan di babak pertama dengan permainan atraktif nan menghibur, Indonesia melaju ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia (Pildun) Zona ketiga. Kala itu semua orang di negeri ini begitu yakin bahwa negara ini akan memecahkan rekor mereka untuk berlaga di Pildun untuk pertama kali –setelah perwakilan atas Hindia Belanda tak diakui PSSI--. Berbagai keyakinan dan optimisme terpancar dari seluruh warga ini, bahwa Tim sepakbola negeri ini akan mengutus wakilnya pada pergelaran terakbar sedunia itu.



Kala drawing, Indonesia terdampar satu grup bersama negara Teluk, Iran, Qatar dan Bahrain, negara pertama adalah raksasa Asia, tiga gelar juara kontinental telah diraih Iran. Qatar, sebuah negara yang perkembangan Liganya sangat baik dan terarah, Qatar Star League, gelontoran fulus negeri minyak ini menyanggupi mereka untuk berpikir instan dengan menaturalisasi kewarganegaan beberapa pemain yang dianggap pantas. Dan Bahrain, negara yang dewasa ini sedang mengalami permasalahn politik ini adalah spesialis nyaris di dua Pildun edisi terakhir. So, jalan menuju Brazil tidaklah mudah.

Sepakbola bangsa ini yang baru saja lepas dari belenggu rezim lama, berpindah ke rezim baru dengan harapan dan tujuan baru. Langkah perdana yang nyata adalah dengan memecat pria kesayangan fan medio Desember 2010 lalu, Alfred Riedl, entah karena alasan apa, rezim baru memecat pria Austria ini, penggantinya adalah Wilhemus Rijsbergen, pria Belanda mantan anak buah Rinus Michel –si peletak batu pertama filosofi Total Voetball—bertekad menjadikan Timnas bermain layaknya Timnas Belanda atau Barcelona, yang mengandalkan sepakbola more passing dan speed, tanpa melihat kekalahan dari segi fisik. Debut Wim secara resmi adalah kala menjamu Turkmenistan di stadion penuh sengsara, Ashgabat Olympic, namun pertandingan pertama dan kedua melawan Turkmenistan, kita tak bisa menilai itu adalah bukti kerja keras Wim, menahan Turkmenistan di Ashgabat membawa pemain-pemain pilihan Riedl, sementara saat menang 4-3 di GBK adalah berkat bantuan asisten Wim, pelatih berkualitas milik bangsa ini, Rahmad Darmawan. Pasca kelolosan itu, Rahmad dijadikan pelatih kepala di Timnas U-23 untuk proyeksi SEAG. Disini lah cerita Wim dimulai.

Nyaris kalah dari juniornya, sebelum penalti Bambang Pamungkas menyelamatkan Tim ini, lalu mencukur Palestina 4-1, dan kalah 0-1 dari Yordania, adalah rapor Wim Pra-Kualifikasi Babak ketiga. Wim kerap mengambinghitamkan stamina, dan konsentrasi, toh sebelumnya Wim pernah mendatangkan pelatih fisik kelas Eropa, namun Wim sering beralibi masih kendala fisik yang menyebabkan Timnas bermain tanpa visi. Menurut pandangan pribadi saya, Timnas memang tak bisa menerapkan sepakbola seperti yang Wim inginkan, Timnas masih sering memberikan bola lambung tak jelas. Sudahlah…

Sebelum memulai laga sebenarnya, para fan dan media kerap mengapungkan sejarah manis, kala kita membekuk Qatar 2-1 di China 2004, dan Bahrain 2-1 di Jakarta pada tahun 2007 – dengan melupakan kekalahan 1-3 dari Bahrain 2004 lalu--, semua seolah-olah yakin hanya Iran lawan terberat kita di grup ini, toh, kita pernah menghabisi dua kontestan lainnya. Bahrain dan Qatar 2007 dan 2004 bukan yang akan kita hadapi sekarang, mereka tentu berbenah, sepakbola memiliki dinamika tersendiri, tak selalu statis dalam ketertinggalan, mereka belajar untuk berbenah. “Janganlah terlalu sering mengganggap sejarah adalah sesuatu yang akan kita temui sekarang !!” Kita boleh kok termotivasi dari masa lalu tapi jangan pernah berikir kalau kita akan menghadapi sejarah. Ini bukan De Javu. Harapan untuk runner up semakin buyar, kala Iran dan Bahrain menghabisi kita 0-3 dan 0-2.

Belajarlah dari Thailand, mereka berbenah kala kemunduran prestasi di AFF 2010 lalu, di pertandingan terakhir, Oman mereka bekap 3-0, bahkan Lucas Neill berujar bahwa Australia tak pantas menang atas Thailand, di pertandingan pertama.
Inilah yang tak dimiliki bangsa ini, sikap ingin terus belajar, kita sudah cukup puas dengan pencapaian AFF, atau dengan permainan menawan babak pertama Leg 2nd saat melawan Turkmenistan, yang sejujurnya masih belum bisa membawa kita ke Brazil. Brazil itu gak dekat, butuh perjuangan kesana, modal 45 menit kala lawan Turkmenistan bukan menjadi jaminan bagi kita untuk ke Brazil. Teruslah belajar!! Dan jangan terpuaskan hanya karena kita bermain seperti Barcelona sebabak . jalan masih panjang, dan konsistensi permainan dituntut agar asa bangsa ini menuju Brazil 2014 bisa kesampaian. Jayalah Garudaku !!


Senin, 24 Januari 2011

Kembalikan Sportivitas Sepakbola!!


Belum genap sebulan pasca AFF, sepakbola Indonesia kembali berulah dengan munculnya Liga tandingan yang namanya Liga Primer Indonesia, yang digagas pengusaha kenamaan, Arifin Panigoro. Kita seakan telah melupakan gaung semarak AFF yang kala itu mampu menyatukan semua warga Indonesia karena sepakbola, mulai dari pengasong sampai RI 1 tersihir selama Desember 2010 pada satu dukungan yaitu, Garuda Terbanglah Yang Tinggi!! Namun kita masih gagal, tapi kedewasaan suporter kala itu begitu tampak, ‘kecurangan’ Malaysia di Kuala Lumpur dapat kita balikkan dengan kemenangan di laga pamungkas, sayang kita belum juara, namun para pendukung tak anarkis, atau bahkan mengecam Malaysia, mereka sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari mereka! Mereka yang saat ini bertanggung jawab penuh atas persepakbolaan negeri ini.

Namun rasa persatuan itu seakan memudar begitu cepat, hanya seminggu pasca final, kita kembali terpecah, kali ini karena hadirnya dua liga profesional dalam satu negara, yaitu Indonesia Super League (ISL), yang induk semangnya PSSI, serta Liga Primer Indonesia (LPI), yang muncul dari pihak independen, yang katanya ingin menunjukkan bahwa sepakbola adalah olahraga yang harus menjunjung tinggi sportifitas dan kemandirian dari sebuah klub, yang selama ini tak terasa kental di ISL, bahkan sisi terpenting yaitu sportifitas dalam sepakbola telah dicederai oleh mereka penguasa federasi. Karena sudah geger dengan hal itu maka muncullah LPI dengan gagahnya dan PSSI menolak secara tegas kehadiran LPI, dan mencap LPI tak lebih dari kompetesi Tarkam yang ilegal. Ini menunjukkan suatu indikasi bahwa PSSI begitu tak ingin ketunggalannya dalam mengolah sepakbola Indonesia dengan cara mereka, dicampuri oleh pihak luar.
Nurdin Halid vs Arifin Panigoro adalah hal penting dalam munculnya masalah ini. Nurdin yang secara tidak langsung masih ingin menjadi presiden PSSI seakan tersaingi dengan munculnya Arifin Panigoro, yang belakangan juga mengincar kursi empuk PSSI. Namun siapa yang tak garang jika kenikmatan yang sedang dirasa akan terampas. Tentu semua marah, seperti itulah mungkin hakikatnya bagi Nurdin ‘Puang’ Halid, kenikmatannya menjadi presiden PSSI begitu ia dapatkan, tapi prestasi tak kuncung ia datangkan, Nurdin tak pernah menyadari bahwa kenikmatannya di PSSI saat ini adalah derita bagi kami, para penikmat sepakbola Indonesia, yang rindu akan gelar. Sementara Arifin begitu yakin bahwa LPI akan sukses dan secara tidak langsung ia sudah menarik perhatian rakyat, dan dengan itu pula jalannya untuk menduduki kursi yang diduduki Nurdin saat ini akan mendapat dukungan dari rakyat. Jika memang itu tujuan Arifin, maka ia juga merusak sportifitas sepakbola, ia memecah persatuan yang sudah terjalin semenjak AFF dengan Liga Primer Indonesianya yang sudah membuat persepakbolaan Indonesia menjadi sorotan Federation International Football Asociation (FIFA), yang konon kabarnya akan menjatuhkan hukuman kepada PSSI jika LPI tetap bergulir.
Intinya, baik Nurdin ataupun Arifin tak perlu mencalonkan diri menjadi presiden PSSI, berikanlah jabatan itu kepada orang yang benar-benar mencintai sepakbola Indonesia, dan dia bekerja di PSSI karena Indonesia bukan karena uang. Saya yakin jika ketua PSSI seperti kriteria diatas, saya yakin bahwa sepakbola negeri ini akan bangkit dari mati surinya, dan akan kembali seperti dulu, bahkan lebih. Memang sepakbola adalah olahraga yang notabene keras tapi kita tak perlu keras dalam mengurusnya, keikhlasan dari pemimpinnyalah yang akan mengubah semuanya. Sepakbola bukan politik yang penuh dengan kejanggalaan dan kebohogan. Saya ingat Butet Kertarejasa pernah berujar dalam acara parodi, “Sepakbola berbeda dengan politik, kesuksesan dalam sepakbola adalah kesuksesan bersama, sementara kesuksesan dalam politik adalah kesuksesan pemimpinya.” Jadi jangan pernah sesekali menyamakan sepakbola dengan politik. Kembalikan Sportifitas Sepakbola, wahai para perampas!!

Senin, 03 Januari 2011

[Catatan Seorang Bambang Pamungkas] Tetap Semangat Garudaku!!



Sebuah catatan yang dibuat oleh kapten Timnas Indonesia saat AFF Cup 2010 kemaren, yang di copas dari Official Website Bambang Pamungkas mengenai akhir cerita Timnas Indonesia di AFF Cup 2010 lalu...

Di hadapan 100 ribu pendukung merah-putih yg memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, air mata itu tumpah. Di saksikan oleh jutaan pasang mata yg menonton melalui layar kaca, kami kembali tersungkur. Kesedihan itu kembali menyapa, kegetiran itu kembali menghampiri, rasa pahit itu kembali harus di telan, dan kegagalan itu harus kembali kita rasakan bersama..

Beberapa pemain nampak menangis tersedu-sedu, beberapa yg lain terlihat berkaca-kaca, sisanya nampak membuang tatapan nanar, kosong seakan tidak percaya. Sungguh sangat wajar jika mereka terlihat sangat sedih dan terpukul malam itu. Setelah mengawali gelaran piala AFF ini dengan begitu impresif dan elegan, akhirnya kami harus kembali tertunduk lesu..

Mari kita sedikit menengok ke belakang. Dengan hasil 6 kemenangan dan hanya 1 kali menelan kekalahan, ternyata kami belum juga mampu membawa pulang Trophy itu ke pangkuan ibu pertiwi. Bandingkan dengan pencapaian sang juara Malaysia, yg hanya berbekal tiga kemenangan, dua kali hasil seri dan dua kali kekalahan..

Sepakbola memang penuh misteri, terkadang hasil pertandingan tidak selamanya terlihat fair dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak aneh, 3 kali kita berhadapan dengan Malaysia, dengan hasil 2 kemenangan dan 1 kekalahan, akan tetapi pada akhirnya merekalah yg keluar sebagai juara..

Aneh dan sedikit sulit di terima akal sehat bukan..?? Itulah sepakbola, Malaysia mengalami kekalahan di saat yg tepat, sedangkan kekalahan kita terjadi disaat-saat yg paling krusial dalam sebuah kejuaraan (Dan dalam skor yg juga cukup mencolok)..

Akan tetapi sekali lagi, itulah sepakbola. Sama persis dengan apa yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa: 2010), “Football is an unpredictable thing. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it”..

Sehari setelah Indonesia memastikan diri masuk final, kami sempat diundang dalam sebuah acara makan siang oleh Bpk Aburizal Barkie di kediaman beliau. Saat ramah tamah, saya sempat berbicara di depan semua yg hadir dalam acara tersebut. Dan jika saya tidak salah, acara tersebut juga di siarkan secara LIVE oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini..

Ketika itu saya berbicara demikian, “Ini bukanlah final pertama untuk kita (Indonesia), ini adalah final ke 4 setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Keberhasilan ini memang patut di rayakan, akan tetapi seharusnya tidak mengurangi fokus dan konsentrasi kita di 2 laga final, yg menurut saya sangat berat”..

Dan ternyata apa yg saya khawatirkan menjadi kenyataan. Kita sempat kehilangan konsentrasi pada pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil. Hal tersebutlah yg mengakibatkan kita harus menerima 3 gol hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Iya, bencana 15 menit yg membuat kita harus bekerja dengan sangat keras di Jakarta pada leg ke dua..

Saya kurang sependapat dengan beberapa kalangan yg menyalahkan keberadaan sinar laser di stadion Bukit Jalil, ketika itu. Iya, sinar laser tersebut memang sedikit banyak mengganggu, akan tetapi alangkah kurang bijaksana jika kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama atas kekalahan kita malam itu…

Usai pertandingan, banyak sekali pengamat (Baik yg mengerti maupun yg kurang mengerti tentang sepakbola) menyalahkan para punggawa timnas yg dalam pandangan mereka bermain sangat buruk. Beberapa pemain mendapatkan sorotan yg sangat tajam dan bahkan beberapa pemain tersebut di nilai tidak pantas berseragam merah-putih..

Bagi saya pribadi, hal tersebut sungguh sangat menggelikan. Saya memang sependapat jika beberapa pemain sempat melakukan kesalahan. Akan tetapi bukankan secara keseluruhan dalam 5 pertandingan sebelumnya, mereka telah melakukan kerja yg luar biasa bagi tim ini. Apakah anda sekalian lupa akan fakta tersebut..??

“Setiap orang yg berusaha dan bekerja dengan keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan. Sedangkan mereka yg hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah berbuat salah”

Sebagai pemimpin dari tim ini, saya tidak akan pernah membiarkan salah satu pemain tertinggal di belakang. Saya akan selalu pastikan, jika semua pemain tetap bergandengan tangan dan berjalan di garis horizontal yg sama. Seperti yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa : 2010) “Sebagai sebuah tim, kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah kalah bersama-sama”..

Dan pada akhirnya, sayalah yg akan bertanggung jawab mengenai apapun yg terjadi di dalam tim ini (Tentu di luar konteks Manager dan Pelatih kepala). Saya adalah pemain yg berbicara atas nama tim ketika konferensi pers sesaat setelah laga final digelar. Iya, saya sengaja datang dalam konferensi pers tersebut, karena itu merupakan tanggung jawab saya, sekali lagi itu merupakan tanggung jawab saya..

Saat itu, di depan seluruh wartawan baik dalam maupun luar negeri yg hadir, saya berbicara demikian:

“Awal sekali tahniah (Selamat) untuk Malaysia, yg telah berhasil memenangi gelar AFF Cup tahun ini.. Dan mengenai tim Indonesia, menurut saya tidak ada yg salah dengan tim ini, kami berhasil memenangkan pertandingan malam ini, hanya saja kami tidak mampu untuk menjadi juara.. Terima kasih atas dukungan dari semua pihak yg terkait dan selamat malam”

Diantara seluruh punggawa merah-putih, mungkin saya adalah pemain yg paling terpukul dengan kegagalan tersebut. Ini merupakan kegagalan saya untuk yg kesekian kalinya, pertandingan melawan Malaysia di final itu sendiri, adalah penampilan saya ke 86 untuk merah-putih dalam kurun waktu 11 tahun, 5 bulan, 3 minggu dan 5 hari (Tanpa ada satupun gelar tim penting yg mampu saya raih). Dan mungkin, pertandingan tersebut juga akan menjadi penampilan saya yg terakhir untuk Indonesia (Semoga saja tidak)..

Sejujurnya malam itu saya ingin menangis, akan tetapi hati kecil saya mengatakan “JANGAN”. Sebagai pemain senior, tentu saya bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh punggawa tim ini. Saya harus tetap memelihara keyakinan seluruh pemain, jika masih ada hari esok. Saya harus tetap memberi semangat kepada mereka, jika kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Saat itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tegar, walaupun sejujurnya hati saya juga retak..

Saya menepuk pundak Hamka, Maman, Markus, Nasuha, Zulkifli, Christian, Bustomi dan beberapa pemain yg lain sambil berkata, “Hey,, kita sudah melakukan yg terbaik kawan, tidak ada yg perlu di sesalkan’. Saya juga sempat memeluk Irfan Bachdim yg tengah menangis dan berkata, “It’s ok Irfan, maybe next time bro, maybe next time”. Saya juga menghampiri Arif Suyono yg nampak menangis tersedu-sedu di ujung bangku cadangan sembari berbisik, “Isin rek ketok no TV nangismu hehehe” (Malu ah loe nangis keliatan di TV itu hehehe)..

Tidak lupa, saya juga membesarkan hati Firman Utina, yg tengah merasa sangat bersalah dengan kegagalannya dalam menuntaskan tendangan 12 pas malam itu. Ketika itu saya berkata “Terlepas dari kegagalan pinalti tadi, loe udah nglakuin tugas yg luar biasa buat tim ini Man. Siapapun bisa gagal pinalti sob, gue juga sering. Loe pantes jadi pemain terbaik AFF kali ini Man, Selamat..!!”..

Saya berkewajiban membesarkan hati seluruh pemain yg sebagian besar masih berusia muda, karena mereka masih mempunyai masa depan yg sangat panjang. Di depan mereka, sudah menunggu sebuah tanggung jawab yg juga tidak kalah besar di event-event berikutnya di antarnya Sea Games, Pra Olimpiade maupun Penyisihan Piala Dunia yg akan di helat dalam waktu dekat..

Kekalahan ini memang sangat menyakitkan, akan tetapi tidak seharusnya hal tersebut diratapi dengan terlalu berlebihan. Kegagalan ini memang menyisakan kepedihan, akan tetapi hal itu jangan sampai memadamkan semangat dan mimpi kita bersama, untuk memajukan persepakbolaan negeri ini..

Karena, keyakinan itu hendaknya harus tetap ada di hati kita semua. Semangat itu harus tetap menggelora di jiwa kita bersama. Sehingga sudah seharusnya, jika kita tetap berteriak dengan lantang:

“Tetap Semangat Garudaku…!!!"


Terima kasih sudah membaca tulisan ini!!
Budayakan Berkomentar!!

Selasa, 28 Desember 2010

Kita Belum Kalah

Garuda Di Dadaku...

Garuda Kebanggaanku...

Kuyakin hari ini pasti menang!!!



Ya, sepenggal lirik lagu diatas yang akhir-akhir ini begitu menggema di seluruh Nusantara, muaranya hanya satu, SATU DUKUNGAN bagi para Arjuna Kebanggaan Bangsa yang saat ini sedang berjuang memeprtaruhkan nama bangsa dengan Garuda di dada kiri mereka!!

Euforia bola inilah yang mampu membangkitkan kembali rasa nasionalisme segenap rakyat Indonesia yang sudah pudar sejauh ini. Bola mengangkat martabat suatu bangsa!



Itu sejenak wejangan untuk catatan ringan ini!



Mungkin memori buruk ini masih belum bisa hilang dari memori kita semua, ketika para Arjuna kita dipecundangi Jiran, bahkan Harimau Belia itu mengalahkan kita dengan sebuah perbedaan yang begitu mencolok, 3 defisit angka harus ditempuh untuk bisa menggapai sebuah titel yang begitu bergengsi.

Ya, sah sah saja jika kita para suporter setia Garuda menyalahkan cara haram yang dilakukan suporter Jiran, ada yang menyebut menembakkan sinar laser, menaburi obat alergi gatal ketika Timnas berlatih, atau mungkin bus Timnas yang disengaja dibuat terlambat. Jika kita menyalahkan itu sepenuhnya, berarti kita belum profesional, masih belum bisa menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Dan kita pun tak perlu membalas kelakuan barbar mereka di SUGBK nanti! Suporter kita memang anarkis tapi Suporter kita masih menjunjung tinggi sportifitas!



Jika kita menelaah pada permainan yang disuguhkan dihamparan karpet hijau Bukit Jalil, kita pantas mengakui bahwa Harimau Malaya memang bermain lebih baik dari kita. Alasan politisasi sepakbola yang mengacaukan konsentrasi Timnas seperti membawa para Arjuna yang akan bertanding kesini kemari, bahkan saat itu kita belum meraih apa-apa, kita belum juara, tapi sambutannya bagaikan kita telah merengkuh trofi emas Piala Dunia. Tahukah kalian, para sampah politik? hal yang kalian lakukan sama dengan meruntuhkan semangat Arjuna kita untuk bertanding. Saya lebih setuju acara seperti itu anda lakukan ketika Timnas telah benar-benar juara, bukan juara dalam artian menang 100%. Bukan!

Arjuna kita butuh konsentrasi, mereka tak butuh jamuan makan siang yang telah merenggut konsentrasi mereka. Kau! PSSI, janganlah ikut campur dalam segala urusan pahlawan kami, berikan sepenuhnya kepada pelatih, dia lebih tahu apa yang dibutuhkan tim, kalian disana hanya datang sebagai pengacau, perusak. Cukuplah! Ini sudah terlalu berlebihan.



Kita kalah 0-3, butuh selisih 4 gol agar kita bisa benar-benar juara, ini bukan sesuatu yang mudah, Malaysia sekarang, bukan Malaysia yang ketika kita ganyang 5-1. Mereka sudah berubah, mereka belajar dari kebodohan. Jadi, para Arjuna kami janganlah merasa takut untuk bisa kembali mengganyang mereka!

Ingatkah anda Tragedi Instanbul? Kota besar Turki wilayah Eropa itu menjadi saksi bisu akan sebuah drama yang tidak kita sangka. Saat itu terjadi final Liga Champions Eropa antara Liverpool vs Milan, mungkin anda masih ingat ketika Milan unggul 3-0 di babak pertama lewat gol cepat Paolo Maldini, dan suntingan dua gol Hernan Crespo, yang memebawa Milan seakan-akan sudah meraih trofi Champions, namun di babak kedua berkat dukungan suporter Liverpool yang tak kalah fanatik dari suporter Indonesia menyanyikan lagu You'll Never Walk Alone atau mungkin Garuda Di Dadaku untuk kitanya. Hanya dalam waktu 15 menit Liverpool berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3, lewat gol Steven Gerrard menit 54, lalu tendangan jarak jauh Vladimir Smicer menit 56, dan tendangan penalti Xabi Alonso di menit 60. Bayangkan hanya 15 menit mereka berhasil menyamakan kedudukan, dan menjadi juara setelah menuntaskan drama adu penalti!

Bayangkan betapa luar biasanya motivasi dari penonton, Kita Belum Kalah, masih ada waktu 3 hari untuk brebanah dan 90 menit untuk mencetak gol dan menang! (buat yang pengen liat videonya liat dimari! )



Kita masih bisa, kita harus optimis! Jangan menyerah, memang sulit tapi jika dukungan, doa dan semnagat kita kepada Arjuna kita, bukan tak mungkin kita JUARA!!



Arjunaku berjuanglah, bawa Garuda kita semua terbang dan tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang kuat!!

Thanks for Reading!!
Budayakan Berkomentar!!

Kamis, 23 Desember 2010

Ganyang Malaysia Jilid 2

Oleh: Ashiddiq Adha

Dalam jilid 1 Garuda sukses membuat malu Harimau Malaya, tamparan keras itu ternyata tak membekas bagi Jiran, mereka telah mengintropeksi diri dan berhasil menggapai puncak meski berat jalan yang mereka tempuh, tak seperti Garuda mereka mendaki menuju puncak bagaikan berjalan diatas tol, Garuda menorehkan rekor sempurna, tak tersentuh kekalahan! Masih dalam bulan yang sama, dua negara yang suhu politiknya tidak begitu bersahabat belakangan ini kembali bertemu diatas karpet hijau, dengan misi yang sama, tak lain tak bukan ialah membawa harga diri bangsa masing-masing. 26 dan 29 Desember nanti laga besar itu akan dihelat, Kuala Lumpur pertama, dan Jakarta penutup.

Garuda mencapai Final, jika melihat pada hasil, mereka sangatlah mulus untuk sedikit lagi mengambil trofi yang selama dua tahun ini mendekap di Vietnam. Malaysia, lawan mereka di final diganyang 5-1, Laos dicukur 6-0, Thailand yang selama ini notabene menjadi pesakitan Garuda berhasil dibuat menangis 2-1, di masa yang sama Harimau Malaya membuat malu negara Indo-Cina Laos 5-1, sekaligus masuk Semi Final dikarenakan Thailand gagal mengalahkan Indonesia, jika Indonesia kalah dari Thailand, tiadalah guna 5-1 Malaysia di Palembang itu, karena mereka hanya akan menjadi pecundang. Dua hari setelah pertandingan itu warga Malaysia begitu tunduk kepada warga Indonesia, dan terkesan respek kepada Indonesian, begitu berterimakasih, tak besar kepala seperti biasanya, namun setelah itu mereka kembali berulah, dan warga Indonesia pun kembali terpancing, terjadilah peperangan mempertaruhkan harga diri bangsa masing-masing, terutama di fanpagenya AFF Suzuki Cup 2010. Hinaan kembali ditujukan kepada masing-masing negara.
Babak Semi Final pun dihelat, semi final pertama mempertemukan Malaysia dengan holder Champion Vietnam, 2 gol beruntung Safee Sali melangkahkan satu kaki Malaysia di final, mereka semakin lupa daratan. Sehari berselang, antrean tiket yang mengular di Jakarta yang bertujuan hanya satu, “DUKUNGAN KEPADA GARUDA!” mereka rela bermalam di Senayan, hanya untuk mendapatkan selembar tiket. Rombongan istana kenegaraan pun juga ikut terlibat dalam pertandingan, permintaan sang kapten Bambang Pamungkas kepada Bapak Yudhoyono, diiyakan Si nomor satu, mengingat euforia yang melanda Indonesia. Hasilnya 1-0, Garuda berhasil membuat Anjing Jalanan menelan kekalahan sebagai “tamu di rumah orang”, sebuah gol yang bisa dibilang juga sedikit beruntung, Si Uruguay-Indonesia Christian Gonzales, berhasil memberikan kemenangan lewat gol sundulannya, yang juga merupakan gol sunduluan pertama bagi Indonesia di turnamen ini. Dan Garuda berpesta Kamis itu, namun Leg kedua masih akan terbentang, mungkin saja si anjing jalannan Pinoy mampu menyalak keras di Senayan, mengalahkan riuhnya stadion 50 tahun tersebut.
Leg kedua pun dihelat, malam minggu K. Rajagobal bertamu ke My Dinh, Hanoi, dengan busana bak mengikuti kegiatan kerohanian Shalat Jumat, baju putih itu cukup menjelaskan. Dan Jiran cukup segan mengobrak abrik Hanoi, dan mereka hadir di Hanoi sebagai tamu yang baik, mereka hanya duduk manis di pertahanan mereka, dan itu membuat Tuan Rumah frustasi, negeri Paman Ho berusaha keras agar Malaysia lebih lantang di Hanoi, namun boomerang malah menimpa Vietnam, alih-alih ingin mendapat penalti dengan rebah di kotak enambelas, namun sang pengadil menganggap itu sebagai suatu yang dibuat-buat, diving dan kartu merah keluar dari kantong berlabel FIFA itu dan 10 orang melawan 11! Hingga akhir Harimau Malaya berhasil menjaga tabungan 2-0 yang sudah mereka bawa dari Kuala Lumpur tiga hari lalu. Dan mereka berhasil melaju ke final, dan berhasil membawa suatu kejutan, dengan 90% membawa pemain belia, dan ternyata sukses. Selamat buat Malaysia!
Namun di Indonesia tak kalah hebohnya, sedikit luka menyertai beberapa cerita sebelum leg kedua, penonton semakin membludak, kapasitas tiket tak banyak, namun pendistribusian tiket yang buruk membuat PSSI dan Nurdin Halid kembali menjadi sasaran empuk untuk dikambinghitaman suporter, mereka marah, merusak kantor PSSI, membakar bendera organisasi sepakbola tertinggi nasional itu, dan seperti biasa meneriakkan, “NURDIN MUNDUR!”, kalimat itu sudah sering terdengar. Dan Minggu malam itu akhirnya tiba, pamor Bachdim yang mulai tersaingi oleh ketampanan pemain naturalisasi negeri Pinoy, semisal Younghusband bersaudara, serta kiper ketiga Fulham dibelakang Mark Schwarzer dan Pascal Zuberbuehler, ada Neil Etheridge yang juga menarik perhatian, dengan wajah yang sinetron banget, serta sang masterpiece Simon McMenemy juga muncul sebagai idola malam itu. Ada yang aneh pada winning team yang diturunkan Alfred Riedl malam itu, minus Irfan Bachdim, mungkin para kaum hawa yang datang ke stadion kecewa sampai menit ke 42, bule lain pun hadir dengan Gol spektakuler kelas dunianya, Christian ‘El Loco’ Gonzales muncul menjadi idola, bahkan selebrasinya yang menciumi Garuda menjadi heboh. Gol indah WNI kemaren sore itu menjadi bukti bahwa, “Cukup satu pemain naturalisasi sudah mampu menendang sembilan pemain naturalisasi!”. Dan duel besar panas pun akan dihelat 26 Desember mendatang di Kuala Lumpur dan tiga hari setelahnya 29 Desember akan dihelat di Jakarta, kota pembuka dan penutup AFF Suzuki Cup 2010, akankah skor layaknya partai pembuka juga akan hadir? Tak ada yang tahu. Namun Alfred Riedl tetap berpikir penuh dengan mencurahkan seluruh tenaga agar Firman Utina atau Bambang Pamungkas bisa mengangkat Piala yang sudah 14 tahun berpindah tangan pada tiga negara itu. Semua harapan masyarakat Indonesia ada pada skuad Garuda. Apakah di bulan Desember ini Garuda mampu mengganyang Malaysia tiga kali, dan dua kali berturut-turut? Yang jelas kita sama-sama berdoa, agar Timnas tidak terganggu oleh faktor teknis serta non-teknis, dan bisa all-out pada 26 dan 29 Desember nanti. Dan memepersembahkan Piala AFF sebagai hadiah akhir tahun, sebagai penutup tahun yang penuh bencana bagi Indonesia.


Budayakan Berkomentar!!