Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatanku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Desember 2012

UN, SNMPTN, Kegalauan, Hingga Tangisan Kebahagiaan

Jadi ceritanya gini, bukan maksud untuk sok memotivasi atau pamer usaha. Bukan! Tapi disini saya cuma mau bercerita tentang masa kritis memetamarfosiskan diri dari siswa menjadi mahasiswa. Sumpah ya! Waktu SMU saya (mungkin semuanya) pasti pengen cepat-cepat merasakan gimana rasanya jadinya mahasiswa. Apalagi bisa lulus di Universitas Negeri di Pulau Jawa lewat jalur SNMPTN. Itu cita-cita sebagian dari kami.

Kamis, 01 November 2012

[Mahasistory] Mahasiswa Kupu-Kupu

Oke, kali ini saya akan ngeblog bukan soal sepakbola lagi --mungkin udah pada bosen-.
Ya, sesuai dengan role play saya saat ini sebagai seorang mahasiswa, saya akan mencoba mengurai bagaimana kisah saya menjadi mahasiswa perantau, kebiasaan menjadi mahasiswa kupu-kupu, suka duka menjadi mahasiswa Teknik Arsitek dan cerita lainnya.

Rabu, 12 September 2012

Dipanggil Mahasiswa Saja Belum Pantas

Sebuah tulisan yang saya tulis hari ini, bukan sebuah curhatan dalam bentuk rasa frustasi, ini hanya sebagian kecil dari bentuk curhat yang saya lakukan dengan tujuan untuk melepas uneg-uneg. Maka, tolong sedikit pahami esensi tulisan saya ini. Bukan frustasi, tapi hanya ingin melepaskan uneg-uneg.

Kamis, 05 April 2012

SUKSES !!




tak lama lagi udah UN dan SNMPTN !!
semoga saya bisa sukses melaksanakan dan sukses dalam hasil akhir...

UN : 16-19 April 2012
SNMPTN : 12-13 Juni 2012


Wish Me Luck !! :))

Senin, 04 Juli 2011

[HANYA CATATAN BODOH]

"you never give me anything, but you always give me your love. It's greatest gift ever I received !!"


Aku rangkai kata singkat bermakna indah itu dengan rintihan air mata mengalir di sisi pipi ini. Tak sanggup menahan haru, ingin melepaskan segala emosi atas semua keputusan yang ku buat hari itu.

Siang itu, dalam jalanan terik aku berjalan seraya membalas suatu pesan SMS. Aku tak mengerti dan aku harus menerima semuanya. Ya, it's not end of world. Wish Tomoroow will be better !!
Aku telah 'kehilangan' seseorang dalam hidup ini, mungkin dia tiada lagi akan sebegitu dekat dariku, tapi aku tak kan pernah berpikir bahwa ini adalah hari yang buruk.

Mungkin tak ada lagi SMS bawelan memaksa ku untuk makan, tak ada lagi teleponan sampai pukul 11 malam, tak ada lagi yang melarangku untuk bermain gim sampai larut. Aku pasti akan merindukan semua itu.
Tapi, itulah keputusanmu, dan ini juga keputusanku, kita sudah siap menerima konsekuensinya. Hidup memang penuh pilihan memang.

Ingatkah kau, kala itu aku tak kunjung menemu batang hidungmu untuk melakukan dating pertama kita ?? aku benar-benar merasakan kenikmatan di hari yang singkat itu. Thanks for Day, baby !!
Ya, hanya itulah, dating yang kita jalani selama 5 bulan. Tapi itu sangat membahagiakan bagiku pribadi.

Ingatkah kau, saat aku memintamu untuk membuatkan aku sebekal nasi goreng penuh cinta darimu. Aku sudah merasakan enaknya masakanmu meski kamu yang menghabiskannya, karena bagiku, sudah meluangkan waktu untuk membuatkan aku nasi goreng adalah suatu kredit poin.

Namun semua itu sudah berakhir, kita sudah mengakhiri semua ini. Tapi ini bukan berarti hubungan kita berhenti, aku tak ingin kita saling memalingkan pandangan saat bersua ke depannya.
Senang mengenalmu dan menjadi bagian hidupku, kita tak bisa lagi mengulang semuanya, karena kita sudah memutuskannya, kita bukan pecundang yang mau menjilat ludah sendiri.
Untung-untung kamu masih mau menganggap aku sebagai kakak yang (insyaallah) akan membimbingmu, bukan lagi abang yang selalu menganggumu kala belajar. :)

It's not End of World, Tomoroow, we will better !!
.

Minggu, 12 Juni 2011

Congrats buat Adik Saya !!

Kegusaran tergambar di wajah adikku, dia merasakan ketidakpastian sejak pukul 4 sore kemarin. Dia tak henti-henti membuka website yang tertera di secarik kertas kuning, lewat laptop-nya dia tak menemukan apa-apa. Hanya kekecawaan dan ketidakpastian.

2 tahun lalu, perasaan yang dia rasakan itu juga pernah aku rasakan. Menunggu kepastian diterima di sekolah yang diingini, namun karena nilai yang hanya sebatas nilai siswa medioker, harap-harap cemas menunggu apakah aku akan menjadi siswa yang mengenakan celana abu-abu dan lambang sekolah di samping lenganku.
Tapi, kali ini berbeda, adikku juga menunggu kepastian masa depannya, namun kali ini dia tak perlu memikirkan nilai Ujian Nasionalnya, yang sudah cukup bagus.

Ya, minggu lalu, dia mengikuti tes penerimaan siswa baru di SMA favorit dan terbaik di Sumatera Barat ini, pilihan pertamanya SMAN 1 Sumatera Barat, sebuah sekolah yang baru membuka kelasnya tahun ini, dan berusaha menjadi sekolah bertaraf Internasional di Sumatera Barat. Dari beberapa informasi yang ku terima, bahwa guru-guru di sekolah ini adalah guru bertitel, Best of the Best, ya,http://www.blogger.com/img/blank.gif guru untuk sekolah ini adalah mereka-mereka yang terbaik lewat sebuah seleksi ketat, menurut kabarnya pendidikan minimal gurunya adalah S2 --ya, sebuah sekolah yang sangat baik di Sumatera Barat ini--, namun karena tahun ini baru buka, maka kita belum bisa melihat apakah sekolah ini bagus, namun dari janji yang diberikan, kita bisa membayangkan bahwa sekolah ini memang bagus.
Kedua, SMAN 1 Padang Panjang, siapa yang tidak tahu kualitas sekolah ini, terbaik di Sumatera Barat, dan banjir prestasi, dan jika Anda bertanya kepada siswa di Sumatera Barat ini, "SMA mana yang bagus di SUMBAR ini ??" sebagian besar dari mereka pasti akan menjawab, "SMAN 1 Padang Panjang !!". Ya, memang tak perlu diragukan lagi kualitas sekolah ini.

Berulang kali adik-ku membuka Website Sekolah SMAN 1 Padang Panjang. Namun ia tak kunjung menemukan nama 'Annisa Nurfiatul Aini'.
Dia semakin gusar karena aku selalu menakutinya, "Kalau begitu, namanya gak lolos !!" berulang kali aku tegaskan kata-kata yang membuatnya, sudah membayangkan bahwa dia akan bersekolah di Solok, tepatnya di Sekolahku/
Dia sudah mulai mencari informasi lewat facebook, namun tak kunjung berakhir. Lalu memanggil temannya via telepon, SMS teman, sampai dia tidur, masih NIHIL, tak ada informasi mengenai kelulusannya.

Hape-nya bergetar, dicek lah hape itu oleh tante-ku, "Assalamualaikum Nisa !! Alhamdulillah Nisa lulus di SMAN Sumbar, nis... selamat ya nis..." begitulah potongan penting dari isi pesan singkat temannya.

Ya, dia dibangunkan dari tidurnya, diberi kabar demikian, dia terlihat sangat senang, dan entah bagaimana perasaannya, ketidakpastian itu buyar, dan muncullah kepastian, jalan menuju asa yang besar menuju cita-citanya menggapai segala yang ia impikan selamaa ini, karena dia telah melabuhkan dirinya di sebuah bahtera yang akan membawanya menuju pelabuhan kesuksesan, ya, berikutnya tergantung padanya, apakah dia akan tetap tegar bertahan di bahtera itu dengan segala rintangan menuju pelabuhan kesuksesan.

"Selamat cha, buatlah harum nama keluarga, dan banggakanlah Papa dan Ibuk juga Bundo, Angku serta Anduang dan yang lainnya. Nikmatilah semuanya dan jangan pernah terbebani dengan cita-citamu. Arungilah laut menuju kesuksesan itu dengan kepala tegak, kelak suatu saat kamu akan menjadi kebanggaan kami !!" itulah pesan dariku baginya.
Semoga dia terus berkembang dan semakin terasah untuk menjadi pribadi kuat dan pintar.

Congrats My Sistah !! :)

Rabu, 08 Juni 2011

Pentingnya Arah Hidup

"Lihat tuh si Icha, dia juara lagi kan !!" kalimat penuh komparasi ini sering menghampiri tatkala setiap akhir semester. Kalimat yang tersirat di dalamnya suatu campuk motivasi, malah aku terima sebagai ketidakadilan.

Tahun ini, adik perempuanku Annisa, menamatkan masa Sekolah Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Padang Panjang -salah satu MTsN terbaik di Sumbar-. Dia telah menyelesaikan studi beratnya selama tiga tahun, tanpa Orang Tua, dan tinggal di Asrama dengan tingkat kedispilan nan ketat, membuat dia tumbuh sebagai pribadi mandiri, berlain denganku, remaja yang masih 'manja', dulu sebelum dia menamatkan sekolah dasarnya, dia bahkan tak lebih pintar dariku menyuci baju, memyuci piring, memasang bohlam. Namun sekarang dia sudah berubah, dia menjadi lebih dewasa dariku -secara pribadi sih iya-, bahkan dia tak semenyebalkan dulu, dimana kami sering berebut nonton TV, sekarang dia sudah bisa mengalah kepada ku, abangnya -aku merasa adik baginya-, meski terkadang aku masih bersitegang, aku nonton Bola, dan dia drama Korea.

Setelah aku berpikir dengan mendengar beberapa obrolan orang tuaku mengenainya, ternyata dia adalah gadis penuh visi. Saat dia masih duduk di kelas VII, dia sudah menargetkan dirinya, agar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, mau membelinya, bukan dia yang menjual diri untuk UI. Aku membayangkan itu membuat mataku kelilipan. Boro-boro masuk Fakultas Kedokteran UI, masuk kedoktaran Unand aja susah bukan main. Dia begitu giat belajar, memang sih di sekolahnya dia tak selalu hadir sebagai yang terbaik, namun dia cukup sering berdiri dalam seremoni pemuncak kelas -aku hanya di SD dan MTs yang merasakan hal begini-.

Sabtu kemarin (4/6), siswa SMP / sederajat menerima hasil kelulusan Ujian Nasional, dia datang padaku, dan dengan gaya yang tidak menggambarkan ekspresi senang memberikan secarik kertas panjang yang sudah dipress, aku merasa di-inferior-kan melihat hasil mengagumkan nilainya, dengan Jumlah Nilai: 36,65 dari nilai makasimal 40. Dia juga dianugerahi sebagai nilai terbaik kedua di sekolahnya. Matematika-nya pun sempurna, dan Ilmu Alamnya hanya cacat pada dua soal!
Aku coba membandingkan dengan nilai-ku dulu, hanya 33,85. Nilai sepertiku membuatku menjual diri pada sekolah-sekolah.

Itulah bedanya aku dengannya, aku adalah si penikmat masa ini, yang terkadang tak terlalu memikirkan tujuan hidup, aku sudah menghapus 'Dokter' dari daftar cita-citaku, karena aku sangat tidak memahami ilmu biologi -dasar kedokteran dalam ilmu sekolah-, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suksesor Yohannes Surya saat aku sangat mencintai Ilmu Fisika, seorang Astronot, saat aku kagum pada Neil Armstrong, menjadi seorang Komikus, saat aku diadiksikan oleh komik, menjadi seorang pesepakbola saat aku menjadi pemain andalan ketika sekolah dasar, dan menjadi novelis saat aku terkesima membaca novel Andrea Hirata. Namun aku tak pernah tahu kemana jalan hidup yang akan ku tempuh suatu saat nanti. Aku tak memiliki visi yang jauh macam adikku.

Jurnalis
Aku sempat disinggung oleh kawanku, "Woi diq, ntar lo mau masuk mana tamat SMA ??"
"Sastra Indonesia, mungkin..." jawabku acuh.
"Bagus tuh, tulisan lo mantep coy.." dia menyemangatiku.
"Oh yeaahhh!!" tutupku.

Namun saat santai dengan keluarga, saudara bertanya seperti itu, aku jawab sama. Dan dia bertanya apa cita-citaku. Aku menjawab Wartawan Olahraga.
Dia menyarankanku masuk Ilmu Komunikasi, setidaknya Ilmu Komunikasi telah mencambukku dan sedikit memotivasiku untuk belajar lebih giat. Dan aku sudah memiliki visi ke depan, yang harus aku dapatkan.

---------------------------------------------------------------------------------------

Pernahkah Anda memikirkan visi Anda ke depan??
Ya, itu sangat penting, bahkan perlu guna menjadikan Anda seseorang yang bermanfaat kelak.

Sabtu, 21 Mei 2011

Akhirnya 17 Tahun juga...

20 Mei 2011...
Baru 53 detik hari ini, handphoneku bergetar, "Sayangku tercinta, happy birthday! Ternyata kamu udah makin tua ya!! hehehe..." pesan yang dikirim lewat SMS oleh sweetheartku. Sebuah ucapan spesial pertama pada hari itu.


Pada hari ini 17 tahun yang lalu di rumah sakit milik TNI AD, seorang wanita tangguh berjuang untuk melahirkan seorang manusia lewat persalinan caesar. Akhirnya lahirlah bayi itu, Ashiddiq Adha, adalah nama yang teranugerah bagi bayi itu.

Pesan itu terasa spesial bagiku, 17 tahun aku tidak pernah menerima ucapan selamat yang begitu cepat juga dalam bungkusan penuh kemesraan seperti itu. Inilah kali pertama dalam hidupku menerima pesan manis itu.

Sevententh
Ucapan terimakasih dengan nada yang tak kalah mesra tersahut baginya, sekaligus mencerminkan kesenanganku pagi itu. Ya, hari itu, aku genap 17 tahun menghirup gratis oksigen di dunia ini.
Kata orang sih, kalau Dirgahayu yang ke-17 itu adalah ulang tahun spesial, aku tidak tahu juga kenapa, namun yang aku tahu, Jika Anda berulangtahun ke-17, maka Anda akan berulangtahun pada hari yang sama dengan hari kelahiran Anda --setidaknya, ini berlaku bagiku--. Atau mungkin spesialnya Dirgahayu ke-17 karena secara hukum Anda sudah dewasa, dan secara hak sudah legal berdemokrasi secara sah. Atau mungkin inilah batas bagi Anda untuk legal menonton film dewasa --oh, ini sangat buruk--.
Yang jelas usia 17 ini, Anda harus bisa menjadi lebih baik, karena kata orang-orang, usia 17 tahun Anda sudah dewasa, dan harus sudah mulai bertahap meninggalkan tingkah kekanakan Anda --bagiku ini sangat sulit--.
Namun harapan yang terbaik adalah bahwa semakin bertambah usia, Anda semakin tumbuh menjadi seorang insan yang semakin beragama, taat orang tua,lebih dalam segala kepositifan, dan juga senang bermasyarakat.

Hujan Telur
Entah budaya mana, ketika teman Anda sedang berulangtahun, Anda tidak lagi memberikan kue, melainkan lemparan telur pada badannya --mungkin lebih terjangkau--. Aku mau tidak mau harus bisa menghindar dari lemparan busuk itu. Tahu bahwa aku akan dihujani telur, sebuah baju ganti telah kupersiapkan dari rumah untuk jaga-jaga, bilamana seragamku menjadi korban tak berdosa atas peristiwa hari ini.
Setelah membelanjakan kawan-kawan semangkuk mie ayam masing-masing mereka. Aku sudah merasa aura buruk akan dihadiahkan padaku.
"Tenanglah diq... ini cuma sekali setahun!!" ujar salah seorang temanku.
Seakan termotivasi dengan kata-kata penuh provokasi itu, sontak teman-temanku yang lain menyerangku, dan menyudutkanku pada sebuah sudut, aku berhasil mengelak dengan kelincahan naturalku, namun apa daya, aku harus melawan satuan kesebelasan, mata jahat mereka sudah bisa kulihat. Puncaknya, idiot temanku melemparkan telur amis itu ke arah mulutku, sedikit ku nikmati rasa busuk telur itu dengan lidahku, dan kepingan retakan telur melukai bibirku, terakhir sebuah lemparan penuh ambisi dari si gempal --dia sehari ini menjadi korban guyonanku, seakan ingin revans atas semua penderitaan hari ini--.

Aku bersihkan diri dan membungkus baju busuk amis itu dalam kantong. Yogi, teman yang tak sempat kuajak makan --karena dia sedang melayani kekasihnya--, meneluriku saat aku sudah dalam keadaan relatif bersih. Cukup sudah semua ini, aku akan merasakan sindrom pada kata "Telur", telingaku seakan ingin menyerah disertai penyampaian pesan kepada organ tubuhku yang lain, bahwa aku menyerah jika mendengar kata, 'telur'.
Temanku mempunyai cara untuk menghentikan kenakalanku dengan nada canda dan terkesan mengancam, "Kalau tak mau diam, ku beri kau TELUR!!" ancam temanku, aku langsung menyerah dan tak berdaya akan semua itu.

Terimakasih untuk hari ini, aku begitu senang hari ini. Meski dengan kesialan dan telur nan busuk itu. Namun bagiku, ini adalah sebuah pengalaman yang terlalu buruk untuk tidak diceritakan. Thanks for Days, lads!!

Sabtu, 07 Mei 2011

Temanku Seorang Teroris?

Judul tulisanku kali ini memang agak provokatif, namun aku tiada bermaksud untuk demikian, bacalah tulisan ini sampai akhir. Seketika aku ingin menulis tulisan, karena suatu dialog singkat antara dua orang temanku tadi di sekolah. Aku merasa tidak biasa mengenai dialog mereka, aku mendekati mereka berdua, dan berusaha untuk mengontrol sedikit emosi, dan mendengarkan semua kata yang terucap dalam dialog yang berdurasi sekitar satu menit itu. Tema yang mereka bahas dalam dialog itu adalah mengenai tewasnya ‘Raja Teroris’ (Alm) Osama bin Laden, seorang pemimpin garis keras yang ingin menegakkan kalimat suci, “Lailahaillallah” di setiap penjuru jagat ini. Memang sih, cara yang ditempuh (Alm) Osama begitu berantagonasi dengan cara yang diajarkan Rasulullah, yang mengajarkan kepada umatnya untuk menciptakan perdamaian di dunia ini, setelah beliau meninggalkan kita, dua pusaka hingga akhir zaman, Al-Qur’an dan Hadits adalah referensi bagi kita untuk berbuat apapun di dunia ini, atas dasar dua pusaka itu. Sedangkan cara yang ditempuh (Alm) Osama bin Laden yang dengan dasar jihad, rela memusnahkan manusia yang notabene tidak seiman dengannya, cara yang tidak diprektekkan oleh pemimpin Rasulullah. Seketika jalur hitam yang diambil Osama langsung muncul tudingan dari Barat yang notabene terbangun atas bangsa Yahudi dan Nasrani, yang dengan lantang menunjuk Islam sebagai penyebab semua ini. Al-Qur’an memang sudah mendestinasikan bahwa ‘perang’ anatar Islam dan Yahudi akan selalu berkembang hingga masa berakhir, bahwasanya mereka (Yahudi) tidak akan pernah tersenyum puas sampai Islam benar-benar tak berebekas (dikutip dari beberapa sumber). Muncullah semua hal yang mengatasnamakan bahwa Islam harus dibasmi dari penjuru jagat.

