
Dulu waktu saya kecil, Brunei merupakan sebuah hadiah dari surga jika ditempatkan satu grup dengan Indonesia –mungkin negara lain juga berpikir demikian, dalam turnamen sepakbola regional Asia Tenggara, karena Brunei dapat dijadikan sebagai lumbung gol, ya siapa tim terbanyak membobol gawang Brunei maka tim itu akan mendapatkan keuntungan dalam selisih gol. Sudahlah itu dulu, tentulah mereka sudah berkembang dan belajar dari pengalaman, tidak seperti bangsa ini. Ehh..
Malam itu, 9 Maret 2012, mungkin hari itu akan ditandai oleh 400ribu warga Brunei sebagai hari bersejarah bagi sepakbola mereka. Goliath baru saja menang atas David, seperti itulah analoginya atas kemenangan 2-0 mereka atas Indonesia. Sebelum game itu dipiruitkan oleh wasit mungkin saja rakyat Brunei berpikir realistis, bukan pesimis, “menahan Indonesia atau kalah dengan skor tipis ekivalen dengan juara!”. Tapi mereka memperoleh lebih dari itu, mereka mengalahkan Negara kita, Indonesia.
Meski dalam level junior, bukan level tim utama, tapi kemenangan Brunei patut diapresiasi, mereka unggul segalanya dari Indonesia malam itu, organisasi tim mereka lebih baik, efisiensi penyerangan masih lebih baik, mereka bermain sangat efektif. Dukungan dari Raja Sultan Hasanah Bolkiah mungkin menjadi pelecut semangat bagi awak Brunei. Mereka ingin membuktikan kepada Rajanya, kalau mereka bisa!
Restart
Mungkin sudah 5 tahun terakhir kita tak pernah lagi melihat Tim Nasional Brunei Darussalam dalam pertandingan bola resmi. Ya, mereka disanksi oleh FIFA karena intervensi yang dilakukan pemerintah mereka dalam sepakbola mereka –sebuah hal yg haram oleh FIFA. Secara tidak langsung mereka kembali memulai kerangka sepakbola mereka dari awal. Menciptakan timnas Brunei Darussalam yang tangguh dan disegani di Asia Tenggara, mungkin itu cita-cita mereka, mereka bekerjasama untuk mencapai itu.
Kita pulangkan itu pada Indonesia, mungkin masalah yang akan saya bahas ini sudah cukup bosan kita membaca dan mengulasnya, tapi saya hanya menekankan satu hal pada PSSI, yaitu bekerjasamalah dalam membangun impian itu. Tidak hanya Djohar Arifin atau Arifin Panigoro yang punya impian sepakbola Industri, main di Piala Dunia, tapi itu juga merupakan cita-cita kita bersama rakyat Indonesia. Apa salahnya kita membangun pondasi menuju kesana bersama-sama? Jangan pentingkan ego semata. Kita tidak bisa menuduh siapa yang benar siapa yang salah dalam masalah ini, tapi alangkah baiknya kita introspeksi diri kita. Jangan merasa kita benar dan yang lain salah. Baiklah PSSI yang terhormat, marilah hilangkan phobia atas rezim lama yang menurut kalian busuk itu, mari kita jalin keharmonisan dalam merajut mimpi kita itu. Ya, mungkin hanya itu.
Brunei bisa menjuarai suatu turnamen –meski turnamen minor—karena pengurus mereka direstart dan mau bekerjasama. Masa kita kalah sama Brunei? Cukuplah sekali itu saja!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar