Senin, 24 Januari 2011

Kembalikan Sportivitas Sepakbola!!


Belum genap sebulan pasca AFF, sepakbola Indonesia kembali berulah dengan munculnya Liga tandingan yang namanya Liga Primer Indonesia, yang digagas pengusaha kenamaan, Arifin Panigoro. Kita seakan telah melupakan gaung semarak AFF yang kala itu mampu menyatukan semua warga Indonesia karena sepakbola, mulai dari pengasong sampai RI 1 tersihir selama Desember 2010 pada satu dukungan yaitu, Garuda Terbanglah Yang Tinggi!! Namun kita masih gagal, tapi kedewasaan suporter kala itu begitu tampak, ‘kecurangan’ Malaysia di Kuala Lumpur dapat kita balikkan dengan kemenangan di laga pamungkas, sayang kita belum juara, namun para pendukung tak anarkis, atau bahkan mengecam Malaysia, mereka sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari mereka! Mereka yang saat ini bertanggung jawab penuh atas persepakbolaan negeri ini.

Namun rasa persatuan itu seakan memudar begitu cepat, hanya seminggu pasca final, kita kembali terpecah, kali ini karena hadirnya dua liga profesional dalam satu negara, yaitu Indonesia Super League (ISL), yang induk semangnya PSSI, serta Liga Primer Indonesia (LPI), yang muncul dari pihak independen, yang katanya ingin menunjukkan bahwa sepakbola adalah olahraga yang harus menjunjung tinggi sportifitas dan kemandirian dari sebuah klub, yang selama ini tak terasa kental di ISL, bahkan sisi terpenting yaitu sportifitas dalam sepakbola telah dicederai oleh mereka penguasa federasi. Karena sudah geger dengan hal itu maka muncullah LPI dengan gagahnya dan PSSI menolak secara tegas kehadiran LPI, dan mencap LPI tak lebih dari kompetesi Tarkam yang ilegal. Ini menunjukkan suatu indikasi bahwa PSSI begitu tak ingin ketunggalannya dalam mengolah sepakbola Indonesia dengan cara mereka, dicampuri oleh pihak luar.
Nurdin Halid vs Arifin Panigoro adalah hal penting dalam munculnya masalah ini. Nurdin yang secara tidak langsung masih ingin menjadi presiden PSSI seakan tersaingi dengan munculnya Arifin Panigoro, yang belakangan juga mengincar kursi empuk PSSI. Namun siapa yang tak garang jika kenikmatan yang sedang dirasa akan terampas. Tentu semua marah, seperti itulah mungkin hakikatnya bagi Nurdin ‘Puang’ Halid, kenikmatannya menjadi presiden PSSI begitu ia dapatkan, tapi prestasi tak kuncung ia datangkan, Nurdin tak pernah menyadari bahwa kenikmatannya di PSSI saat ini adalah derita bagi kami, para penikmat sepakbola Indonesia, yang rindu akan gelar. Sementara Arifin begitu yakin bahwa LPI akan sukses dan secara tidak langsung ia sudah menarik perhatian rakyat, dan dengan itu pula jalannya untuk menduduki kursi yang diduduki Nurdin saat ini akan mendapat dukungan dari rakyat. Jika memang itu tujuan Arifin, maka ia juga merusak sportifitas sepakbola, ia memecah persatuan yang sudah terjalin semenjak AFF dengan Liga Primer Indonesianya yang sudah membuat persepakbolaan Indonesia menjadi sorotan Federation International Football Asociation (FIFA), yang konon kabarnya akan menjatuhkan hukuman kepada PSSI jika LPI tetap bergulir.
Intinya, baik Nurdin ataupun Arifin tak perlu mencalonkan diri menjadi presiden PSSI, berikanlah jabatan itu kepada orang yang benar-benar mencintai sepakbola Indonesia, dan dia bekerja di PSSI karena Indonesia bukan karena uang. Saya yakin jika ketua PSSI seperti kriteria diatas, saya yakin bahwa sepakbola negeri ini akan bangkit dari mati surinya, dan akan kembali seperti dulu, bahkan lebih. Memang sepakbola adalah olahraga yang notabene keras tapi kita tak perlu keras dalam mengurusnya, keikhlasan dari pemimpinnyalah yang akan mengubah semuanya. Sepakbola bukan politik yang penuh dengan kejanggalaan dan kebohogan. Saya ingat Butet Kertarejasa pernah berujar dalam acara parodi, “Sepakbola berbeda dengan politik, kesuksesan dalam sepakbola adalah kesuksesan bersama, sementara kesuksesan dalam politik adalah kesuksesan pemimpinya.” Jadi jangan pernah sesekali menyamakan sepakbola dengan politik. Kembalikan Sportifitas Sepakbola, wahai para perampas!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar