Jadi ceritanya gini, bukan maksud untuk sok memotivasi atau pamer usaha. Bukan! Tapi disini saya cuma mau bercerita tentang masa kritis memetamarfosiskan diri dari siswa menjadi mahasiswa. Sumpah ya! Waktu SMU saya (mungkin semuanya) pasti pengen cepat-cepat merasakan gimana rasanya jadinya mahasiswa. Apalagi bisa lulus di Universitas Negeri di Pulau Jawa lewat jalur SNMPTN. Itu cita-cita sebagian dari kami.
Tampilkan postingan dengan label Motivation Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivation Story. Tampilkan semua postingan
Selasa, 18 Desember 2012
Rabu, 08 Juni 2011
Pentingnya Arah Hidup
"Lihat tuh si Icha, dia juara lagi kan !!" kalimat penuh komparasi ini sering menghampiri tatkala setiap akhir semester. Kalimat yang tersirat di dalamnya suatu campuk motivasi, malah aku terima sebagai ketidakadilan.
Tahun ini, adik perempuanku Annisa, menamatkan masa Sekolah Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Padang Panjang -salah satu MTsN terbaik di Sumbar-. Dia telah menyelesaikan studi beratnya selama tiga tahun, tanpa Orang Tua, dan tinggal di Asrama dengan tingkat kedispilan nan ketat, membuat dia tumbuh sebagai pribadi mandiri, berlain denganku, remaja yang masih 'manja', dulu sebelum dia menamatkan sekolah dasarnya, dia bahkan tak lebih pintar dariku menyuci baju, memyuci piring, memasang bohlam. Namun sekarang dia sudah berubah, dia menjadi lebih dewasa dariku -secara pribadi sih iya-, bahkan dia tak semenyebalkan dulu, dimana kami sering berebut nonton TV, sekarang dia sudah bisa mengalah kepada ku, abangnya -aku merasa adik baginya-, meski terkadang aku masih bersitegang, aku nonton Bola, dan dia drama Korea.
Setelah aku berpikir dengan mendengar beberapa obrolan orang tuaku mengenainya, ternyata dia adalah gadis penuh visi. Saat dia masih duduk di kelas VII, dia sudah menargetkan dirinya, agar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, mau membelinya, bukan dia yang menjual diri untuk UI. Aku membayangkan itu membuat mataku kelilipan. Boro-boro masuk Fakultas Kedokteran UI, masuk kedoktaran Unand aja susah bukan main. Dia begitu giat belajar, memang sih di sekolahnya dia tak selalu hadir sebagai yang terbaik, namun dia cukup sering berdiri dalam seremoni pemuncak kelas -aku hanya di SD dan MTs yang merasakan hal begini-.
Sabtu kemarin (4/6), siswa SMP / sederajat menerima hasil kelulusan Ujian Nasional, dia datang padaku, dan dengan gaya yang tidak menggambarkan ekspresi senang memberikan secarik kertas panjang yang sudah dipress, aku merasa di-inferior-kan melihat hasil mengagumkan nilainya, dengan Jumlah Nilai: 36,65 dari nilai makasimal 40. Dia juga dianugerahi sebagai nilai terbaik kedua di sekolahnya. Matematika-nya pun sempurna, dan Ilmu Alamnya hanya cacat pada dua soal!
Aku coba membandingkan dengan nilai-ku dulu, hanya 33,85. Nilai sepertiku membuatku menjual diri pada sekolah-sekolah.
Itulah bedanya aku dengannya, aku adalah si penikmat masa ini, yang terkadang tak terlalu memikirkan tujuan hidup, aku sudah menghapus 'Dokter' dari daftar cita-citaku, karena aku sangat tidak memahami ilmu biologi -dasar kedokteran dalam ilmu sekolah-, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suksesor Yohannes Surya saat aku sangat mencintai Ilmu Fisika, seorang Astronot, saat aku kagum pada Neil Armstrong, menjadi seorang Komikus, saat aku diadiksikan oleh komik, menjadi seorang pesepakbola saat aku menjadi pemain andalan ketika sekolah dasar, dan menjadi novelis saat aku terkesima membaca novel Andrea Hirata. Namun aku tak pernah tahu kemana jalan hidup yang akan ku tempuh suatu saat nanti. Aku tak memiliki visi yang jauh macam adikku.
Jurnalis
Aku sempat disinggung oleh kawanku, "Woi diq, ntar lo mau masuk mana tamat SMA ??"
"Sastra Indonesia, mungkin..." jawabku acuh.
"Bagus tuh, tulisan lo mantep coy.." dia menyemangatiku.
"Oh yeaahhh!!" tutupku.
Namun saat santai dengan keluarga, saudara bertanya seperti itu, aku jawab sama. Dan dia bertanya apa cita-citaku. Aku menjawab Wartawan Olahraga.
Dia menyarankanku masuk Ilmu Komunikasi, setidaknya Ilmu Komunikasi telah mencambukku dan sedikit memotivasiku untuk belajar lebih giat. Dan aku sudah memiliki visi ke depan, yang harus aku dapatkan.
---------------------------------------------------------------------------------------
Pernahkah Anda memikirkan visi Anda ke depan??
Ya, itu sangat penting, bahkan perlu guna menjadikan Anda seseorang yang bermanfaat kelak.
Tahun ini, adik perempuanku Annisa, menamatkan masa Sekolah Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Padang Panjang -salah satu MTsN terbaik di Sumbar-. Dia telah menyelesaikan studi beratnya selama tiga tahun, tanpa Orang Tua, dan tinggal di Asrama dengan tingkat kedispilan nan ketat, membuat dia tumbuh sebagai pribadi mandiri, berlain denganku, remaja yang masih 'manja', dulu sebelum dia menamatkan sekolah dasarnya, dia bahkan tak lebih pintar dariku menyuci baju, memyuci piring, memasang bohlam. Namun sekarang dia sudah berubah, dia menjadi lebih dewasa dariku -secara pribadi sih iya-, bahkan dia tak semenyebalkan dulu, dimana kami sering berebut nonton TV, sekarang dia sudah bisa mengalah kepada ku, abangnya -aku merasa adik baginya-, meski terkadang aku masih bersitegang, aku nonton Bola, dan dia drama Korea.
Setelah aku berpikir dengan mendengar beberapa obrolan orang tuaku mengenainya, ternyata dia adalah gadis penuh visi. Saat dia masih duduk di kelas VII, dia sudah menargetkan dirinya, agar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, mau membelinya, bukan dia yang menjual diri untuk UI. Aku membayangkan itu membuat mataku kelilipan. Boro-boro masuk Fakultas Kedokteran UI, masuk kedoktaran Unand aja susah bukan main. Dia begitu giat belajar, memang sih di sekolahnya dia tak selalu hadir sebagai yang terbaik, namun dia cukup sering berdiri dalam seremoni pemuncak kelas -aku hanya di SD dan MTs yang merasakan hal begini-.
Sabtu kemarin (4/6), siswa SMP / sederajat menerima hasil kelulusan Ujian Nasional, dia datang padaku, dan dengan gaya yang tidak menggambarkan ekspresi senang memberikan secarik kertas panjang yang sudah dipress, aku merasa di-inferior-kan melihat hasil mengagumkan nilainya, dengan Jumlah Nilai: 36,65 dari nilai makasimal 40. Dia juga dianugerahi sebagai nilai terbaik kedua di sekolahnya. Matematika-nya pun sempurna, dan Ilmu Alamnya hanya cacat pada dua soal!
Aku coba membandingkan dengan nilai-ku dulu, hanya 33,85. Nilai sepertiku membuatku menjual diri pada sekolah-sekolah.
Itulah bedanya aku dengannya, aku adalah si penikmat masa ini, yang terkadang tak terlalu memikirkan tujuan hidup, aku sudah menghapus 'Dokter' dari daftar cita-citaku, karena aku sangat tidak memahami ilmu biologi -dasar kedokteran dalam ilmu sekolah-, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suksesor Yohannes Surya saat aku sangat mencintai Ilmu Fisika, seorang Astronot, saat aku kagum pada Neil Armstrong, menjadi seorang Komikus, saat aku diadiksikan oleh komik, menjadi seorang pesepakbola saat aku menjadi pemain andalan ketika sekolah dasar, dan menjadi novelis saat aku terkesima membaca novel Andrea Hirata. Namun aku tak pernah tahu kemana jalan hidup yang akan ku tempuh suatu saat nanti. Aku tak memiliki visi yang jauh macam adikku.
Jurnalis
Aku sempat disinggung oleh kawanku, "Woi diq, ntar lo mau masuk mana tamat SMA ??"
"Sastra Indonesia, mungkin..." jawabku acuh.
"Bagus tuh, tulisan lo mantep coy.." dia menyemangatiku.
"Oh yeaahhh!!" tutupku.
Namun saat santai dengan keluarga, saudara bertanya seperti itu, aku jawab sama. Dan dia bertanya apa cita-citaku. Aku menjawab Wartawan Olahraga.
Dia menyarankanku masuk Ilmu Komunikasi, setidaknya Ilmu Komunikasi telah mencambukku dan sedikit memotivasiku untuk belajar lebih giat. Dan aku sudah memiliki visi ke depan, yang harus aku dapatkan.
---------------------------------------------------------------------------------------
Pernahkah Anda memikirkan visi Anda ke depan??
Ya, itu sangat penting, bahkan perlu guna menjadikan Anda seseorang yang bermanfaat kelak.
Minggu, 13 Februari 2011
Nil dan Pep part 2 (forward from SPARTACKS Cyber)
Lanjutan tulisan dari wartawan olahraga lokal Sumatera Barat yang saya forward dari SPARTACKS Cyber
oleh: Rizal Marajo
SUATU hari, seseorang dengan nomor yang tak ada dalam daftar kontak saya (.red), mengirim SMS panjang lebar, sampai-sampai ponsel butut saya tak kuat menampungnya secara utuh. Isi SMS itu menanggapi tulisan saya yang dipublikasi di harian Singgalang dan jejaring sosial, tentang sosok Nil Maizar.
Dalam tulisan itu saya menulis tentang “kekagetan” saya, ketika Nil Maizar ditunjuk jadi pelatih kepala Semen Padang. Saya mungkin juga agak usil juga, mengambil sosok Pep Guardiola sebagai referensi untuk mendorong dan menyemangati Nil dalam mengemban tugasnya itu. Supaya lebih hot, saya beri judul “Nil dan Pep”.
Inilah yang jadi masalah, “teman” saya itu kurang senang, dan tega-teganya menyempatkan diri mengirim SMS sepanjang tali baruak itu. “Mambuek berita tu nan iyo-iyo se lah Zal, jan dibandiang-bandiang loh si Nil tu jo Pep lai. Ndak pas tu doh, jauah lai mah. Jadi baban nan ka lai dek nyo tu mah,” begitu kira-kira inti SMS teman itu. Saya anggap teman, karena hati saya mengatakan dia pasti orang yang kenal baik dengan saya.
Karena saya merasa tak pernah membandingkan Nil dan Pep dalam tulisan itu, dan hanya sebatas menyodorkan referensi bernama Pep kepada Nil, agar dia bisa belajar dan menimba ilmu dari sukses lelaki Barcelona itu, maka saya hanya menjawab singkat SMS itu.
“Mungkin uda bisa baca ulang lagi tulisan itu, mudah-mudahan ketemu intinya. Kalau ketemu mungkin uda akan menyesal telah repot-repot mengirim SMS sepanjang itu kepada saya,” jawab saya via SMS juga. Setelah itu, sampai kini nomor bersangkutan tak pernah aktif lagi.
SMS itu, adalah satu dari banyak suara yang menyangsikan kemampuan Nil melatih “Kabau Sirah”. Kalau dilihat di jejaring sosial, atau hasil bincang-bincang saya dengan para insan sepakbola Kota Padang, tidak sedikit yang langsung memvonis Nil bakal gagal. “SP siap-siap kembali ke divisi I,” tulis sesorang di facebook.
Banyak juga yang memaki manajemen, dianggap goblok segala macam, karena berani-beraninya memberi tongkat komando kepada “pelatih hijau” sepeti Nil saat SP baru promosi ke Liga Super. Kemudian ada juga yang bilang, Nil belum pantas dan harus banyak belajar dulu sebelum dibercaya jadi pelatih kepala.
Saya sampai kewalahan meyakinkan publik di media atau jejaring sosial, agar mereka tak langsung “membenamkan” sebelum Nil diberi kesempatan untuk bekerja dan membuktikan diri. Padahal ini kesempatan langka bagi pelatih putra daerah untuk menangani Semen Padang. Kapan mau maju, kalau belum apa-apa sudah diremehkan, dilecehkan kemampuannya, bakan “dibunuh” secara dingin dingin.
Selain faktor itu, saya berani “pegang” Nil dan percaya dia akan mampu mengemban tugas berat dari manajemen itu, karena saya kenal Nil bukan baru sehari dua hari atau baru kenal saat melihat namanya muncul di jejaring sosial.
Saya tahu betul karakter dia, dia sosok yang mau belajar, pekerja keras, mau menerima masukan dan tidak alergi dikritik. Diluar itu, saya pun tahu, hidupnya memang diabdikannya untuk sepakbola. Dia pekerja sepakbola yang telah memilih dunia itu untuk pilihan hidupnya. Itu saja sudah memberi saya pesan khusus, dia akan mampu bekerja dengan baik.
Waktu sudah menjawab, perjuangan berat dan panjang hingga putaran pertama Indonesia Super League (ISL) berakhir bisa dilewati dengan baik. Nil tentu tidak sendiri, tapi itu hasil yang setimpal untuk kerja kerasnya beserta asistennya dan sosok yang sangat dihormatinya dibelakangnya, yakni penasehat teknis Suhatman Imam. Ditambah dukungan manajemen dan tentu saja suporter, Nil bisa membawa timnya di posisi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.
Sebagai tim promosi menduduki peringkat empat di paroh musim, cukup layak disebut sebuah prestasi. Imbasnya, SP sekarang adalah “Kuda Hitam” yang semakin diperhitungkan, dan berpotensi mengacak-acak kekuatan-kekuatan tim yang secara tradisi selama ini menguasai Liga Indonesia.
Bukan hanya soal posisi empat itu, tapi yang lebih penting dilihat, bagaimana dia membangun skuadnya jadi tim yang solid, bersemangat dan bisa memainkan sepakbola yang memikat. Tiga hal itu juga yang telah “mengundang” publik kembali ramai-ramai mendatangi Stadion H. Agus Salim Padang. Hal yang sudah lama menghilang. Hal itu pula yang membuat publik tak lagi malu-malu kucing memakai jersey Semen Padang dimuka umum.
Dulu banyak juga yang meragukan, apakah pelatih dengan reputasi masih minim seperti Nil akan punya kharisma dan wibawa dimata para pemainnya. Tapi diakui atau tidak, salah satu kunci sukses Nil adalah dia mampu menyatukan skuadnya untuk sesuatu yang disebutnya keluarga, dalam rumah yang bernama Semen Padang FC.
Sejatinya, Nil memang bukan pelatih otoriter yang pendekatannya cenderung keras pada pemain. Dia tipikal pelatih yang bisa merangkul pemainnya dengan pendekatan personal yang lebih halus, dan menyentuh sisi terdalam di hati pemain, tanpa mengabaikan disiplin.
Orang bilang, chemistry yang dia ciptakan mampu membuat pemainnya merasa sayang pada dirinya dan mau berbuat yang terbaik untuknya. “Lupakan yang terjadi hari ini, lawan Persema kita tebus,” katanya diruang ganti ketika SP menelan kekalahan lawan Arema Indonesia. Dia tidak mencak-mencak memarahi pemainnya atau berkoar di media masa menyalahkan pemainnya. Hasilnya, Persema berhasil dikalahkan.
Lawan Sriwijaya FC, kekalahan telak 5-0 tak serta merta Nil memarahi pemain yang tampil kurang darah atau lengah. Dia hanya menanyakan kepada para pemainnya soal laga berikutnya: “Untuk apa kita pergi ke Bandung? Nah, ketika semua pemainnya menyatakan ingin meraih angka, Nil hanya berkata singkat. “Kalau begitu, mari kita kerja keras lagi,”.
Simple dan sederhana, sama bersahajanya dengan penampilan Nil yang tak seperti pelatih-pelatih lain yang umumnya tampil “jaim”, arogan, bahkan terkesan angkuh dan berlagak sudah seperti Jose Mourinho atau Joachim Loew.
Well, tulisan ini bukan untuk memuji-muji Nil Maizar, tapi hanya sedikit membuka realita kecil yang ada pada dirinya. Kita tentu berharap, Nil Maizar akan tetap bisa bekerja baik sampai kompetisi selesai. Siapapun pasti berharap, Nil bisa mempertahankan, kalau perlu meningkatkan apa yang telah dicapainya di putaran pertama.
Bagaimanapun, dia baru separoh jalan bersama timnya, dia belum sampai pada finish yang bisa dijadikan parameter berhasil atau tidaknya di bekerja. Dia belum saatnya dipuji secara berlebihan, apalagi sampai membesar-besarkan namanya secara berlebihan. Masih banyak PR dalam tim yang mesti dikerjakan dan dibenahinya. Putaran kedua adalah pembuktian sesungguhnya bagi Nil Maizar.*****
*) Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang
oleh: Rizal Marajo
SUATU hari, seseorang dengan nomor yang tak ada dalam daftar kontak saya (.red), mengirim SMS panjang lebar, sampai-sampai ponsel butut saya tak kuat menampungnya secara utuh. Isi SMS itu menanggapi tulisan saya yang dipublikasi di harian Singgalang dan jejaring sosial, tentang sosok Nil Maizar.
Dalam tulisan itu saya menulis tentang “kekagetan” saya, ketika Nil Maizar ditunjuk jadi pelatih kepala Semen Padang. Saya mungkin juga agak usil juga, mengambil sosok Pep Guardiola sebagai referensi untuk mendorong dan menyemangati Nil dalam mengemban tugasnya itu. Supaya lebih hot, saya beri judul “Nil dan Pep”.
Inilah yang jadi masalah, “teman” saya itu kurang senang, dan tega-teganya menyempatkan diri mengirim SMS sepanjang tali baruak itu. “Mambuek berita tu nan iyo-iyo se lah Zal, jan dibandiang-bandiang loh si Nil tu jo Pep lai. Ndak pas tu doh, jauah lai mah. Jadi baban nan ka lai dek nyo tu mah,” begitu kira-kira inti SMS teman itu. Saya anggap teman, karena hati saya mengatakan dia pasti orang yang kenal baik dengan saya.
Karena saya merasa tak pernah membandingkan Nil dan Pep dalam tulisan itu, dan hanya sebatas menyodorkan referensi bernama Pep kepada Nil, agar dia bisa belajar dan menimba ilmu dari sukses lelaki Barcelona itu, maka saya hanya menjawab singkat SMS itu.
“Mungkin uda bisa baca ulang lagi tulisan itu, mudah-mudahan ketemu intinya. Kalau ketemu mungkin uda akan menyesal telah repot-repot mengirim SMS sepanjang itu kepada saya,” jawab saya via SMS juga. Setelah itu, sampai kini nomor bersangkutan tak pernah aktif lagi.
SMS itu, adalah satu dari banyak suara yang menyangsikan kemampuan Nil melatih “Kabau Sirah”. Kalau dilihat di jejaring sosial, atau hasil bincang-bincang saya dengan para insan sepakbola Kota Padang, tidak sedikit yang langsung memvonis Nil bakal gagal. “SP siap-siap kembali ke divisi I,” tulis sesorang di facebook.
Banyak juga yang memaki manajemen, dianggap goblok segala macam, karena berani-beraninya memberi tongkat komando kepada “pelatih hijau” sepeti Nil saat SP baru promosi ke Liga Super. Kemudian ada juga yang bilang, Nil belum pantas dan harus banyak belajar dulu sebelum dibercaya jadi pelatih kepala.
Saya sampai kewalahan meyakinkan publik di media atau jejaring sosial, agar mereka tak langsung “membenamkan” sebelum Nil diberi kesempatan untuk bekerja dan membuktikan diri. Padahal ini kesempatan langka bagi pelatih putra daerah untuk menangani Semen Padang. Kapan mau maju, kalau belum apa-apa sudah diremehkan, dilecehkan kemampuannya, bakan “dibunuh” secara dingin dingin.
Selain faktor itu, saya berani “pegang” Nil dan percaya dia akan mampu mengemban tugas berat dari manajemen itu, karena saya kenal Nil bukan baru sehari dua hari atau baru kenal saat melihat namanya muncul di jejaring sosial.
Saya tahu betul karakter dia, dia sosok yang mau belajar, pekerja keras, mau menerima masukan dan tidak alergi dikritik. Diluar itu, saya pun tahu, hidupnya memang diabdikannya untuk sepakbola. Dia pekerja sepakbola yang telah memilih dunia itu untuk pilihan hidupnya. Itu saja sudah memberi saya pesan khusus, dia akan mampu bekerja dengan baik.
Waktu sudah menjawab, perjuangan berat dan panjang hingga putaran pertama Indonesia Super League (ISL) berakhir bisa dilewati dengan baik. Nil tentu tidak sendiri, tapi itu hasil yang setimpal untuk kerja kerasnya beserta asistennya dan sosok yang sangat dihormatinya dibelakangnya, yakni penasehat teknis Suhatman Imam. Ditambah dukungan manajemen dan tentu saja suporter, Nil bisa membawa timnya di posisi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.
Sebagai tim promosi menduduki peringkat empat di paroh musim, cukup layak disebut sebuah prestasi. Imbasnya, SP sekarang adalah “Kuda Hitam” yang semakin diperhitungkan, dan berpotensi mengacak-acak kekuatan-kekuatan tim yang secara tradisi selama ini menguasai Liga Indonesia.
Bukan hanya soal posisi empat itu, tapi yang lebih penting dilihat, bagaimana dia membangun skuadnya jadi tim yang solid, bersemangat dan bisa memainkan sepakbola yang memikat. Tiga hal itu juga yang telah “mengundang” publik kembali ramai-ramai mendatangi Stadion H. Agus Salim Padang. Hal yang sudah lama menghilang. Hal itu pula yang membuat publik tak lagi malu-malu kucing memakai jersey Semen Padang dimuka umum.
Dulu banyak juga yang meragukan, apakah pelatih dengan reputasi masih minim seperti Nil akan punya kharisma dan wibawa dimata para pemainnya. Tapi diakui atau tidak, salah satu kunci sukses Nil adalah dia mampu menyatukan skuadnya untuk sesuatu yang disebutnya keluarga, dalam rumah yang bernama Semen Padang FC.
Sejatinya, Nil memang bukan pelatih otoriter yang pendekatannya cenderung keras pada pemain. Dia tipikal pelatih yang bisa merangkul pemainnya dengan pendekatan personal yang lebih halus, dan menyentuh sisi terdalam di hati pemain, tanpa mengabaikan disiplin.
Orang bilang, chemistry yang dia ciptakan mampu membuat pemainnya merasa sayang pada dirinya dan mau berbuat yang terbaik untuknya. “Lupakan yang terjadi hari ini, lawan Persema kita tebus,” katanya diruang ganti ketika SP menelan kekalahan lawan Arema Indonesia. Dia tidak mencak-mencak memarahi pemainnya atau berkoar di media masa menyalahkan pemainnya. Hasilnya, Persema berhasil dikalahkan.
Lawan Sriwijaya FC, kekalahan telak 5-0 tak serta merta Nil memarahi pemain yang tampil kurang darah atau lengah. Dia hanya menanyakan kepada para pemainnya soal laga berikutnya: “Untuk apa kita pergi ke Bandung? Nah, ketika semua pemainnya menyatakan ingin meraih angka, Nil hanya berkata singkat. “Kalau begitu, mari kita kerja keras lagi,”.
Simple dan sederhana, sama bersahajanya dengan penampilan Nil yang tak seperti pelatih-pelatih lain yang umumnya tampil “jaim”, arogan, bahkan terkesan angkuh dan berlagak sudah seperti Jose Mourinho atau Joachim Loew.
Well, tulisan ini bukan untuk memuji-muji Nil Maizar, tapi hanya sedikit membuka realita kecil yang ada pada dirinya. Kita tentu berharap, Nil Maizar akan tetap bisa bekerja baik sampai kompetisi selesai. Siapapun pasti berharap, Nil bisa mempertahankan, kalau perlu meningkatkan apa yang telah dicapainya di putaran pertama.
Bagaimanapun, dia baru separoh jalan bersama timnya, dia belum sampai pada finish yang bisa dijadikan parameter berhasil atau tidaknya di bekerja. Dia belum saatnya dipuji secara berlebihan, apalagi sampai membesar-besarkan namanya secara berlebihan. Masih banyak PR dalam tim yang mesti dikerjakan dan dibenahinya. Putaran kedua adalah pembuktian sesungguhnya bagi Nil Maizar.*****
*) Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang
Nil dan Pep (forward from SPARTACKS Cyber)

Sebuah catatan ringan yang saya forward dari seorang wartawan olahraga lokal di Sumatera Barat mengenai Head Coach Semen Padang, Nil Maizar...
oleh: Rizal Marajao
SUNGGUH, ini sebuah ‘surprise” buat saya (.red), ketika manajemen Semen Padang mengumumkan Nil Maizar sebagai “head coach” Semen Padang untuk mengharungi Indonesia Super League (ISL) 2010-11.
Semenit sebelum mulut Ketua I SP, Toto Sudibyo menyatakan hal itu, saya masih berfikir dan coba menerka-nerka siapa sosok dari “luar Indarung” yang akan datang untuk menduduki kursi yang ditinggalkan Arcan Iurie.
Sedikitpun saya tak berfikir, Nil Maizar yang duduk persis disebelah saya akan diberi kepercayaan yang begitu besar. Mungkin saya terpengaruh pernyataan Toto yang begitu meyakinkan beberapa hari sebelumnya, bahwa dia lebih tertarik memakai jasa pelatih asing.
Selain itu, saya merasa belum yakin saja, kalau manajemen berani menitipkan “Kabau Sirah” kepada Nil. Apalagi untuk kompetisi sekaliber ISL, yang tingkat persaingannya tidak main-main.
Saya bukan meragukan, apalagi meremehkan kemampuan putra Payakumbuh jebolan timnas Garuda II itu. Jauh-jauh hari saya bahkan sudah menyebutnya sebagai salah satu pelatih masa depan SP yang paling berkilau. Saya hanya merasa dia masih terlalu muda, dan ‘jam terbang” sebagai pelatih masih perlu ditambah untuk tampil sebagai peracik utama strategi tim SP.
Namun dibalik itu, saya yakin 100 persen, suatu saat Nil pasti akan duduk di kursi dambaan para mantan pemain SP yang merintis karir jadi pelatih itu. Saya memperkirakan musim depan kursi itu baru akan jadi milik Nil. Ternyata fikiran saya itu kalah cepat dengan manajemen SP. Mereka begitu yakin dan percaya diri menunjuk Nil sebagai pelatih kepala di musim pertama SP bertarung di ISL ini.
Tiba-tiba fikiran saya jauh berkelana, mundur ke tanggal 8 Mei 2008. Jauh di belahan bumi yang lain, pada tanggal itu seorang pria sebaya Nil yang bernama Josep “Pep” Guardiola menerima amanah yang nyaris sama dengan Nil saat ini. Pep saat itu diangkat menjadi pelatih Barcelona menggantikan Frank Rijkaard. Sama dengan Nil, itu adalah pengalaman pertama Pep melatih tim senior almamaternya itu.
Saya sama sekali tak hendak membandingkan Pep dengan Nil, karena hal itu sangat tidak logis. Sama tidak logisnya membandingkan sepakbola Spanyol dan Indonesia. Tapi saya bermimpi dan berharap Nil bisa menjadikan Pep sebagai sebuah insipirasi dalam bekerja sebagai pelatih SP.
Tegas dengan keputusan, itulah sikap pertama Pep. Walau dihantam kritik karena berani membuang pemain sekaliber Deco, Ronaldinho, ataupun Gianluca Zambrotta, tapi dia bisa membuktikan kebenaran keputusannya. Barca dibawanya menjuarai enam trophy semusim; Divisi Primera, Liga Champions, dan Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Super Eropa dan juara dunia antar klub.
Kemudian, sebagai pemain yang dibesarkan Barcelona, Pep memahami mentalitas dan karakter “El Barca”. Ia tahu betul, mana pemain yang tepat bagi klub atau tidak. Sejatinya Nil juga bisa seperti Pep, karena dia sudah tahu luar dalam, Semen Padang itu apa dan seperti apa.
Hal terakhir dan terpenting yang membuat Pep tercatat sebagai pelatih debutan tersukses sepanjang sejarah di Eropa, yang mungkin bisa dicontek Nil. Kepercayaan kepada pemain, kerendahan hati, keinginan untuk selalu belajar, dan tak kenal takut, adalah empat poin plus yang bisa disadap Nil.
Menang atau kalah tak ada dalam kamus Pep. Ia tidak pernah pusing hasil akhir, karena itu ditentukan banyak faktor, termasuk wasit. Itu artinya, Nil tinggal minta pada pasukannya untuk konsisten kepada ideologi dan filosofi bermain yang diajarkannya kepada pasukannya. “Well”, selamat bertugas Nil Maizar.o***
*)Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang
**)Sudah dipublish di harian singgalang, Rabu (28/7)
Originaly Post : SPARTACKS Cyber
Senin, 03 Januari 2011
[Catatan Seorang Bambang Pamungkas] Tetap Semangat Garudaku!!

Sebuah catatan yang dibuat oleh kapten Timnas Indonesia saat AFF Cup 2010 kemaren, yang di copas dari Official Website Bambang Pamungkas mengenai akhir cerita Timnas Indonesia di AFF Cup 2010 lalu...
Di hadapan 100 ribu pendukung merah-putih yg memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, air mata itu tumpah. Di saksikan oleh jutaan pasang mata yg menonton melalui layar kaca, kami kembali tersungkur. Kesedihan itu kembali menyapa, kegetiran itu kembali menghampiri, rasa pahit itu kembali harus di telan, dan kegagalan itu harus kembali kita rasakan bersama..
Beberapa pemain nampak menangis tersedu-sedu, beberapa yg lain terlihat berkaca-kaca, sisanya nampak membuang tatapan nanar, kosong seakan tidak percaya. Sungguh sangat wajar jika mereka terlihat sangat sedih dan terpukul malam itu. Setelah mengawali gelaran piala AFF ini dengan begitu impresif dan elegan, akhirnya kami harus kembali tertunduk lesu..
Mari kita sedikit menengok ke belakang. Dengan hasil 6 kemenangan dan hanya 1 kali menelan kekalahan, ternyata kami belum juga mampu membawa pulang Trophy itu ke pangkuan ibu pertiwi. Bandingkan dengan pencapaian sang juara Malaysia, yg hanya berbekal tiga kemenangan, dua kali hasil seri dan dua kali kekalahan..
Sepakbola memang penuh misteri, terkadang hasil pertandingan tidak selamanya terlihat fair dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak aneh, 3 kali kita berhadapan dengan Malaysia, dengan hasil 2 kemenangan dan 1 kekalahan, akan tetapi pada akhirnya merekalah yg keluar sebagai juara..
Aneh dan sedikit sulit di terima akal sehat bukan..?? Itulah sepakbola, Malaysia mengalami kekalahan di saat yg tepat, sedangkan kekalahan kita terjadi disaat-saat yg paling krusial dalam sebuah kejuaraan (Dan dalam skor yg juga cukup mencolok)..
Akan tetapi sekali lagi, itulah sepakbola. Sama persis dengan apa yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa: 2010), “Football is an unpredictable thing. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it”..
Sehari setelah Indonesia memastikan diri masuk final, kami sempat diundang dalam sebuah acara makan siang oleh Bpk Aburizal Barkie di kediaman beliau. Saat ramah tamah, saya sempat berbicara di depan semua yg hadir dalam acara tersebut. Dan jika saya tidak salah, acara tersebut juga di siarkan secara LIVE oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini..
Ketika itu saya berbicara demikian, “Ini bukanlah final pertama untuk kita (Indonesia), ini adalah final ke 4 setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Keberhasilan ini memang patut di rayakan, akan tetapi seharusnya tidak mengurangi fokus dan konsentrasi kita di 2 laga final, yg menurut saya sangat berat”..
Dan ternyata apa yg saya khawatirkan menjadi kenyataan. Kita sempat kehilangan konsentrasi pada pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil. Hal tersebutlah yg mengakibatkan kita harus menerima 3 gol hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Iya, bencana 15 menit yg membuat kita harus bekerja dengan sangat keras di Jakarta pada leg ke dua..
Saya kurang sependapat dengan beberapa kalangan yg menyalahkan keberadaan sinar laser di stadion Bukit Jalil, ketika itu. Iya, sinar laser tersebut memang sedikit banyak mengganggu, akan tetapi alangkah kurang bijaksana jika kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama atas kekalahan kita malam itu…
Usai pertandingan, banyak sekali pengamat (Baik yg mengerti maupun yg kurang mengerti tentang sepakbola) menyalahkan para punggawa timnas yg dalam pandangan mereka bermain sangat buruk. Beberapa pemain mendapatkan sorotan yg sangat tajam dan bahkan beberapa pemain tersebut di nilai tidak pantas berseragam merah-putih..
Bagi saya pribadi, hal tersebut sungguh sangat menggelikan. Saya memang sependapat jika beberapa pemain sempat melakukan kesalahan. Akan tetapi bukankan secara keseluruhan dalam 5 pertandingan sebelumnya, mereka telah melakukan kerja yg luar biasa bagi tim ini. Apakah anda sekalian lupa akan fakta tersebut..??
“Setiap orang yg berusaha dan bekerja dengan keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan. Sedangkan mereka yg hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah berbuat salah”
Sebagai pemimpin dari tim ini, saya tidak akan pernah membiarkan salah satu pemain tertinggal di belakang. Saya akan selalu pastikan, jika semua pemain tetap bergandengan tangan dan berjalan di garis horizontal yg sama. Seperti yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa : 2010) “Sebagai sebuah tim, kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah kalah bersama-sama”..
Dan pada akhirnya, sayalah yg akan bertanggung jawab mengenai apapun yg terjadi di dalam tim ini (Tentu di luar konteks Manager dan Pelatih kepala). Saya adalah pemain yg berbicara atas nama tim ketika konferensi pers sesaat setelah laga final digelar. Iya, saya sengaja datang dalam konferensi pers tersebut, karena itu merupakan tanggung jawab saya, sekali lagi itu merupakan tanggung jawab saya..
Saat itu, di depan seluruh wartawan baik dalam maupun luar negeri yg hadir, saya berbicara demikian:
“Awal sekali tahniah (Selamat) untuk Malaysia, yg telah berhasil memenangi gelar AFF Cup tahun ini.. Dan mengenai tim Indonesia, menurut saya tidak ada yg salah dengan tim ini, kami berhasil memenangkan pertandingan malam ini, hanya saja kami tidak mampu untuk menjadi juara.. Terima kasih atas dukungan dari semua pihak yg terkait dan selamat malam”
Diantara seluruh punggawa merah-putih, mungkin saya adalah pemain yg paling terpukul dengan kegagalan tersebut. Ini merupakan kegagalan saya untuk yg kesekian kalinya, pertandingan melawan Malaysia di final itu sendiri, adalah penampilan saya ke 86 untuk merah-putih dalam kurun waktu 11 tahun, 5 bulan, 3 minggu dan 5 hari (Tanpa ada satupun gelar tim penting yg mampu saya raih). Dan mungkin, pertandingan tersebut juga akan menjadi penampilan saya yg terakhir untuk Indonesia (Semoga saja tidak)..
Sejujurnya malam itu saya ingin menangis, akan tetapi hati kecil saya mengatakan “JANGAN”. Sebagai pemain senior, tentu saya bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh punggawa tim ini. Saya harus tetap memelihara keyakinan seluruh pemain, jika masih ada hari esok. Saya harus tetap memberi semangat kepada mereka, jika kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Saat itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tegar, walaupun sejujurnya hati saya juga retak..
Saya menepuk pundak Hamka, Maman, Markus, Nasuha, Zulkifli, Christian, Bustomi dan beberapa pemain yg lain sambil berkata, “Hey,, kita sudah melakukan yg terbaik kawan, tidak ada yg perlu di sesalkan’. Saya juga sempat memeluk Irfan Bachdim yg tengah menangis dan berkata, “It’s ok Irfan, maybe next time bro, maybe next time”. Saya juga menghampiri Arif Suyono yg nampak menangis tersedu-sedu di ujung bangku cadangan sembari berbisik, “Isin rek ketok no TV nangismu hehehe” (Malu ah loe nangis keliatan di TV itu hehehe)..
Tidak lupa, saya juga membesarkan hati Firman Utina, yg tengah merasa sangat bersalah dengan kegagalannya dalam menuntaskan tendangan 12 pas malam itu. Ketika itu saya berkata “Terlepas dari kegagalan pinalti tadi, loe udah nglakuin tugas yg luar biasa buat tim ini Man. Siapapun bisa gagal pinalti sob, gue juga sering. Loe pantes jadi pemain terbaik AFF kali ini Man, Selamat..!!”..
Saya berkewajiban membesarkan hati seluruh pemain yg sebagian besar masih berusia muda, karena mereka masih mempunyai masa depan yg sangat panjang. Di depan mereka, sudah menunggu sebuah tanggung jawab yg juga tidak kalah besar di event-event berikutnya di antarnya Sea Games, Pra Olimpiade maupun Penyisihan Piala Dunia yg akan di helat dalam waktu dekat..
Kekalahan ini memang sangat menyakitkan, akan tetapi tidak seharusnya hal tersebut diratapi dengan terlalu berlebihan. Kegagalan ini memang menyisakan kepedihan, akan tetapi hal itu jangan sampai memadamkan semangat dan mimpi kita bersama, untuk memajukan persepakbolaan negeri ini..
Karena, keyakinan itu hendaknya harus tetap ada di hati kita semua. Semangat itu harus tetap menggelora di jiwa kita bersama. Sehingga sudah seharusnya, jika kita tetap berteriak dengan lantang:
“Tetap Semangat Garudaku…!!!"
Terima kasih sudah membaca tulisan ini!!
Budayakan Berkomentar!!
Sabtu, 20 November 2010
Tukang Becak Paling Mulia Di Dunia

Cerita berikut adalah sebuah cerita yang menceritakan mulianya hati seorang tukang becak...
Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.
Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.
Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan ia dapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.
Tersentuh
Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.
Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.
Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.
Tak Menuntut Apapun
Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya. Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.
Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang tinggi yang tak terperikan.
source: kaskus.us
Gimana kisah si kakek?
Mulia kan, jadi intinya, Bersedekah itu tak perlu kaya atau miskin, yang penting adalah keikhlasannya...
Thanks for Reading!!
BUdayakan Berpendapat!!
Rabu, 17 November 2010
Kisah Motivasi, "Keteguhan Hati Seorang Tega Nugraha"
nih, ane kutip dari kaskus nih cerita, cerita yang bener-bener memotivasi ane untuk mengerti indahnya hidup...
Nih ceritanya...
hai.. nama ku Tega Nugraha. panggilan temen2 ku padaku ada yg bilang ega,ada jg yg bilang eggud. aku lahir di bandung 12-12-1990,ya aku terlahir dengan kondisi keluarga yg ekonomi nya serba kekurangan. dan aku juga tercipta dengan tampang jelek,hitam,gemuk. dan aku mempunyai penyakit yang kata Dokter sih mustahil untuk sembuh.. dan butuh uang Juta an utk menyembuhkan penyakit ku.. penyakit aneh,jarang terjadi pada manusia. dan kemungkinan utk selamat hidup 0,1%. maaf,aku tak bisa menyebutkan nya, karena aku tak ingin org lain mengasihani aku!
maaf aku lancang,aku bercerita ini karena aku tak bisa kmn-mn lagi utk bercerita, hanya kpd tmn2 kaskus aku bercerita..
jujur,aku mengetahui penyakit ku pas di saat umur ku 17tahun. penyakit yg aneh sekali,sampai2 bila penyakit kambuh,aku tak tersadar dan tiba2 tmn2 yg ada d dkt ku tertawa karena ulah tingkah laku ku. begini lah ketika penyakit ku kambu,tidak sdar,seperti org hilang ingata,tpi tak berbahaya. tidak mencelakakan org lain.

Ehhmm.. kini aku sebagai pedagang Roti Donut keliling, karena utk hidup ku.. jujur saja. aku tak punya temen sepermainan. hanya teman2 facebook lah yg selalu menemaniku.. dan aku hanya ingin ada temen yg menyemangati ku utk hidup ! walau aku sudah pasti mati.. dan aku ingin orang2 mengenalku sebagai anak normal umum nyaa..
Kata-Kata Motivasi Tega Nugraha:
- kini aku mulai mengerti, mengapa di dunia ini terjadi peperangan. karena manusia tidak akan pernah sependapat.
- Obat yang paling Murah dan Ampuh, hanya oleh sebuah senyuman
- aku menjadi seorang pedagang bukan tuk mencari untung. tapi aku mencari sebuah senyuman yg di lontarkan oleh pembeli, karena senyuman yg ikhlas itu tidak bisa di beli menurutku sih..
- "Nasi
sudah menjadi bubur ??" tidak berlaku dalam kamusku,selagi masih ada
semangat beriktiar, buktikan senyuman yang membanggakan !
- mau kamu kaya ato miskin, tampan ato jelek, yg penting hidup berguna utk keluarga, orang lain dan sekitar.. dan hidup untuk kebahagiaan
- aya memang miskin,saya jelek,tp saya msh bs bersyukur !!!
saya memang sllu jadi bahan ejekan kalian,kulit saya tak seputih kulit mu,tp saya sdar apa yg melekat di diri saya itu ciptaan TUHAN.!
Allah memberi apa yg saya butuhkan,bukan apa yg saya inginkan !!!
- setiap anak yg lahir ke bumi ini, pasti udah dibekali rencana samaTuhan sebagai pencipta.. ga ada satupun manusia yg ga bernilai di mataTuhan,
semua anak di taro di tiap keluarga dengan tujuan tertentu.. dan kita
turun ke bumi tdk sendirian, karena kita di temani sepasang Malaikat..
yaitu ibu dan ayah kita
- jujur saja...aku
lebih suka membuat wanita tertawa dari pada merayu nya dengan pujian2 yg
memabukkan...dengan mereka tertawa, aku akan dapat melihat pemandangan
terindah dari ciptaan tuhan..
- km tau buah starwberry ? terkenal dengan rasa nya yg asem... tpi kok org msh suka ya ? padahal dia tau bahwa starwberry itu asem. seperti hal nya km juga, se jelek-jelek nya sifat km, muka km. saya yakin tidak ada org yg tdk suka pada km. tetap semangat! apapun yg bsk terjadi, hadapilah dengan senyuman
- aku tidak perlu bersusah payah mendapatkan
cintamu, cukup dengan niat yang tulus dan uang seribu.
- kesehariannya
bertemankan kemiskinan, namun tidak pernah aku melihat mereka dalam
keluh kesah. yang ada hanyalah senyuman kebahagiaan. aku merasa iri
kenapa mereka begitu bahagia dalam hal itu, sedangkan diri kita.
- aku tak bisa menangis melihatmu sakit, untuk dosaku saja aku tak mampu
menangis. aku hanya bisa memojokan diri
- Aku tahu diantara kalian ada yang menilaiku hanya sepintas melalui kata dan tanya. Apapun nilaimu aku tidak peduli yang penting ibu,adik,sepupu dan tetanggaku merasa nyaman atas kehadiranku.
- biarkan mereka menilai, mau nilainya jelek atau
buruk. yang penting kita lulus dihadapan Alloh
- allah mempersiapkan, kita melakukan, don't blame god
- tanpa uang kita lupa caranya tertawa
- jantungku memang lemah, tapi otak ku kuat !!!
- Alhamdulillah.. ketika tanganku terbakar menjemput rezeki yang hanya Rp.6300 hari ini, disitulah aku mengenal sebuah perjuangan.