Muhtar, sebutlah itu nama temanku yang sedang berdialog dengan Abdi, temanku yang lain. “Osama bin Laden tewas, namun Islam tetap akan berdiri tegak sampai akhir zaman!!” pernyataan ini termuncrat dari mulut Muhtar. Sebuah pernyataan yang jika Anda tidak mengenali siapa Muhtar, pasti akan mengira bahwa kata-kata Muhtar penuh dengan makna yang seakan memotivasi kita umat Islam. Namun, sejauh aku mengenali Muhtar, aku tidak begitu setuju dengan paham yang dianutnya. Dia pernah berseloroh kepadaku bahwa dia siap berdebat mengenai Islam dengan siapapun dengan ilmunya yang ia dapat dari gurunya.

Dalam suatu kesempatan aku sempat berdiskusi mengenai pahamnya. Dia berbisik padaku, “Diq, tahukah engkau siapa pimpinan Islam di dunia dan di Indonesia saat ini??”, dia seakan menawari untuk saling terbuka dalam diskusi ini, aku pun terpikat akan kata-katanya, lalu aku bertanya balik. “Di dunia Osama bin Laden, di Indonesia Abu Bakar Ba’asyir!!” dia dengan tegas menyampaikan itu padaku. Sontak aku kaget dengan pernyataannya. Aku memang bukan ahli Kitab, ahli Agama, namun aku tahu bahwa nama yang tersebut diatas, dua-duanya adalah teroris, musuh semua manusia. Aku langsung berdiri dari tempat dan meninggalkannya. Seketika aku berpikir, apakah aku sedang berbicara dengan seorang calon teroris?? Aku tidak mengerti mengapa dia dengan lantang menyatakan bahwa para teroris yang memilih jalur keras sebagai imam dari umat Islam. Waallahu’alam.
Dalam beberapa kesempatan sebelum itu, saat jam pelajaran Kewarganegaraan (KWN). Aku duduk di sebelahnya. “Aku membenci dia (guru KWN) itu?”, dia memulai pembicaraan ini.
“Kenapa?” aku bingung. “kalau caranya sih memang, wong dia mengajar pragmatis banget.” aku sedikit mendukung pendapatnya.
“Bukan itu, aku tidak percaya Hukum di Bangsa ini!!” tegasnya.
“kenapa? Apanya yang salah?” aku bingung.
“Ya, bangsa Indonesia ini bodoh, mempercayai SBY sebagai presiden, gak lihat kamu. Itu orang kena tsunami di Mentawai, si SBY malah liburan ke Hanoi. Mana otaknya sih??” dia mulai memperlihatkan kebenciannya.
“hei, kalau ngomong itu hati-hati dong, bukannya Pak SBY itu ke Hanoi karena lagi ada urusan kenegaraan. Dan tsunami itu kemaren, sementara Pak presiden ke Hanoi udah tiga hari yang lalu kalau gak salah.” Aku coba melakukan pembelaan menyanggah pernyataannya.
“woi diq, kau tau ndak? Dasar Hukum itu semuanya ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Trus ngapain kamu patuhi juga UUD 45 itu. Itu bohong.” Dia menekanku.
“iya, itu benar yang kau bilang, cuman kita hidup dalam negara majemuk, bukan negara teokrasi satu agama, jadi, mana mungkin orang Kristiani, Buddha ama Hindu musti ikut-ikut hukum Al-Qur’an. Toh, mereka gak punya hak untuk mempercayai Al-Qur’an.” Aku mencoba melurukan, dengan keislaman ortodoks milikku ini.
Lalu dia tak lagi membalas kata-kataku tadi, bukan berarti dia kalah, tapi dia terlihat tidak mau mengiyakan penjelasanku barusan.

Di kesempatan lain, Muhtar juga cukup senang mengajakku berdebat soal Islam, ya, mungkin saja karena latar belakang sekolah pra-SMU ku di sekolah agama. Muhtar pernah mengatakan padaku, bahwa dia adalah seorang yang begitu teoritis dalam beragama, namun begitu pasif dalam pengaplikasiannya. Dia mengakui sendiri padaku. Konsep agamanya padat, namun pelaksanaannya sama dengan nol. Aku berpikir, lebih baik Anda seorang Islam yang lemah dalam konsep, namun Anda begitu taat menjalankan syariat agama. Agama bukan sekedar konsep belaka, pengaplikasian adalah kredit utama dari agama itu sendiri.

Demikian aku menceritakan sedikit pengalamanku mengenai Muhtar. Aku tak berharap dia salah dalam ajaran agamanya, semoga dia bukan seorang calon teroris. Aku tidak tahu jalan mana yang ditempuh untuk menegakkan kalimat “Lailahaillallah” di muka bumi ini, namun tujuan kita satu yaitu menjaga Islam tetap terpelihara, meski kelak di suatu masa, destinasi Tuhan akan hadir. Waallahu’alam.

Aku Dan Kenangan, Cinta Monyet nan Prematur

Padang, 2001...
Jika aku menyemput lagi memori atas kenangan ini, aku selalu tertawa membayangkannya. Entah kenapa? Aku selalu berpikir bahwa kisah ini terlalu buruk untuk tidak diceritakan. Kalau begitu akan kuceritakan. Memang sedikit hiperbola dalam penyampaiannya, namun ikutilah bahwa kalian masih bisa menangkap fakta dari ceritaku.

Saat aku masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, aku pernah tertarik dalam hal yang namanya cinta. Terlalu berlebihan? Tidak, ini fakta. Aku menyukai seorang gadis yang cantik dan manis, yang rumahnya sekitar 30 meter dari kediamanku, namanya adalah Rieke. Izikan aku beberapa saat untuk mengenang parasnya dan mendeskripsikan seberapa yang kuingat atasnya, dia adalah wanita yang cantik, mempunyai senyuman yang memikat, kalau ngak salah ada lesung pipit di pipinya, yang jelas dia tinggi dariku. Lalu aneh dan berlebihannya dimana? Rieke adalah seorang siswa kelas 4 SD (2001/2002, red). Hah? Memang aneh, aku suka pada seorang yang dua tahun usianya diatasku dan aku selalu terpikat ketika melihatnya. Ternyata aku tumbuh dewasa begitu cepat.

Di sore yang cerah, aku sedang bermain dengan temanku, Arif Prastyo Wibowo, aku memanggilnya Bowo. Dia adalah teman akrabku semasa aku masih di Padang, kami selalu bermain bola bersama, menonton serial Pokemon dan Digimon bersama, pergi sekolah bersama dan melakukan hal yang buruk bersama. Meski hubungan orang tua kami tidak begitu harmonis, karena Bowo pernah menceburkanku ke dalam lumpur sepulang sekolah, hal itu membuat Ibuku naik pitam tiada kepalang, asap pun menggumpal diatas kepalanya, dan lalu ibuku memarahi Bowo di depan Ibunya, dan tentu kalian bisa menebak, seperti apa jika ibu-ibu bertarung. Kisah pilu ini insyaallah akan kuceritakan dalam waktu dekat. Meskipun begitu aku dan Bowo masih tetap berteman seperti biasa, meski terkadang Bowo sering menjahatiku, seperti meninggalkanku saat bermain sepeda, memukul kepalaku, membajak uang jajanku. Sudahlah, cerita mengenai Bowo akan kuceritakan lain waktu, kembali dulu ke cerita Kak Rieke. Pada sore itu tanpa sengaja aku melepaskan suatu kalimat yang tentu saja akan merubah hari-hariku kedepan, dan pandangan teman-teman terhadapku. Aku melepaskan kata-kata, “Aku menyukai Kak Rieke!!” di depan Bowo dan Yuli, teman wanitaku, seorang cadel. Tanpa basa basi Bowo langsung berlarian ke rumah, dan dia mengancamku bahwa dia akan mengadukan statement-ku barusan pada Kak Rieke, lalu dengan bangga dia berlarian dengan Yuli menuju luar rumahku, lalu aku segera mengehentikan mereka agar tidak mengatakan itu, namun mereka mengabaikan permintaanku. Untunglah, sore itu Kak Rieke sedang tidak di rumahnya, maka prosesi acara bodoh itu gagal, dan aku memohon kepada mereka agar tidak mengatakan hal itu kepada Rieke, karena hal itu akan berdampak buruk bagiku dalam pergaulan, karena tentu saja teman-teman yang lebih tua usianya dariku, tentulah juga ada yang berharap pada Rieke, karena Rieke memang cantik. Namun, keesokan harinya saat itu, mereka tak lagi menyinggung masalah Rieke, dan aku pun sedikit lega, karena perasaanku sukses tak tersampaikan, tapi baguslah daripada aku dikucilkan dalam pergaulan.

Rutinitasku sore hari adalah bermain tanah di depan rumah bersama teman-temanku, atau adikku, Icha, dalam beberapa kesempatan, aku melepaskan pandanganku ke Barat, seraya melihat Rieke yang sedang duduk di depan rumahnya, bersama sepupunya, Manil, seorang wanita yang tak kalah cantiknya, sayangnya Manil sedikit tomboy, berbeda dengan Rieke yang memiliki naluriah feminim wanita. Memandang Rieke, dan berusaha melakukan hal yang mencolok, agar dia juga melepaskan pandangan kepadaku, dan berharap hatinya meleleh karena kelakuan maskulin ku yaitu, menimbun feses kambing dengan tanah, setelah kupikirkan ternyata aku begitu bodoh saat kecil. Namun Rieke tak pernah memperhatikanku, dia hanya sesekali membuang pandangannya ke arahku, itupun hanya untuk memvariasikan pandangannya. Huft.

Aku pindah lokasi mengaji, karena tempat lamaku, gurunya galak, meski beliau menyayangiku, namun merasakan aura beliau yang selalu memegangi rotan setiap malam aku tertekan karena pembawaanya yang sangat tidak friendly, maka aku memutuskan untuk pindah tempat mengaji ke lokasi yang lebih baru, dan ternyata di tempat baru gurunya begitu baik dan sabar, saking sabarnya pembatas saf sudah bolong-bolong karena para santri pria bermain gulat wresterling, namun kesabaran Ustadz itu tiada terganti, sampai akhirnya Ustadz itu berhenti, karena batas kesabarannya sudah di ambang batas. Di lokasi ngaji yang baru, aku satu tempat dengan Rieke dan Manil, mereka sudah Al-Qur’an, sedangkan aku masih Iqro’ 3. Tentulah kami tidak satu kelompok, karena ingin segera satu kelompok dengan Rieke, aku memutuskan untuk ngebut menamatkan Iqro’ itu, namun aku sering terkendala di EBTA Iqro’ 5 yang membuatku, harus terus mengulanginya (Saat aku sudah pindah dari Padang, aku belum menamatkan Iqro’) . ketidakmampuanku untuk menamatkan Iqro’ membuatku tidak pernah satu kelompok dengan Rieke, namun ketika jeda aku selalu memandanginya atau Manil, siapa sajalah diantara mereka, yang penting aku bisa tersenyum dalam sanubari. Pun dalam shalat, ketika aku sedang shalat berjamaah qabla ngaji aku sering menoleh ke belakang, memperhatikan Rieke –aku belum tahu saat itu, kalau melepaskan pandangan dari sujud adalah larangan, jadi aku sering melakukan itu.

Nampaknya usahaku untuk menarik perhatian Rieke atasku adalah suatu hal yang mustahil, aku tidak akan pernah mendapatkan ‘cinta’ darinya, karena ada seorang pria kelas 5 SD, namanya Aris, dia seakan merebut Rieke dari harapku. Aris sering menganggu Rieke, dan Rieke tak merasa keberatan, malah ketika aku membaca rautnya, dia seakan terpuaskan dengan jailnya Aris. Sudahlah, Aris sudah dewasa, sementara aku hanya anak kecil yang masih haram untuyk menjamah cinta. Namun ada suatu ketika, dimana Rieke berbicara kepadaku, dan saat itu aku dibuat terbuai, “Dimana letak sapu, diq?” hanya sependek itu. Namun itulah petikan obrolan berhargaku dengannya. Aku merasa bahwa dia telah menerima cintaku, ketika dia mengajakku berbicara. Namun, semenjak aku meninggalkan Kota Padang, aku tiada lagi pernah bertemu dengannya, sampai saat ini. Entah seperti apa dia sekarang, aku yakin dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan tentulah sudah ada seorang pria yang selalu erat menggenggam tangannya, dan menjadi perisai baginya. Karena dia memang pantas mendapatkan itu. Mungkin jika aku menemuinya di suatu masa kelak, barangkali kami tidak akan saling mengenal. Namun semua destinasi sudah ditentukan. Ya, dialah orang pertama yang membuatku tertarik kepadaku.

Kak Rieke, kalau kelak kau membaca ini... Masih ingatkah denganku?? Shiddiq yang begitu lugu itu... Mungkin sudah tidak yaa!! Hehehe....

---------------------------------------------------------------------------------

Pengunjung yang baik adalah pengunjung yang selalu pamit sebelum meninggalkan tempat!!
Jangan Lupa Tinggalkan Jejaknya ya!! :)

Kamis, 21 April 2011

TUR: FOTO-FOTO EKSLUSIF Suasana Kamar Pemalas di Hari yang penuh dengan Kemalasan

UN telah menghadang siswa kelas XII untuk segera mempersiapkan diri menuju kelanjutan masa depan mereka, yang tentu sudah mereka rencanakan lama. Namun bagaimana dengan siswa kelas X dan XI? Tentulah mereka tak akan berangkat ke sekolah, karena semua guru harus memfokuskan diri untuk mengawasi siswa kelas XII. Ya... dengan kata lain, kami LIBUR. Tiada kata yang lebih indah dari pada itu bagiku, siswa apatis yang tak begitu antusias ke sekolah. Tipe siswa yang lebih doyan memakai otak kanannya sehari-hari adalah yang tak begitu senang berpikir, maka libur adalah masa yang indah bagiku, setidaknya juga bagi beberapa pembaca tulisan ini.

Dan liburan itu datang, awalnya sih aku semangat menyambut nir-belajar lima hari ini, namun setelah tiga hari aku menjalani liburan, liburan kali ini sangat monoton bagiku. Daerah teritorial liburku hanya sebatas petak kamar, rumah, dan warung internet. Kebosanan pun menggalaui jiwa ini, pun jika aku pergi ke sekolah itu sama saja dengan menambah kegalauan jiwa ini. Baiklah, dalam kerisauan ini, aku memutuskan untuk melakukan beberapa hal; bermain gim, melompat-lompat bagaikan badut Ancol untuk menghibur sepupuku yang kebetulan datang dari Batam, gadis bayi yang namanya tersebut Aqila.

Waahh... cukup panjang juga wejanganku diatas. Langsung saja, tanpa banyak omong. Mari kita saksikan FOTO-FOTO EKSKLUSIF (2.0 MP) yang penuh dengan keidiotan dari kamar sang pemalas, Ashiddiq Adha. Yang akan dipandu oleh Guide-man sebagai pemandu tour Anda para pembaca ke kamar ini.


Guide-man (G) : Selamat datang para pengunjung sekalian di acara Kudiak The Lazzy-Boy Camp! :)
Aku (Q) : Hey, kau tak perlu pura-pura bermanis-manis dengan tamu! -,-“
G : Tuan, bukankah tugasku adalah sebagai pemandu dalam acaramu ini. Coba kau pikirkan bagiamana jika para tamumu merasa bahwa pemandumu adalah orang yang menjengkelkan? Tentu kau sendiri yang akan malu, bukan?
Q : Sudahlah! Aku tidak mau berpikir di hari libur begini.
G : Baiklah pengunjung! Kalian baru saja memasuki Kamar Petak sempit 4x5 dan ketika masuk Anda bisa menyaksikan betapa joroknya si empunya kamar! :D
Q : Berisik lu!! #sedikit kesal
G : Perhatikanlah! Komik-komik Hentai berserakan di kasurnya!
Q : Heeiii, aku bukan maniak Hentai!!
G : Juga ada sebuah boneka anjing, ternyata kau orangnya feminim juga, Tuan!
Q : hei, pemandu sampah! Itu boneka sepupuku,kemarin dia main ke kamarku!
G : Bagaimana menurut Anda? Kotor bukan? Mari kita lanjutkan ke tempat berikutnya!
Q : Sik!


G : Inilah tempat kedua yang Anda kunjungi para tamu terhormat! ~.~
Q : Hmmm... 
G : yaitu, Rak komik tuan muda! Perhatikanlah! Tatanan komiknya sangat hancur, sama seperti wajah yang empunya komik. Perhatikanlah baik!! Ada jaring laba-laba diantara kaki raknya. Sangat tidak terurus.
Q : Ini hancur bukan aku yang bikin, tapi ini sepupuku yang ikut mengacaknya.
G : Baiklah, pengunjung! Kekotoran dan kejorokan seperti ini jangan ditiru ya!!
Q : WOOOIII!! DENGERIN GUWEE NGOMONG DONG!! #MARAH
G : Tempat berikutnya yaitu laci tumpukan celana dalam pria!
Q : hei, kau tak perlu membawa orang sebanyak itu kesana, bodoh!


Q : Tempat ketiga ngak usah kesana, soalnya nanti kalian malah kabur. Langsung aja kemari! Shoot Out Meja belajarku!
G : Tuanku ini memang pecundang, padahal tumpukan celana da... Awwwwww (saya pukulin)
Q : biarkanlah guide-man yang tidak berguna itu terkapar disana, mari kita lanjutkan! :D | Inilah meja belajarku. Bagus tidak? Banyak tempelannya lo.. :D | Oh kalau logo Arsenal itu aku Cuma iseng, hati tetap untuk Manchester United kok, tenang aja! Itu ada stiker kerbau merah itu baru kebanggaan aku!! Ooh, stiker mobil itu Cuma iseng kok, aku gak juga suka begituan. Semuanya iseng kok! Hehe, lanjut aja ya!!
Kok pada diem? Gak enak ya? Yang penting kan aku sopan dari Guide-man :D apa?? Guide-man? Udahlah!! Ama aku aja.
G : Ahahahahahhhaaa... Sabarlah fan setiaku!!  aku belum mati kok!! Ayo kita pandu lagi ke lokasi berikutnya!!
Q : kayaknya gue emang gak berguna deh!


G : On the Desk!! Bukunyaa berserakaaaann!! Ih.. jorok bangeeett!!
Q : ngapain lu sewot?
G : Lanjuuuttt!!
Q : haaah?? Guwe dicuekin gitu aja!!


G : Susunan rak belajar bagian atas sama aja ama yang dibawah, tapi lumayan rapi dehh..
Q : ...
G : ada Al-Qur’an dua buah, saya rasa tuan muda gak pernah baca deh, cuman buat pamer aja pasti. Whehehe :D
Q : eeh, itu gue baca loo, enak aja lu..
G : tiap hari gak?
Q : gak juga sih... -,-“
G : itu deodoran ditarok sembarangan aja, kebuka pula tuh. Trus duitnya ditarok sembarangan pula, ntar ilang tau rasa lo...
Q : duit..duit gue ngapain lo yang ribut kalo ilang!
G : oohh...
Q : SH*T!


Q : Tempat favorit guee nihh!! 
G : inilah ruang bagi tuan muda untuk bermain gim, nonton pilem, nulis, dan buang angin tentunya.
Q : yang terakhir gak usah disebutin napa?
G : DIHARAPKAN kepada para pengunjung terhormat agar TIDAK MENDEKATI tempat berbau itu, pasti kentut si tuan muda udah mixing disana. Itu dikasih kertas biar puzzle karpetnya gak kepayahan nahan kentut si tuan muda.
Q : kertas itu tugas bahasa Indonesia gue yang gak jadi tau!
G : berikutnya! Bang Idiq, bisa main komputer bentar! Aku mau ambil penampakannya bentar! Buat kenang-kenangan para pengunjung. Mau yah? Bang Idiq cakep deh..
Q : aah, lo kalo ngerayu bisa aja deh.. ya deh.
G : Okee, biar aku jepreettt babangnya!! JEEPRETTT!!


G : Lho?? Kok bang Idiq manyun-manyun gak jelas gitu, kayak anak panti deh. Gak ganteng! Trus kepalanya, naikin dikit dong, biar lebih fresh.
Q : errrggghh, gak mau aah...
G : sekali aja bang!! Mohonn bang!! [mata berkaca-kaca]
Q : [seketika aku langsung terharu..] BAIKLAH!! :’)
G : JEEPREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTTTTTTTT!!!! |


G : kok gambarnya kabur bang?? Sekali lagi dong, bang!!
Q : udah aah, lo maksa gue mulu... gue kan PARANOID ama kamera. Ntar gue alergi lo mau tanggung jawab. Nih bentol-bentol di tangan gue udah lahir nih. SIK lu!


Q : kalo yang di monitor ini lo jepret gak apa nih?
G : apaan tuh?
Q : lagu paporit gue selama liburan lo, Utada Hikaru – Come Back To Me (Download) :)
G : Demikianlah Tour berantakan ke kamar berantakan orang yang lebih berantakan. Semoga Abda berkenan dalam acara ini, dan kalo ada kesalahan dan hal yang gak lucu atau bahkan yang nulis ini tulisan gak kreatip, saya selaku Kepala Pemandu mohon maaf sebesar-besarnya! Karena menulis gak segampang ngomong*! Terima Kasih sudah mampir!
Q : eeh, lu cuekin gue lagi?? | iya peserta tur, saya selaku yang empunya kamar, mohon maaf kalau dalam pembawaan kami berdua kurang berkenan, atau terkesan garing. Kami maaf banget! Ini kan Cuma buat hiburan. Akhir kata, Assalamualaikum WW. Eittsss... aku hampir lupa, jangan lupa meninggalkan jejak Anda, jangan langsung pergi! VVV

Buat yang punya kun email Google, silakan berkomentar dengan menyertakan nama Anda. Bagi yang tidak punya akun apapun yang tersedia di bawah, berkomentarlah sebagai anonim, tapi jangan lupa cantumin nama! Oke!! Makasih :)

*NB : Yang benar dari kalimat, “Karena menulis gak segampang ngomong” dalam tulisan diatas adalah antonim dari buku Lassa H.S. Menulis Itu Segampang Ngomong, yang diterbitkan oleh Pinus tahun 2006 di Yogyakarta.




Senin, 04 April 2011

REPORT: Ujian Tengah Semester (UTS) SMAN 1 Solok

Liburan pasca-Ujian Sekolah kelas XII telah berakhir, dengan sistem liburan yang begitu monoton –komik, komputer dan TV- hanya itu yang aku jalani semasa libur 8 hari yang singkat itu. Kembali ke sekolah tanggal 29 Maret 2011 dan dua hari setelah itu aku harus bertarung dalam Ujian Tengah Semester (UTS). Berikut adalah laporan pribadiku dalam ruang lingkup Pribadi saat-saat UTS:

 H-1 / 31 Maret 2011
Satu hari sebelum UTS aku dan kelasku masih belajar seperti biasa –seperti itulah sekolahku- sangat membosankan memang... namun itulah tuntutan sebagai seorang pelajar yang baik dan sakti. Hanya pada jam pelajaran terakhir kami tak belajar. Dan Nomor ujian pun dibagian, ditambah sedikit wejangan dari wali kelas –sudah berulang-ulang- dan sedikit ancaman bagi siswa pria yang rambutnya tak sesuai standar SNI, maka si wali kelas yang berubah peran menjadi Komite Displin katanya akan memotong rambut pria yang nakal, sepertiku ini.
Dan aku mendapatkan Kartu Ujian, seperti ini:




 Hari Pertama / 1 April 2011
Hari pertama UTS, kami kelas XI hanya mengerjakan satu mata pelajaran pada hari pertama –biasanya dua-, yaitu Bahasa Indonesia. Sebuah pelajaran yang cukup menyenangkan bagiku pribadi, namun bagi teman-temanku tidak, entahlah... Teori Einstein bekerja dalam hal ini, yaitu Relativitas.
Sebelum Ujian, aku hanya membahas soal-soal tahun terdahulu dengan jenis soal yang hampir sama, dan aku segera mengambil kesimpulan bahwa soal tahun ini juga tak akan jauh berbeda dari soal-soal tahun terdahulu, dan aku tak begitu memperhatikan Buku dan catatanku –catatanku sudah tiada-.
Ketika hari H, aku berangkat dari rumah seperti biasa, yaiut dengan perhitungan matematis yang memungkinkan aku tiba di sekolah di saat bel berbunyi, dan itu pun terwujud, aku datang tepat waktu, saat pengawas sudah duduk di kursi panasnya untuk mengawasi kenakalan kami sewaktu ujian. Soal pun dibagikan pengawas muda itu, dan aku begitu shock ketika melihat soal, 90% persen teori! Tidak seperti soal-soal tahun terdahulu yang aku bahas, bahkan ini akan menjadi pembuka UTS yang buruk, karena tidak membawa bekal ilmu teori Bahasa Indonesia. Ini akan membuat reputasiku hancur, aku ingin kuliah di sastra Indonesia, namun nilaiku begitu memalukan, aku sempat berpikir. Namun, sense kepengaranganku pun muncul secara ajaib, dan setidaknya ada beberapa soal yang hanya hasil pemikiran otak bersihku ini. Aku tak begitu memperhatikannya. Namun aku memiliki satu nilai plus dalam ujian, yaitu aku berhasil mengatasi soal jebakan betmen. Dan itu cukup membuatku lega. Namun aku memprediksi nilai UTS Bahasa Indonesia ku mungkin pas-pasan atau mungkin tidak tuntas! Itu bukan urusanku.

[Soal Bahasa Indonesia bagian 1]


[Soal Bahasa Indonesia bagian 2]

Besok Ujian masih tiada lepas dari Bahasa yaitu Bahasa Britania dan Bahasa Bavarian. Aku sudah begitu yakin, bahwa Bahasa Bavarian-ku hanya akan menamparku ketika penerimaan rapor nanti. Ya, aku hanya berharap semoga esok Ujianku berjalan lancar, dan bisa dapat contekan dari si Bintang kelas yang duduk persis di belakangku.

 Hari Kedua / 2 April
Tanpa persiapan yang maksimal, dua mata ujian yang masih belum lepas dari ilmu kebahasaan kembali menguji, kali ini duet bahasa luar, Inggris dan Jerman sudah menantangku untuk mengisi lembar ujian yang suci.
Aku datang ke sekolah terlambat dan membuat salah satu guru menegurku namun aku abaikan, aku berlari bagaikan Eyeshield 21 menuju kelas dan ujian Bahasa Inggris telah menanti. Aku duduk di tempatku, yang kali sangat strategis bagi guru untuk mengawasi kesucianku. Ujian Bahasa Inggris sedikit menjebak, namun aku berharap dapat menyelesaikan 23 soal-soal itu, semoga jawaban tidak terlalu melenceng dari harapan.

[Soal Ujian Bahasa Inggris bagian 1]


[Soal Ujian Bahasa Inggris bagian 2]

Ujian kedua Bahasa Jerman. Memang sudah seperti yang diprediksikan bahwa anak asuh Bapak M. Arif tidak akan mampu melalui ujian ini, namun kami diberi ruqsah dari guru yang bersangkutan untuk mengerjakan soal yang berhubungan dengan materi yang kami pelajari, walhasil cukup dua soal yang harus kami selesaikan, meski ada sub-soal, namun tidak begitu banyak. Ujiannya sedikit anomali dari yang lain, namun kalau sudah keputusannya begitu, apa boleh buat, toh... aku juga tak mengerti satupun Bahasa Jerman. Aku masih belum bisa menerimanya sebagai salah satu bahasa primer dalam hidupku, setidaknya sekunder juga belum masuk kriteriaku. Namun berkat sedikit usaha yang sering dilakukan pelajar, Lembar Kerja Ujianku tidak kosong dan ada beberapa isian yang aku tak tahu apa yang aku tulis, karena aku hanya mencotek dan mencotek. Jangan hukum aku!!

[Soal Bahasa Jerman bagian 2]
#NB: Bagian 1 tidak diperintahkan, karena belum belajar.

Ujian hari itu berakhir, kami akan break weekend dan akan kembali bertarung hari Senin dengan Matematika dan Agama, Matematika kuharap bisa karena tidak terlalu buruk seperti kimia, dan Agama Islam, aku tak pernah mencatat, maka senjata pamungkas adalah belajar di sekolah atau fotokopi catatn kawan. Hanya dua opsi itu.

• Hari Ketiga / 4 April 2011
Ini bagaikan lelucon, aku benar-benar bagaikan pecundang yang hanya mencoret kertas hari ini. Aku tak ingin berkata banyak, yang jelas Ujian hari ini Worst Day!! Bahkan soal termudah aku sampai tidak ingat cara mengerjakannya. Bukankah ini lelucon?

• Hari Keempat / 5 April 2011
Hari ini adalah hari keempat dari siksaan ini, hidangan Fisika dan Kewarganegaraan harus kami tuntaskan. Sebelum ujian aku sempat membuat pernyataan, “Jika Anda tak sanggup melakukan keduanya, maka setidaknya anda harus menguasai salah satunya dengan serius!”. Sebagai anak IPA, selazimnya aku mendalami Fisika, namun aku mengerti Fisika-ku sudah tidak seperti Fisika kelas X, dimana aku begitu menguasai konsep, sekarang tidak, aku benar-benar dikutuk Dewa Einstein. Daripada itu aku hanya memfokuskan diri dalam Kewarganegaraan, alih-alih ini bisa menjadi nilai yang bagus, meski harus mengorbankan Fisika.
Oke, tepat pagi 5 April aku bangun dengan beban, bayangan siksaan dari Dewa Einstein. Aku harus tegar, pagi itu aku lebih awal berangkat sekolah, setidaknya untuk bisa mendengar pembicaraan kawan-kawanku lalu mencernanya, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan. Bel itu berdering maka masuklah aku ke kelas, duduk di posisi yang begitu strategis bagi pengawas untuk mengawasi kenakalanku, soal dibagikan aku sedikit lega karena aku bisa menyelesaikan soal pertama, namun berikutnya aku hanya memakai teknik logika dalam mencari, mengabaikan sejuta rumus yang menumpuk di catatanku, bahkan dengan lucunya, untuk soal terakhir, aku menulis di Lembar Kerja-ku, “MAAF BU!! DALAM KASUS KALI INI, SAYA HANYA BISA MENCARINYA DENGAN LOGIKA!!” bukankah ini sedikit gila, tapi semoga sang Guru membaca keputusasaanku yang kutulis ini. Agar dia mengerti betapa susahnya mengerjakan soal-soalnya. Tidak begitu baik memang, namun soal pertama sedikit mengobati kegalauanku ini.
Istirahat sejenak, tak lama aku harus mengerjakan Ujian Kewarganegaraan. Materi yang dibahas dalam Ujian adalah mengenai Hubungan Internasional, sedikit cerita, sewaktu kelas X aku sempat berpikir, jika aku tercebur ke kelas IPS, maka aku akan mendalami ilmu diplomaik ini, dan untung-untung nanti bisa menjadi ambasador. Sudahlah lupakanlah kenangan lama itu... Ujian Kewarganegaraanku Insyaallah bisa kujalankan dengan baik, meski ada sedikit cacat, namun semoga saja itu tak mempengaruhi hasilnya nanti.
Besok, ujian yang benar-benar selalu menjadi pesakitanku yaitu Kimia, aku yakin ujian ini pasti akan kembali menjadi batu sandungan bagiku, disertai Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, yaitu pelajaran yang tak ada materi untuk diujiankan, namun gurunya masih ngotot buat diadakan ujian. Benar-benar terlalu memaksakan diri!

• Hari Kelima / 6 April 2011
Hari ini Kimia dan Penjaskes, menurut perkiraan hari ini akan begitu lancar, karena aku tak perlu banyak berpikir, karena aku memang malas untuk memikirkan kimia dan penjaskes, alasannya jelas, Kimia aku tidak mengerti dan Penjaskes, suatu pelajaran yang 100% praktek, nihil teori di semester genap ini. Dan ku songsong langkah baru untuk ke sekolah lebih awal, tentulah untuk belajar sedikit. Oh iya, sebelum ke sekolah aku meminta rumus dasar materi titrasi dan buffer, dan Algi (temanku) memberikan dua rumus yang katanya rumus dasar lewat handphone -namun aku tak memakainya ketika ujian.
Ujian dimulai, soal ada lima butir dan soal pertama, tentulah ingatan samar rumus dalam inbox pesan yang masih kuingat. Memang awalnya sedikit salah, namun aku menerawang Lembar Soal dan aku ingat rumus itu. BINGO!
Cukup untuk soal pertama dan kedua, selebihnya aku lupa dan tidak ingat lagi, namun aku masih memaksakan dengan teori feelogi untuk menyelesaikan sampai soal nomor lima, tentulah hasilnya akan buruk, namun setidaknya ada kabar aku bisa menyelesaikan nomor 1 dan 2, itu sudah cukup, setidaknya membuatku lega dan tak tertekan hari itu.
Ujian kedua, Penjaskes. Aku sempat berdiskusi dengan kawan-kawan pra-ujian, dan memang hal-hal yang kami diskusikan mayoritas hadir di Lembaran Soal, dan lumayanlah. Mungkin sedikit lebih baik dari Kimia.

• Hari Keenam / 7 April 2011
Biologi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah tantangan berikutnya. Entah apa yang membuatku berpikir bahwa aku harus malas belajar, karena soal akan dibuat Buk Elly –beliau bukan guru mata Biologi kelasku, aku berpikir soalnya akn begitu membuatku memuntahkan segala sari-sari dari kepalaku untuk memahami soal-soalnya yang lebih seperti menyuruh kami membuat karya ilmiah. Dan TIK aku hanya menyempatkan membaca sebelum tidur –seperti membaca doa saja.
Ujian Biologi, ruang 4 (kelasku), semuanya hanya memperhatikan Lembar Jawaban menurutku. Mereka semua menghapal, dan aku telah melakukan blunder terbodoh, bahwa yang membuat soal bagi kelas XI IA3 dan tetangga XI IA4 adalah guru Biologi kami, Bapak Eko Gunanto. Tentu saja soal yang beliau berikan, adalah setiap kata-kata yang beliau keluarkan ketika belajar formal. Jelaslah ini bagaikan mimpi buruk, karena aku tidak belajar malamnya. Untuk soal nomor 1-5 aku bisa menjawabnya, namun tak tahu benar atau tidak. Untuk soal berikutnya, aku hanya pasrah pada Tuhan, berharap ada sedikit contekan. Bahkan untuk soal proses pembuatan pipis memiliki bobot nilai tertinggi, aku hanya mengingat proses filtrasi, namun aku bertanya kepada teman sebelah (Annisya), dia menambahkan padaku proses Reabsorsi dan Augmentasi, maka jadilah pipis yang sering kau buang di jamban belakang rumahmu. Sedikit ironis, hari itu pengawas selalu menegur Annisya ketika dia membeberkan jawabannya kepadaku, kenapa mereka tidak menegurku?
Ujian TIK, kembali diskusi pra-ujian, ternyata lumayan sukses, dan taktik itu kembali kuterapkan sebelum Ujian TIK. Ujian berjalan lancar, karena mayoritas soal yang ada adalah soal lama, yang sudah aku bedah bersama teman lain, namun aku begitu bodoh, aku membuat kesalahan kecil, dan semoga itu tak mempengaruhi nilaiku.
Besok, ujianku haanya satu mata ujian, yaitu Sejarah. Aku tak pernah mencatat sejarah, dan juga tak pernah mendengar –guru kami diganti sementara karena guru lama berbadan dua, jika dengan guru lama aku senang memperhatikan, meski memang tidak mencatat-.

• Hari Ketujuh / 8 April
Seminggu sudah aku ujian, semua berjalan seperti air yang mengalir, namun tentulah air yang mengalir di sungai belakang rumahku tak selamanya mulus, terkadang mereka menemui bangkai, sampah, kain basahan yang dihanyutkan air atau bahkan kotoran (maaf! Aku memang sedikit jorok kalau memikirkan hal itu), seperti itulah perumpamaan betapa menyedihkannya ujianku, namun aku masih bisa mencapai muara sungai, yaitu detik-detik terakhir Ujian –aku memang ingin sedikit bergaya dalam bahasa, namun kenapa harus jorok, tapi yang jelas Anda tak perlu merisaukannya.
Sejarah, bukankah ini masa lalu? Aku tak mengerti kenapa aku mencintai sejarah, namun ironisnya nilai sejarahku tak sebanding dengan cintak padanya, ini bagaikan rasa cintaku kepada Pevita Pearce, namun dia tak pernah menjawab cintaku, mungkin karena dia sudah punya pacar, atau mungkin dia lebih dewasa dariku, atau bahkan aku tidak bisa bernyanyi seperti Nino RAN -gini-gini eke penyanyi saweran lo, cyinn!!- Sudahlah lupakanlah Pevita Pearce, dia memang cantik –tidaaak, hidungku mimisan.
BPUPKI, PPKI, Rengasedngkolok, Poklamasi, Pertempuran Pasca-Proklamasi. Ya, inilah materi yang akan diujiankan, aku harus serius, karena kahir-akhir ujian, setan kemalasan ini kembali memayungi hari-hariku, tapi aku sudah memiliki proteksi yang cukup baik yaitu Sang motivator.
Maafkan aku hari ini! Aku memang sedikit gila, namun jika Anda tak suka dengan tulisan saya, maka jangan sesekali Anda mencaci saya, ini blog saya, kalau tidak suka silakan tekan Alt+F4 di keyboard Anda, maka Anda akan segera lenyap dari blog pecundang ini. Jika suka, lanjutkanlah membaca tulisan ini, dan ayo kita bersulang! TOAST!!
Kembali ke report! Aku sempat berdiskusi dengan kawan-kawan pra-ujian, dan ada satu soal yang menerutku tidak akan muncul yaitu, 7 komite van Aksi. Lalu aku mengabaikannya, dan tak bermaksud untuk menghapal dan mendalaminya. Ternyata hukum karma masih ada, soal yang aku abaikan itu muncul, setengah menyesal, namun aku masih mengingat 4 diantara 7 itu dan lumayanlah. Secara umum ujian sejarah, memiliki tipe soal, Trap Questions.
Semoga saja ujian sejarahku membuahkan nilai yang bagus dan setidaknya cintaku kepadanya sedikit terbalas, meski dia tidak mungkin menerima sebagai kekasihnya, karena aku telah menghianatinya, setidaknya aku bisa menjadi kekaih gelapnya.


• Hari Terakhir / 9 April
Inilah hari terakhir bagiku untuk lepas dari siksaan ini, berjalan lancar memang ujianku, namun nilai tentu tak selancar ujian. UTS ditutup oleh Pendidikan Al-Qur’an (PAQ), dan hanya itu mata ujian hari ini, sebelum ujian aku sempat berpikir, bagaimana dengan ujian kawan-kawanku yang non-muslim dan masuk kelas IPA, seperti Felix dan Parlin, bukankah mereka ujian mereka sudah usai –khusus untuk kelas IPA, ujian kami hari ini yaitu Pendidikan Al-Qur’an, tentulah mereka tak lagi mengikuti ujian, namun aku masih melihat mereka di sekolah, tapi fokus utamaku bukan itu, fokus pertama adalah PAQ, aku harus sukses dalam ujian ini, karena jika gagal sedikit banyaknya akan mencoret namaku sebagai ex-murid sekolah Islam. Kemaren (red. Jumat) sesudah ujian Sejarah, masuk sebuah pesan pada Inbox handphone-ku dari orang tak dikenal yang mengabarkan soal-soal yang akan muncul dalam ujian besok (red. Hari Ini), aku tak begitu mempercayainya, namun untuk jaga-jaga aku juga menganggap itu sebagai referensi.
Dan bel pun berdentang, aku pun ke ruang ujian, dan ketika pengawas membagikan soal, tanpa basa-basi langsung kulahap soal itu, ternyata memang, SMS nyasar kemaren bertuah, aku yang sudah jaga-jaga, lumayan lancar mengerjakan ujian hari ini, dan aku keluar pertama dari ruang yang sudah memasungku selama satu minggu penuh itu. Dan aku mengakhiri UTS semester genap 2010/2011 hari ini. Alhamdulillah!

• TRIVIA Selama Ujian.
1. Mayoritas Ujianku mengenai mata pelajaran yang berbau eksak atau berhitung, hampir semuanya gagal, bahkan hanya keajaiban yang bisa menolongku –aku sering bertanya-tanya, eksak-ku buruk, lalu kenapa aku masuk kelas IPA?.
2. Jika aku meminum susu kemasan sebelum Ujian, maka saat ujian aku merasa enjoy dan tak terlalu terbebani.
3. Ujian Matematika adalah ujian terburuk-ku pada UTS ini, karena ada beberapa soal yang selazimnya bisa kutuntaskan, seketika buyar saat aku mulai menulis jawaban.
4. Sejak Ujian hari ketiga (4/4) aku tidak lagi mengenakan ikat pinggang saat ke sekolah, karena ikat pinggang-ku putus, karena pertumbuhan.
5. PAQ-lah ujian yang aku benar-benar lancar menjawabnya, tanpa bantuan orang lain atau terkaan (kecuali soal ke-6 yang mengharuskan kami berpendapat, jadi untuk soal ini jawabannya relatif)
6. Ujian kali ini aku duduk di kursi terdepan, dengan rasio mencotek dibawah 5%.
7. Selama ujian ini, intensitas berkirimpesanku dengan my sweetheart jauh lebih banyak dari hari biasa.

NB: Untuk hal ketujuh itu hanya perasaanku saja, dan tidak ada berhubungan dengan ujian, meski kami masih berbicara soal ujian dalam beberapa kesempatan.

Terimakasih sudah membaca curhatan dalam kegalauanku menghadapi UTS kali ini, aku berharap saat Ujian Semester nanti akan sangat lebih sukses dari UTS kali ini, dan tentu saja aku bisa naik kelas dan membuat orang di sekitarku bangga.


------------------------------------------------------------

LEAVE COMMENT, PLEASE!!

Sabtu, 26 Maret 2011

Aku Dan Kenangan Baju Bola Jerami

Tahun 2003...

Saat aku masih duduk di kelas 3 SD aku begitu amat disayangi kakekku. Suatu ketika di Minggu pagi yang cerah, sang kakek yang berhobi memancing, mengajakku agar menemani beliau memancing, dan aku pun yang kala itu juga ingin merasakan nikmatnya memancing maka aku menerima tawaran sang kakek. Kakekku mengajakku memancing di sawah -di daerahku, di sawah juga ada ikan-ikan kecil- yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah, dan aku pun pergi bersama kakek menaiki mobil kijangnya, aku pergi dengan perlengkapan seadanya, yaitu pancingan kayu manual serta mengenakan kostum bola hitam AC Milan yang kala itu bernomor punggung 9 milik Filipo Inzaghi. Setiba di tempat, aku pun segera memilih tempat duduk, aku memilih duduk di onggokan jerami lembab.


"Ternyata memancing itu membosankan ya, kek!" sahutku kepada kakek.
"Sabarlah! kesabaran dibutuhkan dalam hal ini!" balas kakek.

Aku begitu benci dengan hal yang berkaitan dengan menunggu, bahkan aku seakan ingin segera pulang saat itu, karena sudah tidak tahan dengan teriknya mentari yang mulai memandikan panasnya ke atas kepalaku dan bau tak bersahabat dari jerami di sekitarku, tapi aku tidak berani untuk menganggu keseriusan sang kakek yang sudah terjebak dalam nikmatnya memancing. Aku letakkan kail-ku diatas onggokan jerami, dan aku pergi bermain ke sawah untuk mencari keong agar aku bisa bermain, namun kakekku nampaknya bisa membaca kegundahanku saat itu, dan beliau mengajakku berpindah tempat, namun aku menolak dengan alasan, aku sudah lapar dan bosan. Kami pun pulang tanpa membawa apapun hari itu. Itulah kesan pertamaku dengan memancing, yaitu membosankan dan bau.

Setiba di rumah siangnya, aku mulai tak tahan dengan bau di tubuh kurusku ini, aku segera mandi ke bak mandi, dan ketika membuka baju, aku merasakan bau yang tidak bisa diajak kompromi, aku langsung melaporkan hal itu pada nenekku, dan beliau mengatakan bahwa bajuku berbau seperti jerami lembab -saat itu aku belum tahu apa itu jerami-, dan aku telah memutuskan tidak akan memakai baju bola berjerami itu, meskipun aku tahu kalau baju itu salah satu hadiah dari pamanku yang baru balik dari China Taipei.
Cukup lama aku membiarkan baju menganggur di lemari pakaianku. Sampai suatu saat, datanglah temanku, dia lebih tua dariku, dan dia diam-diam memohon kepadaku agar aku memberinya salah satu dari koleksi baju bolaku, agar dia bisa masuk klub bola SSB di daerahku, dan tanpa pikir panjang aku langsung memberikan baju bola Milan berjerami itu kepadanya, meski pada saat itu sudah tak berbau jerami lagi, namun baju itu cukup berdampak padaku dan aku membenci bau pada baju itu, dan itu juga menyebabkan aku membenci jerami.

Namun akhir-akhir ini aku sudah mulai bisa menerima keberadaan jerami, karena salah satu Anime favoritku menceritakan kisah Bajak Laut Topi Jerami. Entah kenapa aku sudah mulai betah duduk di jerami kering, tapi kalau jerami lembab mungkin masih belum bisa.


Aku dan Kenangan Cinta Dalam Demokrasi

Tahun 2004...

Ketika itu aku masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, selain menimba ilmu dari sekolah dasar yang mayoritas mengajarkan ilmu duniawi -kata guruku sih gitu-, aku juga mengecap pendidikan di TPA, atau di daerahku ini biasa disebut Madrasah Diniyah Awalliyah (MDA), di MDA ini aku tidak hanya belajar mengaji ataupun kisah Nabi dan Rasul terdahulu, namun kami juga diberkahi ilmu-ilmu agama lain seperti Al-Qur'an Hadits, Sejarah Islam, Akidah Akhlak, Fikih Ibadah dan juga Bahasa Arab dasar, yang dimana di sekolah pagiku pelajaran ini merupakan pelajaran minoritas, bahkan tidak pernah diajarkan. Di MDA kami belajar tidak hanya di Masjid, tapi kami juga belajar pada tahapan kelas yang sistematika, dimana kami juga belajar di kelasa-kelas yang tersedia dengan guru yang beragam pula, belajarnya dari siang sampai sore.


Oke... Dalam cerita kali ini, aku akan menjemput memori lama yang hampir hilang, yaitu ketika aku duduk di kelas 3 MDA (di MDA juga ada tahapan kelas), di suatu sore yang mendung dengan suasana kelas yang begitu hiruk -menggambarkan betapa nakalnya kami :)- pada tahun ajaran baru, guru pun masuk ke kelas kami dan dalam beberapa detik suara hiruk itu pun frekuensinya menurun. Kami pun berdoa sebelum belajar dan sebelum belajar kami dianjurkan (kesannya wajib sih) untuk membayar infak -biasanya Rp. 100,- atau 10% uang jajanku- sebelum itu pun guru pun dengan tegas akan mengadakan susunan struktur kelas yang baru untuk menunjuk ketua kelas dan wakil ketua kelas. Momen ini begitu membuatku bersemangat, karena momen ini adalah momen bagiku untuk menunjuk temanku yang tak punya potensi untuk menjadi seorang leader, akan aku tunjuk dan akan aku buat dengan satu hak suaraku ini menjadi awal kehancuran kelas. Namun rasa senang itu seketika berubah menjadi mendung pekat pada hawaku -kebetulan di luar juga sedang mendung- aku ditunjuk oleh teman-teman sebagai salah satu kandidat, sepertinya mereka sudah bersekongkol ingin menjatuhkan dalam lubang hitam ini yaitu sebagai ketua kelas, mungkin tujuan mereka agar aku lebih mengurangi intensitas absenku. Guru pun mengesahkannya dan aku bersaing dengan temanku yang namanya Rahmat.

Sebentar... Sebelum meneruskan cerita ini, aku akan menjelaskan hal penting! Aku dan Rahmat adalah pria yang secara tidak langsung bersaing demi memperebutkan seorang wanita di mata temanku, karena sejak awal aku pindah -aku murid pindahan dari Padang saat kelas 3- ke Solok ini, hanya beberapa hari setelah itu aku langsung dijodohkan ala anak SD dengan seorang gadis, sebutlah namanya Dia. Awalnya sih di kelas 3 aku tak menyukainya, namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak perlakuan penjodohan itu kepadaku, rasa cinta itu sedikit muncul -sedikit cuma, gak usah lebay deh..-, bahkan ada hal terbodoh yang dilakukan di jembatan dekat sekolah, salah seorang temanku (aku belum tahu siapa, bahkan sampai sekarang) dengan berani membuat di jembatan tulisan yang sangat tidak bermakna, dia menulis "Dia ♥ Sidiq". What The Hell?? bahkan ini jauh lebih memalukan dibandingkan ketika anda membuka baju anda di jalanan kota Tokyo. Namun bagiku tak masalah, toh aku juga suka Dia saat itu. Namun ketika beberapa bulan setelah itu, aku melihat hal yang menyedihkan dibawahnya, entah bangsat mana yang menulis, dengan lantang terukir sebuah tulisan "Dia ♥ Rahmat". Ini sedikit membuatku tergoncang, sejak kapan Dia menghianati cinta suci ini? -padahal kami berdua tidak pernah berbicara-. Namun aku tidak bisa marah, karena aku dan Rahmat teman, kami bukan rival.

