Tampilkan postingan dengan label Sports. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sports. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Februari 2011

ISL Watch: Persib vs Semen Padang

Persib Maung Bandung 1-1 Semen Padang FC

Date: Wednesday, February 9th 2011
Scorer: Pablo Fances 46'; David Ngan Pagbe 14'.
Stadium: Siliwangi, Bandung, West Java.
Atadence: None
Man Of The Match: Baihakki bin Khaizan (Persib)
Line Up:
Persib:
32. Dadang Dudrajat/ 81. Markus Haris Maulana 62'
5. Maman Abdurrahman
30. Nova Arianto
3. Baihakki bin Khaizan
25. Isnan Ali
24. Hariono
8. Eka Ramdani
17. Shahril bin Ishak/ 11. Rachmat Afandi 39'
7. Atep
20. Pablo Frances
99. Christian Gonzales
Coach: Daniel Roekito.

Semen Padang XI:
69. Jandia Eka Putra
27. Tommy Rifka Putra
5. David Ngan Pagbe
20. Park Chul Hyung
11. Hengki Ardiles
23. Esteban Vizcara
10. Vendry Mofu/ 3. Saparuddin 90'
13. Muhammad Rizal
8. Elie Aiboy (c)/ 12. Dedi Hartono 70'
7. Suheri M Daud/ 98. Joshua Pahabol 89'
22. Edward Junior Wilson

Match Report:

Daniel Roekito secara megejutkan memasukkan dua nama yang santer dikabarkan akan segera hengkang yaitu Nova Arianto dan Baihakki Khaizan.

Pada pertandingan bertempo sedang tersebut, kedua tim terlihat ketat di lapangan tengah. Namun, pada menit ke-12 tim tuan rumah lengah saat Semen Padang mendapat tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Persib. Sehingga David Paige berhasil mencetak gol memanfaatkan umpan dari eksekusi tendangan bebas Ellie Aiboy.

Tertinggal satu gol membuat skuad Persib meningkatkan serangan, pada menit ke-23 umpan terukur mengarah ke Cristian Gonzales. Namun tandukan pemain tim nasional Indonesia tersebut masih dapat diantisipasi oleh Jandia Eka Putra.

Permainan Persib terlihat tidak berkembang bahkan beberapa kali terkena serangan balik yang berbahaya dari Semen Padang. Melihat hal tersebut Daniel memasukkan Rahmat Affandi menggantikan Shahril Ishak pada menit ke-39 untuk menajamkan serangan.

Pada menit ke-45, Persib memperoleh peluang emas. Persib memperoleh hadiah tendangan penalti setelah tendangan keras Isnan Ali mengenai tangan dari Tommy Rifka. Pablo Frances yang menjadi eksekutor gagal melaksanakan tugasnya, bola tendangannya melayang jauh di atas mistar Jandia.

Pada babak kedua, belum ada satu menit Persib langsung menekan dan berhasil menyamakan kedudukan melalui Pablo Frances. Gol berawal dari umpan lambung dari tengah yang dilepaskan oleh Baihakki dan dengan cerdik Pablo menanduk bola tersebut dan membuat kedudukan menjadi 1-1.

Berhasil menyamakan kedudukan membuat Persib tampil lebih percaya diri dan terus menekan Semen Padang. Pada menit ke-65 tandukan Gonzales hampir menjebol gawang Jandia, namun bola masih dapat dihalau lini pertahanan Semen Padang tepat di garis gawang.

Pada menit ke-84, melalui serangan balik Semen Padang mengancam melalui Edward Wilson. Namun sayang meskipun tinggal berhadapan dengan Markus Haris Maulana, Wilson gagal menyarangkan bola. Kedua tim gagal memanfaatkan sisa waktu untuk mencetak gol, sehingga skor 1-1 tetap bertahan sampai pertandingan usai.

source: BLI Online & GOAL.com
Coach: Nil Maizar

Nil dan Pep part 2 (forward from SPARTACKS Cyber)

Lanjutan tulisan dari wartawan olahraga lokal Sumatera Barat yang saya forward dari SPARTACKS Cyber

oleh: Rizal Marajo

SUATU hari, seseorang dengan nomor yang tak ada dalam daftar kontak saya (.red), mengirim SMS panjang lebar, sampai-sampai ponsel butut saya tak kuat menampungnya secara utuh. Isi SMS itu menanggapi tulisan saya yang dipublikasi di harian Singgalang dan jejaring sosial, tentang sosok Nil Maizar.

Dalam tulisan itu saya menulis tentang “kekagetan” saya, ketika Nil Maizar ditunjuk jadi pelatih kepala Semen Padang. Saya mungkin juga agak usil juga, mengambil sosok Pep Guardiola sebagai referensi untuk mendorong dan menyemangati Nil dalam mengemban tugasnya itu. Supaya lebih hot, saya beri judul “Nil dan Pep”.

Inilah yang jadi masalah, “teman” saya itu kurang senang, dan tega-teganya menyempatkan diri mengirim SMS sepanjang tali baruak itu. “Mambuek berita tu nan iyo-iyo se lah Zal, jan dibandiang-bandiang loh si Nil tu jo Pep lai. Ndak pas tu doh, jauah lai mah. Jadi baban nan ka lai dek nyo tu mah,” begitu kira-kira inti SMS teman itu. Saya anggap teman, karena hati saya mengatakan dia pasti orang yang kenal baik dengan saya.

Karena saya merasa tak pernah membandingkan Nil dan Pep dalam tulisan itu, dan hanya sebatas menyodorkan referensi bernama Pep kepada Nil, agar dia bisa belajar dan menimba ilmu dari sukses lelaki Barcelona itu, maka saya hanya menjawab singkat SMS itu.

“Mungkin uda bisa baca ulang lagi tulisan itu, mudah-mudahan ketemu intinya. Kalau ketemu mungkin uda akan menyesal telah repot-repot mengirim SMS sepanjang itu kepada saya,” jawab saya via SMS juga. Setelah itu, sampai kini nomor bersangkutan tak pernah aktif lagi.

SMS itu, adalah satu dari banyak suara yang menyangsikan kemampuan Nil melatih “Kabau Sirah”. Kalau dilihat di jejaring sosial, atau hasil bincang-bincang saya dengan para insan sepakbola Kota Padang, tidak sedikit yang langsung memvonis Nil bakal gagal. “SP siap-siap kembali ke divisi I,” tulis sesorang di facebook.

Banyak juga yang memaki manajemen, dianggap goblok segala macam, karena berani-beraninya memberi tongkat komando kepada “pelatih hijau” sepeti Nil saat SP baru promosi ke Liga Super. Kemudian ada juga yang bilang, Nil belum pantas dan harus banyak belajar dulu sebelum dibercaya jadi pelatih kepala.

Saya sampai kewalahan meyakinkan publik di media atau jejaring sosial, agar mereka tak langsung “membenamkan” sebelum Nil diberi kesempatan untuk bekerja dan membuktikan diri. Padahal ini kesempatan langka bagi pelatih putra daerah untuk menangani Semen Padang. Kapan mau maju, kalau belum apa-apa sudah diremehkan, dilecehkan kemampuannya, bakan “dibunuh” secara dingin dingin.

Selain faktor itu, saya berani “pegang” Nil dan percaya dia akan mampu mengemban tugas berat dari manajemen itu, karena saya kenal Nil bukan baru sehari dua hari atau baru kenal saat melihat namanya muncul di jejaring sosial.

Saya tahu betul karakter dia, dia sosok yang mau belajar, pekerja keras, mau menerima masukan dan tidak alergi dikritik. Diluar itu, saya pun tahu, hidupnya memang diabdikannya untuk sepakbola. Dia pekerja sepakbola yang telah memilih dunia itu untuk pilihan hidupnya. Itu saja sudah memberi saya pesan khusus, dia akan mampu bekerja dengan baik.

Waktu sudah menjawab, perjuangan berat dan panjang hingga putaran pertama Indonesia Super League (ISL) berakhir bisa dilewati dengan baik. Nil tentu tidak sendiri, tapi itu hasil yang setimpal untuk kerja kerasnya beserta asistennya dan sosok yang sangat dihormatinya dibelakangnya, yakni penasehat teknis Suhatman Imam. Ditambah dukungan manajemen dan tentu saja suporter, Nil bisa membawa timnya di posisi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.

Sebagai tim promosi menduduki peringkat empat di paroh musim, cukup layak disebut sebuah prestasi. Imbasnya, SP sekarang adalah “Kuda Hitam” yang semakin diperhitungkan, dan berpotensi mengacak-acak kekuatan-kekuatan tim yang secara tradisi selama ini menguasai Liga Indonesia.

Bukan hanya soal posisi empat itu, tapi yang lebih penting dilihat, bagaimana dia membangun skuadnya jadi tim yang solid, bersemangat dan bisa memainkan sepakbola yang memikat. Tiga hal itu juga yang telah “mengundang” publik kembali ramai-ramai mendatangi Stadion H. Agus Salim Padang. Hal yang sudah lama menghilang. Hal itu pula yang membuat publik tak lagi malu-malu kucing memakai jersey Semen Padang dimuka umum.

Dulu banyak juga yang meragukan, apakah pelatih dengan reputasi masih minim seperti Nil akan punya kharisma dan wibawa dimata para pemainnya. Tapi diakui atau tidak, salah satu kunci sukses Nil adalah dia mampu menyatukan skuadnya untuk sesuatu yang disebutnya keluarga, dalam rumah yang bernama Semen Padang FC.

Sejatinya, Nil memang bukan pelatih otoriter yang pendekatannya cenderung keras pada pemain. Dia tipikal pelatih yang bisa merangkul pemainnya dengan pendekatan personal yang lebih halus, dan menyentuh sisi terdalam di hati pemain, tanpa mengabaikan disiplin.

Orang bilang, chemistry yang dia ciptakan mampu membuat pemainnya merasa sayang pada dirinya dan mau berbuat yang terbaik untuknya. “Lupakan yang terjadi hari ini, lawan Persema kita tebus,” katanya diruang ganti ketika SP menelan kekalahan lawan Arema Indonesia. Dia tidak mencak-mencak memarahi pemainnya atau berkoar di media masa menyalahkan pemainnya. Hasilnya, Persema berhasil dikalahkan.

Lawan Sriwijaya FC, kekalahan telak 5-0 tak serta merta Nil memarahi pemain yang tampil kurang darah atau lengah. Dia hanya menanyakan kepada para pemainnya soal laga berikutnya: “Untuk apa kita pergi ke Bandung? Nah, ketika semua pemainnya menyatakan ingin meraih angka, Nil hanya berkata singkat. “Kalau begitu, mari kita kerja keras lagi,”.

Simple dan sederhana, sama bersahajanya dengan penampilan Nil yang tak seperti pelatih-pelatih lain yang umumnya tampil “jaim”, arogan, bahkan terkesan angkuh dan berlagak sudah seperti Jose Mourinho atau Joachim Loew.

Well, tulisan ini bukan untuk memuji-muji Nil Maizar, tapi hanya sedikit membuka realita kecil yang ada pada dirinya. Kita tentu berharap, Nil Maizar akan tetap bisa bekerja baik sampai kompetisi selesai. Siapapun pasti berharap, Nil bisa mempertahankan, kalau perlu meningkatkan apa yang telah dicapainya di putaran pertama.

Bagaimanapun, dia baru separoh jalan bersama timnya, dia belum sampai pada finish yang bisa dijadikan parameter berhasil atau tidaknya di bekerja. Dia belum saatnya dipuji secara berlebihan, apalagi sampai membesar-besarkan namanya secara berlebihan. Masih banyak PR dalam tim yang mesti dikerjakan dan dibenahinya. Putaran kedua adalah pembuktian sesungguhnya bagi Nil Maizar.*****

*) Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang

ISL Watch: Semen Padang vs Bontang

Semen Padang FC 2-2 Bontang FC

Date: Sunday, January 30th 2011
Scorer: Esteban Vizcara 42', Suheri M Daud 86'; Eka Hera 35', Kenji Adachihara 73'.
Stadium: Haji Agus Salim, Padang, West Sumatera.
Attadence: 6574
Man Of The Match: Esteban Vizcara (Semen Padang)
Referre: Ahmad Suparman
Line Up:
Semen Padang XI:
69. Jandia Eka Putra
27. Tommy Rifka Putra/ 25. Anda Hermawan
5. David Ngan Pagbe
20. Park Chul Hyung
11. Hengki Ardiles
23. Esteban Vizcara
10. Vendry Mofu
6. Yoo Hyun Koo
8. Elie Aiboy
26. Saktiawan Sinaga
22. Edward Junior Wilson
Coach: Nil Maizar

Bontang FC:
86. Edy Kurnia
21. Nyeck Nyobe
5. Aidin Elmi/ 11. Arbadin 45'
6. Handi Hamzah
20. Joko Sidik
45. Marcelino Mandagi
7. Arifki Eka Putra
27. Eka Hera/ 14. Fadhil Sausu 45'
9. Satoshi Otomo
10. Kenji Adachihara
8. Ali Khadafi (c)
Coach: Fachry Husaini.

Match Report:

Semen Padang gagal nyaris menelan kekalahan di hadapan pendukungnya sendiri setelah bermain imbang 2-2 melawan Bontang FC dalam lanjutan Superliga Indonesia 2010/11 di Stadion H Agus Salim, Minggu [30/1].

Raihan satu poin itu membuat Semen Padang tetap berada di posisi kedua klasemen sementara dengan nilai 25. Sedangkan Bontang FC tetap berada di dasar klasemen usai mengumpulkan poin lima.

Pertandingan ini diwarnai insiden diusirnya pelatih Bontang FC Fachry Husaini di pertengahan babak kedua setelah memprotes wasit terlalu keras, karena tidak menyatakan pelanggaran ketika Ali Khaddafi dilanggar pemain SP.

Kendati bermain di kandang lawan, Bontang FC tetap menerapkan permainan terbuka. Taktik itu cukup mengagetkan tuan rumah yang mengalai kesulitan menembus pertahanan tim tamu.

Laga baru berjalan lima menit, Bontang FC sudah menghadirkan ancaman di barisan belakang SP. Namun tendangan Arifki Eka Putra yang berada dalam posisi bebas masih melambung di atas mistar gawang SP.

SP selanjutnya berusaha keluar dari tekanan pemain Bontang FC. Tak berapa lama kemudian, SP mendapat peluang lewat Saktiawan Sinaga. Tapi tandukan striker Kabau Sirah itu belum menemui sasaran.

Publik tuan rumah langsung terbungkam ketika Eka Hera menjebol gawang Jandia Eka Putra pada menit ke-35. Eka yang tidak mendapat pengawalan menyambar bola muntah hasil tendangan Arifki.

Namun menjelang babak pertama usai, suporter SP bersorak kegirangan setelah Esteban Vizcarra mampu menyamakan kedudukan, karena sontekannya gagal dibendung Jandia. Skor imbang 1-1 ini menutup laga babak pertama.

Permainan terbuka tetap diperagakan SP dan Bontang FC di babak kedua. Serangan silih berganti dilakukan kedua tim, sehingga laga berlangsung cukup menarik.

Serangan yang dibangun SP mampu menghadirkan ancaman di pertahanan Bontang FC. Kiper Eddy Kurnia berhasil menggagalkan upaya Edward Wilson Junior yang melepaskan tendangan keras di kotak penalti pada menit ke-61.

Bontang FC memberikan respon dengan menyerang pertahanan SP. Hasilnya, pada menit ke-74 tim tamu kembali membuat publik SP terbungkam setelah Kenji Adachihara berhasil memanfaatkan umpan matang dari sisi kiri pertahanan tuan rumah.

Dua menit berselang, Bontang FC harus kehilangan pelatihnya setelah Fachry diganjar kartu merah. Kondisi ini membuat permainan Bontang FC menjadi labil, karena tak ada yang memberikan instruksi dari tepi lapangan.

Situasi itu dimanfaatkan SP untuk mengejar ketertinggalan. Empat menit sebelum laga usai, pemain pengganti Suheri Daud berhasil menjebol gawang Bontang FC menyambut umpan silang Edward Wilson.

Suheri kembali menjebol gawang Bontang FC pada masa injury time, namun dianulir wasit karena berada dalam posisi off-side. Pertandingan ini akhirnya diselesaikan dengan skor imbang 2-2.

source: BLI Online & GOAL.com

Nil dan Pep (forward from SPARTACKS Cyber)


Sebuah catatan ringan yang saya forward dari seorang wartawan olahraga lokal di Sumatera Barat mengenai Head Coach Semen Padang, Nil Maizar...

oleh: Rizal Marajao

SUNGGUH, ini sebuah ‘surprise” buat saya (.red), ketika manajemen Semen Padang mengumumkan Nil Maizar sebagai “head coach” Semen Padang untuk mengharungi Indonesia Super League (ISL) 2010-11.

Semenit sebelum mulut Ketua I SP, Toto Sudibyo menyatakan hal itu, saya masih berfikir dan coba menerka-nerka siapa sosok dari “luar Indarung” yang akan datang untuk menduduki kursi yang ditinggalkan Arcan Iurie.

Sedikitpun saya tak berfikir, Nil Maizar yang duduk persis disebelah saya akan diberi kepercayaan yang begitu besar. Mungkin saya terpengaruh pernyataan Toto yang begitu meyakinkan beberapa hari sebelumnya, bahwa dia lebih tertarik memakai jasa pelatih asing.

Selain itu, saya merasa belum yakin saja, kalau manajemen berani menitipkan “Kabau Sirah” kepada Nil. Apalagi untuk kompetisi sekaliber ISL, yang tingkat persaingannya tidak main-main.

Saya bukan meragukan, apalagi meremehkan kemampuan putra Payakumbuh jebolan timnas Garuda II itu. Jauh-jauh hari saya bahkan sudah menyebutnya sebagai salah satu pelatih masa depan SP yang paling berkilau. Saya hanya merasa dia masih terlalu muda, dan ‘jam terbang” sebagai pelatih masih perlu ditambah untuk tampil sebagai peracik utama strategi tim SP.

Namun dibalik itu, saya yakin 100 persen, suatu saat Nil pasti akan duduk di kursi dambaan para mantan pemain SP yang merintis karir jadi pelatih itu. Saya memperkirakan musim depan kursi itu baru akan jadi milik Nil. Ternyata fikiran saya itu kalah cepat dengan manajemen SP. Mereka begitu yakin dan percaya diri menunjuk Nil sebagai pelatih kepala di musim pertama SP bertarung di ISL ini.

Tiba-tiba fikiran saya jauh berkelana, mundur ke tanggal 8 Mei 2008. Jauh di belahan bumi yang lain, pada tanggal itu seorang pria sebaya Nil yang bernama Josep “Pep” Guardiola menerima amanah yang nyaris sama dengan Nil saat ini. Pep saat itu diangkat menjadi pelatih Barcelona menggantikan Frank Rijkaard. Sama dengan Nil, itu adalah pengalaman pertama Pep melatih tim senior almamaternya itu.

Saya sama sekali tak hendak membandingkan Pep dengan Nil, karena hal itu sangat tidak logis. Sama tidak logisnya membandingkan sepakbola Spanyol dan Indonesia. Tapi saya bermimpi dan berharap Nil bisa menjadikan Pep sebagai sebuah insipirasi dalam bekerja sebagai pelatih SP.

Tegas dengan keputusan, itulah sikap pertama Pep. Walau dihantam kritik karena berani membuang pemain sekaliber Deco, Ronaldinho, ataupun Gianluca Zambrotta, tapi dia bisa membuktikan kebenaran keputusannya. Barca dibawanya menjuarai enam trophy semusim; Divisi Primera, Liga Champions, dan Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Super Eropa dan juara dunia antar klub.

Kemudian, sebagai pemain yang dibesarkan Barcelona, Pep memahami mentalitas dan karakter “El Barca”. Ia tahu betul, mana pemain yang tepat bagi klub atau tidak. Sejatinya Nil juga bisa seperti Pep, karena dia sudah tahu luar dalam, Semen Padang itu apa dan seperti apa.

Hal terakhir dan terpenting yang membuat Pep tercatat sebagai pelatih debutan tersukses sepanjang sejarah di Eropa, yang mungkin bisa dicontek Nil. Kepercayaan kepada pemain, kerendahan hati, keinginan untuk selalu belajar, dan tak kenal takut, adalah empat poin plus yang bisa disadap Nil.

Menang atau kalah tak ada dalam kamus Pep. Ia tidak pernah pusing hasil akhir, karena itu ditentukan banyak faktor, termasuk wasit. Itu artinya, Nil tinggal minta pada pasukannya untuk konsisten kepada ideologi dan filosofi bermain yang diajarkannya kepada pasukannya. “Well”, selamat bertugas Nil Maizar.o***

*)Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang

**)Sudah dipublish di harian singgalang, Rabu (28/7)

Originaly Post : SPARTACKS Cyber


Selasa, 28 Desember 2010

Kita Belum Kalah

Garuda Di Dadaku...

Garuda Kebanggaanku...

Kuyakin hari ini pasti menang!!!



Ya, sepenggal lirik lagu diatas yang akhir-akhir ini begitu menggema di seluruh Nusantara, muaranya hanya satu, SATU DUKUNGAN bagi para Arjuna Kebanggaan Bangsa yang saat ini sedang berjuang memeprtaruhkan nama bangsa dengan Garuda di dada kiri mereka!!

Euforia bola inilah yang mampu membangkitkan kembali rasa nasionalisme segenap rakyat Indonesia yang sudah pudar sejauh ini. Bola mengangkat martabat suatu bangsa!



Itu sejenak wejangan untuk catatan ringan ini!



Mungkin memori buruk ini masih belum bisa hilang dari memori kita semua, ketika para Arjuna kita dipecundangi Jiran, bahkan Harimau Belia itu mengalahkan kita dengan sebuah perbedaan yang begitu mencolok, 3 defisit angka harus ditempuh untuk bisa menggapai sebuah titel yang begitu bergengsi.

Ya, sah sah saja jika kita para suporter setia Garuda menyalahkan cara haram yang dilakukan suporter Jiran, ada yang menyebut menembakkan sinar laser, menaburi obat alergi gatal ketika Timnas berlatih, atau mungkin bus Timnas yang disengaja dibuat terlambat. Jika kita menyalahkan itu sepenuhnya, berarti kita belum profesional, masih belum bisa menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Dan kita pun tak perlu membalas kelakuan barbar mereka di SUGBK nanti! Suporter kita memang anarkis tapi Suporter kita masih menjunjung tinggi sportifitas!



Jika kita menelaah pada permainan yang disuguhkan dihamparan karpet hijau Bukit Jalil, kita pantas mengakui bahwa Harimau Malaya memang bermain lebih baik dari kita. Alasan politisasi sepakbola yang mengacaukan konsentrasi Timnas seperti membawa para Arjuna yang akan bertanding kesini kemari, bahkan saat itu kita belum meraih apa-apa, kita belum juara, tapi sambutannya bagaikan kita telah merengkuh trofi emas Piala Dunia. Tahukah kalian, para sampah politik? hal yang kalian lakukan sama dengan meruntuhkan semangat Arjuna kita untuk bertanding. Saya lebih setuju acara seperti itu anda lakukan ketika Timnas telah benar-benar juara, bukan juara dalam artian menang 100%. Bukan!

Arjuna kita butuh konsentrasi, mereka tak butuh jamuan makan siang yang telah merenggut konsentrasi mereka. Kau! PSSI, janganlah ikut campur dalam segala urusan pahlawan kami, berikan sepenuhnya kepada pelatih, dia lebih tahu apa yang dibutuhkan tim, kalian disana hanya datang sebagai pengacau, perusak. Cukuplah! Ini sudah terlalu berlebihan.



Kita kalah 0-3, butuh selisih 4 gol agar kita bisa benar-benar juara, ini bukan sesuatu yang mudah, Malaysia sekarang, bukan Malaysia yang ketika kita ganyang 5-1. Mereka sudah berubah, mereka belajar dari kebodohan. Jadi, para Arjuna kami janganlah merasa takut untuk bisa kembali mengganyang mereka!

Ingatkah anda Tragedi Instanbul? Kota besar Turki wilayah Eropa itu menjadi saksi bisu akan sebuah drama yang tidak kita sangka. Saat itu terjadi final Liga Champions Eropa antara Liverpool vs Milan, mungkin anda masih ingat ketika Milan unggul 3-0 di babak pertama lewat gol cepat Paolo Maldini, dan suntingan dua gol Hernan Crespo, yang memebawa Milan seakan-akan sudah meraih trofi Champions, namun di babak kedua berkat dukungan suporter Liverpool yang tak kalah fanatik dari suporter Indonesia menyanyikan lagu You'll Never Walk Alone atau mungkin Garuda Di Dadaku untuk kitanya. Hanya dalam waktu 15 menit Liverpool berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3, lewat gol Steven Gerrard menit 54, lalu tendangan jarak jauh Vladimir Smicer menit 56, dan tendangan penalti Xabi Alonso di menit 60. Bayangkan hanya 15 menit mereka berhasil menyamakan kedudukan, dan menjadi juara setelah menuntaskan drama adu penalti!

Bayangkan betapa luar biasanya motivasi dari penonton, Kita Belum Kalah, masih ada waktu 3 hari untuk brebanah dan 90 menit untuk mencetak gol dan menang! (buat yang pengen liat videonya liat dimari! )



Kita masih bisa, kita harus optimis! Jangan menyerah, memang sulit tapi jika dukungan, doa dan semnagat kita kepada Arjuna kita, bukan tak mungkin kita JUARA!!



Arjunaku berjuanglah, bawa Garuda kita semua terbang dan tunjukkan pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang kuat!!

Thanks for Reading!!
Budayakan Berkomentar!!

Kamis, 23 Desember 2010

Ganyang Malaysia Jilid 2

Oleh: Ashiddiq Adha

Dalam jilid 1 Garuda sukses membuat malu Harimau Malaya, tamparan keras itu ternyata tak membekas bagi Jiran, mereka telah mengintropeksi diri dan berhasil menggapai puncak meski berat jalan yang mereka tempuh, tak seperti Garuda mereka mendaki menuju puncak bagaikan berjalan diatas tol, Garuda menorehkan rekor sempurna, tak tersentuh kekalahan! Masih dalam bulan yang sama, dua negara yang suhu politiknya tidak begitu bersahabat belakangan ini kembali bertemu diatas karpet hijau, dengan misi yang sama, tak lain tak bukan ialah membawa harga diri bangsa masing-masing. 26 dan 29 Desember nanti laga besar itu akan dihelat, Kuala Lumpur pertama, dan Jakarta penutup.

Garuda mencapai Final, jika melihat pada hasil, mereka sangatlah mulus untuk sedikit lagi mengambil trofi yang selama dua tahun ini mendekap di Vietnam. Malaysia, lawan mereka di final diganyang 5-1, Laos dicukur 6-0, Thailand yang selama ini notabene menjadi pesakitan Garuda berhasil dibuat menangis 2-1, di masa yang sama Harimau Malaya membuat malu negara Indo-Cina Laos 5-1, sekaligus masuk Semi Final dikarenakan Thailand gagal mengalahkan Indonesia, jika Indonesia kalah dari Thailand, tiadalah guna 5-1 Malaysia di Palembang itu, karena mereka hanya akan menjadi pecundang. Dua hari setelah pertandingan itu warga Malaysia begitu tunduk kepada warga Indonesia, dan terkesan respek kepada Indonesian, begitu berterimakasih, tak besar kepala seperti biasanya, namun setelah itu mereka kembali berulah, dan warga Indonesia pun kembali terpancing, terjadilah peperangan mempertaruhkan harga diri bangsa masing-masing, terutama di fanpagenya AFF Suzuki Cup 2010. Hinaan kembali ditujukan kepada masing-masing negara.
Babak Semi Final pun dihelat, semi final pertama mempertemukan Malaysia dengan holder Champion Vietnam, 2 gol beruntung Safee Sali melangkahkan satu kaki Malaysia di final, mereka semakin lupa daratan. Sehari berselang, antrean tiket yang mengular di Jakarta yang bertujuan hanya satu, “DUKUNGAN KEPADA GARUDA!” mereka rela bermalam di Senayan, hanya untuk mendapatkan selembar tiket. Rombongan istana kenegaraan pun juga ikut terlibat dalam pertandingan, permintaan sang kapten Bambang Pamungkas kepada Bapak Yudhoyono, diiyakan Si nomor satu, mengingat euforia yang melanda Indonesia. Hasilnya 1-0, Garuda berhasil membuat Anjing Jalanan menelan kekalahan sebagai “tamu di rumah orang”, sebuah gol yang bisa dibilang juga sedikit beruntung, Si Uruguay-Indonesia Christian Gonzales, berhasil memberikan kemenangan lewat gol sundulannya, yang juga merupakan gol sunduluan pertama bagi Indonesia di turnamen ini. Dan Garuda berpesta Kamis itu, namun Leg kedua masih akan terbentang, mungkin saja si anjing jalannan Pinoy mampu menyalak keras di Senayan, mengalahkan riuhnya stadion 50 tahun tersebut.
Leg kedua pun dihelat, malam minggu K. Rajagobal bertamu ke My Dinh, Hanoi, dengan busana bak mengikuti kegiatan kerohanian Shalat Jumat, baju putih itu cukup menjelaskan. Dan Jiran cukup segan mengobrak abrik Hanoi, dan mereka hadir di Hanoi sebagai tamu yang baik, mereka hanya duduk manis di pertahanan mereka, dan itu membuat Tuan Rumah frustasi, negeri Paman Ho berusaha keras agar Malaysia lebih lantang di Hanoi, namun boomerang malah menimpa Vietnam, alih-alih ingin mendapat penalti dengan rebah di kotak enambelas, namun sang pengadil menganggap itu sebagai suatu yang dibuat-buat, diving dan kartu merah keluar dari kantong berlabel FIFA itu dan 10 orang melawan 11! Hingga akhir Harimau Malaya berhasil menjaga tabungan 2-0 yang sudah mereka bawa dari Kuala Lumpur tiga hari lalu. Dan mereka berhasil melaju ke final, dan berhasil membawa suatu kejutan, dengan 90% membawa pemain belia, dan ternyata sukses. Selamat buat Malaysia!
Namun di Indonesia tak kalah hebohnya, sedikit luka menyertai beberapa cerita sebelum leg kedua, penonton semakin membludak, kapasitas tiket tak banyak, namun pendistribusian tiket yang buruk membuat PSSI dan Nurdin Halid kembali menjadi sasaran empuk untuk dikambinghitaman suporter, mereka marah, merusak kantor PSSI, membakar bendera organisasi sepakbola tertinggi nasional itu, dan seperti biasa meneriakkan, “NURDIN MUNDUR!”, kalimat itu sudah sering terdengar. Dan Minggu malam itu akhirnya tiba, pamor Bachdim yang mulai tersaingi oleh ketampanan pemain naturalisasi negeri Pinoy, semisal Younghusband bersaudara, serta kiper ketiga Fulham dibelakang Mark Schwarzer dan Pascal Zuberbuehler, ada Neil Etheridge yang juga menarik perhatian, dengan wajah yang sinetron banget, serta sang masterpiece Simon McMenemy juga muncul sebagai idola malam itu. Ada yang aneh pada winning team yang diturunkan Alfred Riedl malam itu, minus Irfan Bachdim, mungkin para kaum hawa yang datang ke stadion kecewa sampai menit ke 42, bule lain pun hadir dengan Gol spektakuler kelas dunianya, Christian ‘El Loco’ Gonzales muncul menjadi idola, bahkan selebrasinya yang menciumi Garuda menjadi heboh. Gol indah WNI kemaren sore itu menjadi bukti bahwa, “Cukup satu pemain naturalisasi sudah mampu menendang sembilan pemain naturalisasi!”. Dan duel besar panas pun akan dihelat 26 Desember mendatang di Kuala Lumpur dan tiga hari setelahnya 29 Desember akan dihelat di Jakarta, kota pembuka dan penutup AFF Suzuki Cup 2010, akankah skor layaknya partai pembuka juga akan hadir? Tak ada yang tahu. Namun Alfred Riedl tetap berpikir penuh dengan mencurahkan seluruh tenaga agar Firman Utina atau Bambang Pamungkas bisa mengangkat Piala yang sudah 14 tahun berpindah tangan pada tiga negara itu. Semua harapan masyarakat Indonesia ada pada skuad Garuda. Apakah di bulan Desember ini Garuda mampu mengganyang Malaysia tiga kali, dan dua kali berturut-turut? Yang jelas kita sama-sama berdoa, agar Timnas tidak terganggu oleh faktor teknis serta non-teknis, dan bisa all-out pada 26 dan 29 Desember nanti. Dan memepersembahkan Piala AFF sebagai hadiah akhir tahun, sebagai penutup tahun yang penuh bencana bagi Indonesia.


Budayakan Berkomentar!!

Minggu, 05 Desember 2010

Rio Ferdinand sudah keranjingan Twitter, dan mengikuti sepak terjang Indonesia di AFF Cup 2010


Siapa aja sekarang udah kecanduan ama yang namanya jejaring dunia maya, dulu-dulu banget ada Mailinglist abis itu muncul Friendster dan My Space sekarang banyak netter yang udah keranjingan Facebook dan Twitter tak terkecuali pesepakbola, salah satunya Rio Ferdinand.
Bek tengah MU ini memanfaatkan akses twitter untuk mengikuti sepak tejang Indonesia di Piala AFF 2010 ini...

Rio Ferdinand adalah salah satu pemain bola yang aktif berkicau di twitter dengan account resminya @rioferdy5, bahkan Rio mengungkapkan bahwa dia benar-benar sudah kecanduan berkicau di twitter.

Disamping itu Ferdinand juga menyaksikan sepak terjang Timnas Indonesia di AFF Cup lewat twitfam, salah satu media twitter. Dan berikut beberapa kicauan sang maestro mengenai sepak terjang GARUDA di AFF Cup 2010.

"Just saw that Indonesia beat Malaysia 2-1, my Indonesian twitfam must be very happy right now!"

Itu adalah ungkapan Ferdy saat Indonesia membekuk Malaysia, akhirnya Rio tahu bahwa Indonesia menang 5-1 lewat salah satu followernya asal Bandung.


Indonesai just won 6-0....why do I know this...1 reason - Twitter (twitfam)!! They are gonna paaaaarty!!"
(Indonesia menang 6-0....bagaimana saya bisa tahu soal ini...1 alasan - Twitter (twitfam)!! Mereka akan berpestaaaa!!!)

Itulah salah satu kicauan dan bukti bahwa Ferdinand juga mengikuti sepak terjang Indonesia di AFF 2010 kali ini.


Thanks for Reading!!

Kamis, 02 Desember 2010

Sukses Ganyang Malaysia 5-1


Malam itu aku berlarian penuh semangat menuju rumah dan segera menatapi layar kaca tentulah untuk menyaksikan buah tangan dingin Alfred Riedl dalam debut resmi pertamanya dalam pertandingan berlabel turnamen bersama Gardua. Perasaan senang beraduk cemas mengelabuiku malam itu, karena aku tahu bahwa Thailand gagal menekuk Laos, aku kembali dari menonton pertandingan itu dari warung internet, dan yang membuatku cemas, apakah semangat yang sudah ku koar-koarkan selama tiga hari terakhir, “GANYANG MALAYSIA”, baik di rumah, sekolah ataupun jejaring sosial.

Duduk diatas permadani yang terbentang, hamparan rumput hijau Bung Karno, Senayan serta semangatnya menyanyikan “Indonesia Raya” di rumah bersama kakakku, dia menemaniku hanya karena menunggu idolanya, Irfan Haarys Bachdim. Sang pengadil meniup pluit kick off, maka dimulailah suatu pertandingan yang didedikasikan untuk mempertaruhkan harga diri bangsa, yang belakangan ini sudah dikotori oleh jiran kami itu. Jelaslah, Bung Karno, kekuatan fans adalah nilai lebih Indonesia dari dulu-dulunya, malah pemain keduabelas inilah yang membuat lawan lebih cemas dibanding kecemasan terhadap sebelas pemeran utama yang akan bertumpah peluh di atas karpet hijau itu sembilan puluh menit kedepan. Aku sangat puas ketika dua menit medio kick off, gempuran GARUDA nyaris membuat seisi Bung Karno riuh dengan sorakan, itulah peluang pertama Indonesia dari pemain yang tak ada ikatan apapun dengan Indonesia, namun rasa nasionalismenya melebihi rasa nasionalisme rakyat yang sudah tulen Indonesia, dialah pemain naturalisasi pertama Indonesia, Cristian ‘El Loco’ Gonzales, rasa grogi jelas masih ia rasakan sehingga skor saat itu masih 0-0. 10 menit berlalu, GARUDA masih dengan kekuatannya mampu menekan Malaysia, namun aku dikejutkan lewat sebuah counter-attack yang rapi, plus kesalahan Hamka Hamzah, memberikan pil pahit bagi Markus yang baru saja mempersunting gadis yang bergelut di dunia keartisan, dan GOOL!! Malaysia mengejutkan seisi Bung Karno, dan aku semakin cemas, dan akan berpikir bahwa esok hari hujatan dari warga jiran akan semakin membuat malu negeri yang kucinta ini, Malaysia 1-0 Indonesia.
Tak butuh masa lama bagi GARUDA untuk menahan malu, crossing fullback Moh. Nasuha, yang awalnya akan dikirim kepada idola kakakku, Bachdim, namun Asra malah membelokkan si bola menuju gawang sendiri, cukuplah 1-1 dan aku semakin optimis karena aku memprediksi pertandingan akan berakhir 4-1, tak lama setelah itu, El Loco, menambah gol bagi kami Indonesia, insting gol yang tiada batas dari WNI kemaren sore ini memberikan keunggulan pertama Indonesia di AFF 2010 ini. Dan babak 1 berakhir dengan keunggulan 2-1 bagi GARUDA, namun melihat permainan Indonesia masih jauh dari kata memuaskan.
Babak 2, GARUDA makin menggila, keharmonisan kaki ke kaki, bermuara pada gol ketiga dari Mohd. Ridwan, kerjasamanya dengan sang Idola, Irfan Haarys Bachdim memberikan sebuah gol yang sangat indah, indah gol ini bisa dilihat dari prosesnya, Begitu indah, senyum indah tergambar dari wajah kakekku, serta kakakku yang tak henti-hentinya meneriakkan, “Bachdim... Bachdim...”. GARUDA semakin terbang jauh ketika keputusan Alfred Riedl menarik scorer Mohd. Ridwan dan memasukkan Arif Suyono, tak perlu lama-lama bagi supersub ini untuk mencicipi kerasnya permainan, beberapa menit setelah Suyono masuk, ia berhasil menyarankan bola ke gawang Jiran untuk keempat kalinya bagi Indonesia, permainan Indonesia semakin indah – tak seperti biasanya, semakin menua usia permainan maka semakin lemahlah fisiknya pemain-- namun ini tidak, sungguh berlawanan dari biasanya. Ketika usia permainan akan ditutup, sebuah umpan yang memukau dari anak kecil dari Timur, Okto Maniani memberikan kemudahan bagi kakakku untuk bersorak, “Bachdim... Selain ganteng, kamu hebat juga ya!!”, dia menutup pertandingan 5-1 bagi Indonesia, Irfan Haarys Bachdim.
Mereka boleh mengklaim batik punya mereka, pendet punya mereka, namun kemenangan malam ini, mereka tidak bisa mengklaim, sebab dunia sudah tahu. Dan aku lega dengan hasil akhir ini, karena esok pastinya hujatan dari warga Jiran kepada bangsa kami, tidak akan terjadi, karena kami menang besar atas mereka!!!


Thanks for Reading!!

Minggu, 28 November 2010

Akhir Tahun yang manis bagi Kabau Sirah


Saktiawan Sinaga berhasil mengakhiri paceklik golnya lewat sebuah tendangan kaki kiri yang berhasil menjadikan gol perdananya di Indonesia Super League (ISL) msuim ini...

Strategi bertahan yang diterapkan Semen Padang dan akan keluar menyerang setelah menemukan celah yang diutarakan Uda Nil Maizar sebelum pertandingan kick off!! berhasil memberikan kado indah akhir tahun bagi Semen Padang, sekaligus menghadirkan kekalahan pertama di kandang bagi Juku Eja PSM Makassar.

Di awal pertandingan sebuah insiden terjadi, bermula dari sebuah corner kick, Goran Subara yang bermaksud menanduk bola, malah menanduk kepala pemain Semen Padang, David Ngan Pagbe, yang berakibat pada kejang-kejangnya Goran dan keluarnya busa dari mulut Goran dan Goran pun harus dilarikan ke Rumah Sakit, sementara Pagbe masih sanggup bermain. Menurut Informasi terakhir Goran selamat dari kejadian naas tersebut.

25 menit ditekan Semen Padang mulai keluar menyerang, akibatnya sebuah tendangan Esteban Vizcara nyaris membobol gawang Denny Marcel di menit ke 27, dua menit berselang Esteban kembali nyaris memboblo gawang tuan rumah, namun sepakannya masih emebentur mistar atas gawang. Dan satu menit berselang sebuah kerja sama apik pemain Kabau Sirah, dan Dedi Hartono gagal memberikan gol, karena tendangan pemain asli Minang itu masih terlalu lemah.

PSM sempat mencetak gol lewat Andi Odank, namun Anaoure Obiora lebih dahulu terperangkap offside dan amanlah keperawanan gawang Jandia Eka Putra.

Di babak 2, strategi yang sama masih di terapkan Kabau Sirah, dan PSM mulai berani menekan Semen Padang, namun di menit 59 sebuah crossing Esteban Vizcara melaju diatas tanah dan tendangan Saktiawan Sinaga berhasil lewat diantara kaki dari Denny Marcel, dan Semen Padang leading 1-0. Beberapa menit setelah mencetak gol, Sakti harus ditandu keluar dan digantikan oleh eks-PSM Herru Nerly.

Beberapa menit setelah itu David Pagbe menyentuh bola dengan tangannya di kotak penalti, namun wsit Aeng Suarlan tidak melihat kejadian itu dan Semen Padang lepas dari hukuman penalti. Setelah kejadian itu penonton di stadion Andi Matalata mulai melemparkan benda-benda ke lapangan, puncaknya di menit ke 86, ketika para penonton merusak pagar pembatas dan masuk ke Stadion, penonton saling tawuran dengan aparat kepolisian, dan pertandingan dinyatakan usai dengan kemenangan 1-0 bagi Semen Padang.

Untuk sementara Semen Padang naik ke peringkat 4 dengan 17 poin, sementara PSM masih aman di posisi kdua dengan 19 poin.


Rapor Pemain Semen Padang:
69. Jandia Eka Putra (6.5)
11. Hengky Ardiles (6.0)
5. David Pagbe (7.0)
20. Park Chul Hyung (6.5)
27. Tommy Rifka Putra (5.5)
12. Dedi Hartono (6.0)
13. M Rizal (6.0)
6. Yuu Hyun Koo (7.0)
23. Esteban Vizcara (7.5)
26. Saktiawan Sinaga (7.0)
22. Edward Wilson (6.5)


Thanks for Raeding!!
Leave your Comment!!

Goodbye Guangzhou, Welcome Incheon 2014


Pesta multievents olahraga se-Asia resmi ditutup kemaren (23/11), dimana upacara penutupan berlangsung sangat meriah, dan memunculkan Host China sebagai juara umum dengan sabetan 199 emas, 119 perak dan 98 perunggu, sebuah pencapaian yang luar biasa dari negara tirai bambu ini, mereka mampu meninggalakan jauh sang runner-up Korea Selatan yang hanya mampu menyabet 76 emas, 65 perak, dan 91 perunggu.
Bagaimana dengan Indonesia??

"Ini adalah Asian Games yang paling spektakuler sepanjang sejarah!!" pujian itu terucap dari mulut Sheikh Ahmad Al-Fahad Al-Sabah, Presiden Olympic Council. Benar! Pergelaran kali ini memang sangat sensasional, Guangzhou yang ditunjuk menjadi tuan rumah, benar-benar telah menunaikan tugasnya dengan begitu maksimal, dan hasil bisa kita lihat.
Pada upacara penutupan, berbagai atraksi digelar. Perbedaan budaya di Asia direpresentasikan dalam musik dan tari-tarian yang berasal dari India, Lebanon, Jepang, Kazakhstan dan Mongolia.
Dan untuk 2014 Incheon di Republik Korea Selatan siap menggelar multievents ini, dan sebelumnya di 2002 Korea juga telah menjadi tuan rumah, saat itu kota Busan lah yang menjadi host.

Indonesia sendiri menutup Asian Games ini finish di posisi 15 dengan kumpulan 4 emas, 9 perak dan 13 perunggu. 3 emas kontingen Indonesia diperoleh dari cabang Dragon Boat, nomor 250 meter, 500 meter dan 1000 meter putra, dan satu emas lagi disumbang pasangan ganda putra Bulutangkis Markis Kido/Hendra Setiawan yang 2008 lalu juga sukses meraih emas di Olimpiade Beijing.
Sementara Cabang Perahu Naga yang diprediksi tak akan berbuat apa-apa malah menjadi cabang yang menyelamatkan muka Indonesia di Asian Games kali ini dengan sumbangan 3 emas dan 3 perak.
Dalam rangking di regional Asia Tenggara Indonesia masih kalah dari Thailand dan negeri jiran Malaysia, Thailand finish di posisi 9 dengan 11 emas, 9 perak dan 31 perunggu dan Malaysia di posisi 10 dengan 9 emas, 18 perak dan 14 perunggu.

Meski demikian, Ketua Umum Komite Olahraga Nasional (KONI) Pusat Rita Subowo menyambut baik. Pasalnya, Asian Games kali ini, Indonesia mengalami peningkatan dalam perolehan medali. Jika di Asian Games 2006 Doha, Qatar, Indonesia hanya mampu memperoleh 2 emas, 2 perak, dan 15 perunggu.

"Ini upaya peningkatan prestasi yang baik. Tapi, Indonesia harus tetap lebih giat lagi membangun olahraga," kata Rita.

Semoga Indonesia mampu meningkatkan prestasinya di Incheon 4 tahun mendatang, sebelum itu ujian menanti 2011 mendatang di ajang South East Asian Games (SEAG) di Sumatera Selatan.


Thanks for Reading!!
Leave your Comment!!

Selasa, 23 November 2010

Syamsir Alam dan Mochamad Zainal Haq RESMI berkostum Penarol


Kabar gembira kini menyelimuti persepakbolaan Nasional, kabar bahwa 2 pemain masa depan Indonesia yang kini bermain di Indonesia SAD di Uruguay, resmi di kontrak tim raksasa lokal Uruguay, CA Penarol, 2 Pemin itu adalah Syamsir Alam dan Mochamad Zainal Haq...

Sejarah baru ditorehkan oleh dua pemain tim SAD Indonesia yang telah tiga tahun berkompetisi di Uruguay. Syamsir Alam dan Mochammad Zainal Haq resmi menjadi anggota baru klub CA Penarol, salah satu klub elit di Uruguay pada musim kompetisi 2011.

“ Ini adalah sejarah baru bagi persepakbolaan Indonesia. Kedua pemain ini adalah pemain Indonesia pertama yang dikontrak klub Amerika Latin, “ kata Demis Djamaoeddin, Manajer Program Uruguay Project, di sekretariat PSSI, Senin (22/11).

Masih menurut Demis, proses perekrutan Syamsir dan Zainal Haq oleh CA Penarol cukup panjang. Proses pemantauan terhadap pemain timnas SAD Indonesia telah dilakukan sejak mereka mulai bermain di kompetisi U16 Uruguay, (saat ini bermain di kompetisi U19 Uruguay).

Tak hanya itu, beberapa kali juga dilakukan pertemuan antara pengelola timnas SAD Indonesia dengan klub CA Penarol selama berada di Uruguay. Pertemuan ini tidak hanya membahas masalah non teknis, akan tetapi juga masalah teknis seperti perkembangan pemain, metode latihan, observasi pertandingan dan lain sebagainya.

“ Kedua pemain tersebut diharapkan dapat berkumpul dengan klub barunya pada tanggal 15 Januari 2011 untuk menjalani latihan pertama sekaligus tes lanjutan untuk menentukan di kompetisi mana nantinya mereka akan bermain,” papar Demis.

Tes seperti ini memang lazim dilakukan oleh klub di Uruguay. Mereka memang sudah pasti tampil bersama CA Penarol dalam Liga Uruguay U19 2011. Namun, jika dalam tes tersebut menunjukkan performa yang bagus, tak tertutup kemungkinan mereka juga masuk dalam skuad senior tim Penarol di Liga Uruguay.

Kabar gembira ini disambut suka cita oleh pengurus PSSI. Ini juga sekaligus membuktikan bahwa pemain Indonesia mampu untuk menjadi pemain yang berkualitas. Sekaligus juga membuktikan bahwa program pelatihan di Uruguay adalah program yang sungguh-sungguh dan dilakukan dengan penanganan manajemen kepelatihan yang tertata baik dan didukung oleh unsur – unsur kesehatan, nutrisi dan manajemen organisasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

source: situs resmi PSSI

Thanks for Reading!!
Budayakan Berkomentar!!

Tiang Gawang gagalkan rentetan kemenangan Tandang Semen Padang


Judul tulisan saya ini sangatlah mengutamakan faktor non-teknis dari kegagalan Semen Padang di partai tandang saat menghadapi Persiba Balikpapan, di Stadion Persiba..

Sore ini (23/11), Semen Padang bertamu ke Balikpapan untuk menjalani partai ketujuhnya di Indonesia Super League, hadir dengan kekuatan penuh dan stamina fit, menjadi modal bagi Semen Padang untuk mewujudkan ekspektasi pelatih yaitu mencuri poin di Balikpapan.
Di awal pertandingan Semen Padang bermain lamban, pun dengan Persiba, namun sebuah kejeniusan dari second line Semen Padang untuk mengirimkan umpan tusukan kepada sang icon Edward Junior Wilson, ketenangan sang-bomber dalam melakukan sprint sangatlah sempurna, sliding yang dilakukan Mijo Dadic si nomor 20, tak menghancurkan semangat Edward, sebuah ketenangan dalam eksekusinya mengecoh Galih Sudaryono dan membawa Semen Padang leading 1-0 di menit 5, menambah golnya mejadi 7 musim ini.
Seepuluh menit berlalu, pertahanan yang longgar di pertahanan kiri Persiba membuat El-Capitano Elie Aiboy mudah mengirimkan umpan terukur kepada si legam, sundulannya untuk menambah golnya, digagalkan oleh tiang gawang, pantulan bola keluar membuat harpan Semen Padang untuk menjauh gagal.
Setelah pertandingan berlangsung membosakan, baik Semen Padang maupun Persiba cenderung bermain lamban.
Di akhir babak pertama, The Supersub Persiba, Eki Nurhakim masuk menggantikan Sutan Samma, di babak pertama peran Eki belum terlihat.

Babak 2.
Teknik Sepakbola khas Indonesia pun iterapkan Semen Padang yaitu 'bertahan ketika leading'. Ini sangatlah riskan, pola seperti ini membuat Persiba mudah mengrimkan umpan-umpan ke jantung pertahanan Kabau Sirah.
Puncaknya di menit 58, sebuah bola kiriman menuju gawang Semen Padang, kontrol kurang sempurna, eks-kiper Timnas, Samsidar membuat bola membentur mistar gawang, dan bola yang begitu ingin masuk lapangan, memudahkan Eki Nurhakim menyamakan kedudukan, karena posisi Samsidar yang sudah terkecoh karena pengaruh tiang gawang, di tiang gawang yang sama kemurkaan terjadi bagi Semen Padang, di tiang gawang itulah Esward gagal mencetak gol, dan karena tiag itulah Persiba mampu menyamakan angka.
Mungkin orang Minang mengutuk tiang itu!!!
Beberapa menit setelah gol itu, Semen kembali mulai menyerang, puncaknya ketika placing bola dari Esteban Vizcara menuju tiang juah, nyaris mengahdirkan petaka bagi Beruang Madu, namun tiang gawang kembali menjadi tembok terahir pertahanan beruntung Persiba.

Di menit 82, cedera menghampiri sang portiere andalan, Samsidar, ketika bermaksud menghalau bola, sang kiper malah bertabrakan dengan playmaker Persiba, Robertino Pugliara. Sansidar harus ditarik keluara, debut perdana kiper 23 tahun, Jandia Eka Putra, menjadi sebuah beban, karena saat itu Persiba sedang bertubi-tubi menyerang pertahhanan Tim Urang Awak.
Namun keberuntunga menaungi Jandia, tak ada peluang berbahaya baginya. Dan Semen Padang pulang dengan 1 poin. Poin ini merupakan ekspektasi pelatih, namun melihat permainan Semen Padang bisa menang, namun bukanlah Balistik yang menjadi pemain keduabelas bagi Persiba, melainkan tiang gawang!!!

Pertandingan berikut Semen Padang akan menantang PSM Makassar, di Stadion Andi Matalata, Makassar.
Dengan ini Semen Padang telah mengoleksi 14 poin, dan memasukkan 11 gol serta kebobolan 7 gol!!!
Maju Semen Padang!!!
Bravo Kabau Sirah!!!


Thanks for Readig!!
Budayakan Berkomentar!!

Minggu, 21 November 2010

Indonesia Raya kembali berkumandang di Guangzhou


Indonesia Raya kembali berkumandang untuk keempat kalinya di Asian Games Guangzhou, China. Setelah pasangan ganda putra Bulutangkis Markis Kido/Hendra Setiawan berhasil menambah medali emas bagi Indonesia setelah mengalahkan pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong lewat pertarungan sengit Rubber-set.
Dengan hasil ini Indonesia menambah emasnya menjadi 4 emas...

Indonesia mendapat tambahan satu medali emas dari cabang Bulutangkis nomor ganda putra. Setelah di babak final pasangan Indonesia Markis Kido/Hendra Setiawan menekuk pasangan Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong 21-16,24-26,19-21, Sabtu 20 November 2010.

Kemenangan ini diraih pasangan Indonesia itu dalam tempo 58 menit. Namun perjuangan itu akhirnya terbayar karena kini Kido/Setiawan bisa menyandingkan medali emas Asian Games 2010 dengan gelar juara Olimipade 2008 dan World Championships 2007.

"Pasangan Indonesia bermain dengan luar biasa dan lebih berani dari pada kami. Mereka mengambil kesempatan dengan sangat baik," ujar Boon Heong seperti dilansir The Star pasca pertandingan yang berlangsung di Tianhe Gymnasium, Guangzhou, China.

Tambahan satu medali emas ini membuat Indonesia hingga Minggu pagi pukul 09:25 WIB kembali ke peringkat 10 dengan koleksi total 20 medali. Terdiri dari 4 medali emas, 6 perak, dan 10 perunggu.

Thakns for Reading!!
Budayakan Berpendapat!!

Sabtu, 20 November 2010

"Indonesia Raya" berkumandang Tiga Kali di Dragon Lake


Suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia jika lagu karya Wage Rudolf Supratman itu bisa berkumandang dengan gagahnya di luar Indonesia, begitupun yang saat ini dirasakan para atlet cabang Perahu Naga di Asian Games 16th Guangzhou, China 2010...

Tergolong cabang yang tidak diperhitungkan oleh KONI untuk mendulang emas, namun Perahu Naga --yang juga merupakan cabang yang pertama kali dipertandingkan-- berhasil menjadi penyelamat muka Indonesia dalam mendulang emas, 3 emas yang tertulis di daftar perolehan medali sampai saat ini (20 November 2010) adalah dari cabang Perahu Naga. Itu pun disapubersih dari nomor 1000 KM, 500 KM, dan 250 KM putra.
Cabang yang digadang-gadang untuk mendulang emas, malah memberikan hasil yang tak begitu memuaskan.

Jadi, meski bukan cabang yang diperhitungkan, namun Perahu Nagalah cabang pertama yang memberikan medali emas bagi Indonesia di perhelatan akbar multievents se-Asia ini. Dan saat ini menjadikan Indonesia menjadi negara dengan rangking terbaik untuk region Asia Tenggara.

Terus berjuang atlet Indonesia!!!
Harumkan nama bangsa lewat Olahraga!!
Kumandangkan Indonesia Raya di Guangzhou!!

Selamat Bertanding, Pahlawanku!!!


Thanks for Reading!!
Budayakan Berpendapat!!