- cinta kita cinta biasa. jadi, tidak perlu
bersikap lebay menyikapinya. menjaga dan menghiasinya adalah menjadi
luar biasa...
- nikmatilah hidup mu...
biarkan kami yg akan selalu menjaga senyum manismu
- walau aku menjadi figuran dalam hidupmu. aku
akan menyelesaikan cerita ini dengan senyuman...
Gimana reader??
Termotivasi gak bacanya?
Kalo ane pribadi sih termotivasi banget abis bacanya.. T_T
source: kaskus
Nih ceritanya...
hai.. nama ku Tega Nugraha. panggilan temen2 ku padaku ada yg bilang ega,ada jg yg bilang eggud. aku lahir di bandung 12-12-1990,ya aku terlahir dengan kondisi keluarga yg ekonomi nya serba kekurangan. dan aku juga tercipta dengan tampang jelek,hitam,gemuk. dan aku mempunyai penyakit yang kata Dokter sih mustahil untuk sembuh.. dan butuh uang Juta an utk menyembuhkan penyakit ku.. penyakit aneh,jarang terjadi pada manusia. dan kemungkinan utk selamat hidup 0,1%. maaf,aku tak bisa menyebutkan nya, karena aku tak ingin org lain mengasihani aku!
maaf aku lancang,aku bercerita ini karena aku tak bisa kmn-mn lagi utk bercerita, hanya kpd tmn2 kaskus aku bercerita..
jujur,aku mengetahui penyakit ku pas di saat umur ku 17tahun. penyakit yg aneh sekali,sampai2 bila penyakit kambuh,aku tak tersadar dan tiba2 tmn2 yg ada d dkt ku tertawa karena ulah tingkah laku ku. begini lah ketika penyakit ku kambu,tidak sdar,seperti org hilang ingata,tpi tak berbahaya. tidak mencelakakan org lain.

Ehhmm.. kini aku sebagai pedagang Roti Donut keliling, karena utk hidup ku.. jujur saja. aku tak punya temen sepermainan. hanya teman2 facebook lah yg selalu menemaniku.. dan aku hanya ingin ada temen yg menyemangati ku utk hidup ! walau aku sudah pasti mati.. dan aku ingin orang2 mengenalku sebagai anak normal umum nyaa..
Kata-Kata Motivasi Tega Nugraha:
- kini aku mulai mengerti, mengapa di dunia ini terjadi peperangan. karena manusia tidak akan pernah sependapat.
- Obat yang paling Murah dan Ampuh, hanya oleh sebuah senyuman
- aku menjadi seorang pedagang bukan tuk mencari untung. tapi aku mencari sebuah senyuman yg di lontarkan oleh pembeli, karena senyuman yg ikhlas itu tidak bisa di beli menurutku sih..
- "Nasi
sudah menjadi bubur ??" tidak berlaku dalam kamusku,selagi masih ada
semangat beriktiar, buktikan senyuman yang membanggakan !
- mau kamu kaya ato miskin, tampan ato jelek, yg penting hidup berguna utk keluarga, orang lain dan sekitar.. dan hidup untuk kebahagiaan
- aya memang miskin,saya jelek,tp saya msh bs bersyukur !!!
saya memang sllu jadi bahan ejekan kalian,kulit saya tak seputih kulit mu,tp saya sdar apa yg melekat di diri saya itu ciptaan TUHAN.!
Allah memberi apa yg saya butuhkan,bukan apa yg saya inginkan !!!
- setiap anak yg lahir ke bumi ini, pasti udah dibekali rencana samaTuhan sebagai pencipta.. ga ada satupun manusia yg ga bernilai di mataTuhan,
semua anak di taro di tiap keluarga dengan tujuan tertentu.. dan kita
turun ke bumi tdk sendirian, karena kita di temani sepasang Malaikat..
yaitu ibu dan ayah kita
- jujur saja...aku
lebih suka membuat wanita tertawa dari pada merayu nya dengan pujian2 yg
memabukkan...dengan mereka tertawa, aku akan dapat melihat pemandangan
terindah dari ciptaan tuhan..
- km tau buah starwberry ? terkenal dengan rasa nya yg asem... tpi kok org msh suka ya ? padahal dia tau bahwa starwberry itu asem. seperti hal nya km juga, se jelek-jelek nya sifat km, muka km. saya yakin tidak ada org yg tdk suka pada km. tetap semangat! apapun yg bsk terjadi, hadapilah dengan senyuman
- aku tidak perlu bersusah payah mendapatkan
cintamu, cukup dengan niat yang tulus dan uang seribu.
- kesehariannya
bertemankan kemiskinan, namun tidak pernah aku melihat mereka dalam
keluh kesah. yang ada hanyalah senyuman kebahagiaan. aku merasa iri
kenapa mereka begitu bahagia dalam hal itu, sedangkan diri kita.
- aku tak bisa menangis melihatmu sakit, untuk dosaku saja aku tak mampu
menangis. aku hanya bisa memojokan diri
- Aku tahu diantara kalian ada yang menilaiku hanya sepintas melalui kata dan tanya. Apapun nilaimu aku tidak peduli yang penting ibu,adik,sepupu dan tetanggaku merasa nyaman atas kehadiranku.
- biarkan mereka menilai, mau nilainya jelek atau
buruk. yang penting kita lulus dihadapan Alloh
- allah mempersiapkan, kita melakukan, don't blame god
- tanpa uang kita lupa caranya tertawa
- jantungku memang lemah, tapi otak ku kuat !!!
- Alhamdulillah.. ketika tanganku terbakar menjemput rezeki yang hanya Rp.6300 hari ini, disitulah aku mengenal sebuah perjuangan.
- cinta kita cinta biasa. jadi, tidak perlu
bersikap lebay menyikapinya. menjaga dan menghiasinya adalah menjadi
luar biasa...
- nikmatilah hidup mu...
biarkan kami yg akan selalu menjaga senyum manismu
- walau aku menjadi figuran dalam hidupmu. aku
akan menyelesaikan cerita ini dengan senyuman...
Gimana reader??
Termotivasi gak bacanya?
Kalo ane pribadi sih termotivasi banget abis bacanya.. T_T
source: kaskus
"Islam Agama yang Benar" [No Sara]
cerita ini dikutip dari salah satu thread di kaskus yang bercerita mengenai seorang bocah Amerika yang diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk memilih agama sendiri...
Dan begini kisahnya...
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Dan begini kisahnya...
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Langganan:
Postingan (Atom)