Kembali ke hari pemilihan yang bodoh itu... Karena kandidat hari itu hanya aku dan Rahmat, maka sorotan kelas pun langsung tertuju ke arah Dia, intinya "Siapa yang akan dipilih Dia?" bahkan aku hari itu berpikir ini adalah ajang, "Nama siapa yang berhak bersanding dengan nama Dia di ukiran jembatan?" . Saat pemilihan itu aku benar-benar berharap satu suara Dia bagiku bahkan bisa mengalahkan tigapuluh suara responden yang lain, karena saat itu bagiku suara Dia lah yang terpenting.

Pemilihan pun dimulai, secara mengejutkan aku memimpin perolehan suara dari Rahmat sekitar jarak lima suara. Dan tibalah saat yang membuat jantung anda berdebar kencang. Saat dimana satu suara yang dinantikan publik kelas 3 pun tiba, dia dengan malu-malu mengatakan, "Shidiq!". Oh No... aku begitu gembira hari itu. Dan seisi kelas pun bagaikan grup paduan suara upacara bendera dengan serentak bersorak, "Cieeeee.... Dia milih Shidiq". Bahkan momen ini aku selalu memikirkannya bahkan ketika mandi aku sering tersenyum membayangkan hari itu. Pada akhirnya aku menang pemilihan itu, aku bersedih sekaligus senang, yang membuatku sedih adalah karena aku menjadi ketua kelas -suatu jabatan yang paling kubenci saat itu- satu lagi, karena aku dipilih Dia secara tidak langsung, dan mengalahkan Rahmat. Namun ada satu hal yang luput dari pemikiranku hari itu, bahwasanya Rahmat juga berusaha keras mengelak dari jabatan membosankan itu, ataukah mungkin ini merupakan konspirasi Dia agar aku senang dan melupakan jabatan ketua kelas itu, atau mungkin ini agar membuat Rahmat senang karena dia berhasil gagal dalam pemilihan itu. Saat itu aku sampai berpikir begitu. Tapi, yang jelas bagi orang awam, Dia memilihku, bukan Rahmat.

Ketika aku kelas 6, dia pun kelas 6, namun Rahmat sudah kelas 7 dan sudah SMP. Aku baru tahu bahwasanya Dia dulu menyukai Rahmat dan aku mengetahui hal itu karena pada awal kelas 6, siswa kelas 6 benar-benar menjadi Couple Hunter, salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan menulis namanya dengan nama orang yang dia suka lalu dibatasi oleh gambar hati, saat itu aku melihat bahwa yang ditulis Dia di tangannya, adalah namanya dan nama Rahmat. Jadi, saat itu aku mengerti bahwa Dia lebih memilih Rahmat, dan Rahmat lah yang menang dalam ukiran nama di jembatan itu. Tapi, entahlah, setelah masuk SMP pun, aku dan Dia sudah tidak bertemu lagi, namun SMU aku kembali bertemu Dia, tapi sejak saat kelas 6 itu Dia tak pernah lagi menemui cinta monyetnya yaitu Rahmat.

Jumat, 25 Maret 2011

Aku Dan Kenangan Merman Pada Jam Pelajaran Biologi

Okeh blog! ini saya mau bikin sedikit rubrik mengenai beberapa kenangan masa dulu saya yang pantas untuk ditulis padamu, meski tak ada yang membaca, yang penting aku sudah menulisnya. Rubrik ini aku beri judul folder, "Aku dan Kenangan..." (lihat di label).
Ini cerita pertamaku dalam rubrik ini yang kuberi judul "Merman Pada Jam Pelajaran Biologi"...

Tahun 2009...
Ketika aku masih mengenakan seragam putih bercelana biru yang pada saat itu aku menjadi senior diantara junior a.k.a kelas 3 SMP :D
Ya... pada jam pelajaran Biologi yang saat itu dibimbing oleh Buk Parti Erlinda yang merupakan guru Biologi terbaik di MTsN Kota Solok pada zamanku dulu. Hari itu aku dan teman sekelas belajar Biologi dengan materi aku tak begitu mengingatnya, namun pada hari itu kami membahas ekosistem laut, pelajaran hari itu berlangsung khitmat, tak ada suara yang menganggu, karena jam pelajaran itu dilaksanakan pada Kamis pagi, yang notabene siswa masih bersemangat untuk mengikuti pelajaran.

Aku yang pada saat itu ingin memperdalam peran sebagai siswa kritis mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut sang pahlawan, juga coretan non-sistematis sang guru di papan tulis kucatat semua saripati materi dengan sedikit kata penghubung agar catatan mampu menutupi coretan non-sistematis itu menjadi catatan yang sistematis sehingga mudah dibaca ketika ujian semester dan juga ujian akhir (kami saat itu sudah kelas IX). Sang guru saat itu begitu bersemangat di satu jam awal, sampai bel pertama berbunyi, menandakan pelajaran sudah mencapai setengah periode penuh. Dan jam kedua adalah jam bagi kami untuk share atau sekedar menanyakan hal yang terbentur di pikiran mengenai pelajaran biologi,. Ya... khusus dengan Buk Linda (nickname sang guru) lah kami diberi satu jam untuk hal seperti ini.

Aku yang pada saat itu juga menjadi seorang Death-Maniac One Piece, mulai berdiskusi dengan kawan sebelah, namanya Bobi perawakannya sedikit aneh, dia berkumis dan rambutnya bergulung serta bulu tangannya yang tebal, namun dia bukan manusia Pithecantropus Paleojavanicus atau bahkan Megantropus, dia masih manusia, namun kadar tumbuh rambut / bulu di badannya begitu cepat, bahkan aku yang sekarang (kelas XI belum mampu menandingi intensitas bulunya). Bobi jugalah seorang penggila One Piece yang terkena sengatan virus One Piece dariku -karena begitu rajin meminjam komikku- aku dan dia mulai mendiskusikan hal-hal mengenai ekosistim laut. Terlintas di benakku ini suatu pertanyaan yang pasti akan mebuat Buk Linda akan menangguhkan pertanyaanku -karena aku begitu bangga jika guru menangguhkan pertanyaanku, entah karena apa?-, yah, lalu aku berdiskusi dengan Bobi mengenai pertanyaan hebatku ini. "Menurut keberadaan merman itu di laut shahih, tidak?" tanyaku kepada Bobi, sembari membangun suatu pertanyaan untuk ditangguhkan.
"Entahlah, merman seperti nenek Kokoro, yang kau maksud, tulang?" dia kembali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan agar aku lebih memebri pencerahan.
"Ya, seperti nenek seksi itu!" aku mengiyakan.
"Menurutku, kau harus menanyakannya kepada Buk Linda!" dia mendukungku untuk segera mengacungkan tangan dan bertanya mengenai eksistensi Merman di dunia nyata ini.
"Baiklah, aku akan menyusun kata dulu, biar lebih seksi terdengar di telinga orang awam." aku mulai memikirkan kata-kata yang tepat.
"Ya, itu urusanmu, biarkan aku sendiri sambil membaca komik." lalu Bobi membuka kembali halaman komik yang tadi sudah dia mark.

Aku pun mengacungkan tangan dengan sejuta keyakinan bahwa pertanyaanku akan ditangguhkan. Buk Linda memberiku izin untuk bertanya. Aku langsung mengambil nafas sembari bertanya, "Buk Apakah Merman itu ada di laut, jika ada tolong jelaskan!" aku begitu bangga, dan Bobi juga tersenyum melihat kejantananku dalam bertanya.
"Baik Sidiq, saat ini saya belum memiliki referensi mengenai Merman, pertanyaanmu saya tangguhkan!, berikutnya!" Buk Linda tampak pasrah dan menangguhkan jawabanku, setelah itu meminta kepada murid lain untuk bertanya.

Tak terkira betapa bangganya aku hari itu, pertanyaanku ditangguhkan, berarti pertanyaanku super-hebat -bagiku jika guru menangguhkan pertanyaanmu berarti kau adalah siswa luar biasa-. Ini gila! dan aku menunggu jawaban dari Buk Linda, namun Buk Linda tak kuncung memberi jawaban atas pertanyaan hebatku itu.


Lama setelah itu, ketika aku telah SMU...
aku pun membaca One Piece terbaru di komik tankuboon dan aku membaca suatu penjelasan dari sang Mangaka, Eiichiro Oda, bahwa Merman hanyalah karakter fikitif yang hanya ada di dunia One Piece, bahwasanya merman adalah Mermaid Man atau manusia duyung!
Aku tersentak sembari menjemput kenangan kelas IX lalu dan seakan malu jika Buk Linda benar-benar menjawab pertanyaanku mengenai Merman itu, bahkan aku akan dicap sebagai siswa kritis paling menyedihkan, karena aku terlalu berfantasi dalam komik sehingga aku pun membawanya ke dalam dunia nyata.
Untunglah Buk Linda tak menjawabnya! Aku beruntung, jika pertanyaan bodoh itu dijawab maka aku tak lebih dari siswa sok-kritis.

Cerita ini seakan membangunku untuk menjadi seorang pribadi yang hrus benar-benar berpikir masak sebelum bertanya atau berbicara, jika tidak kau hanya akan menjadi seorang yang menyedihkan, karena ke-soktahuanmu akan membawamu pada rasa malu yang dalam.
Setidaknya pepatah, "Lebih baik diam daripada sok tahu" cukup relevan untuk menggambarkan betapa menyedihkan cerita ini.
LOL :D


Selasa, 22 Februari 2011

Catatan Seorang Pria: Indahnya Cinta

Hal Tak Terbayangkan Itu Terjadi...

Sabtu ini, 19 Februari 2011. Anda mungkin tidak pernah merasakan bahwa sesuatu yang anda rencanakan akan berjalan sesuai harapan, tapi sebaliknya hal yang tak pernah anda rencanakan akan meledak dan anda akan begitu surprise, itulah momentum tak terduga. Ya, aku merasakannya pada hari ini.

Ku mulai hari ini dengan tak begitu baik, berharap tak ingin datang ke sekolah, namun jalan takdir tak mengizinkan, maka aku beranjak ke sekolah, meninggalkan sepetak ruang sempit yang tak begitu bersih. Hari Sabtu ini aku nyaris datang terlambat ke sekolah, aku beruntung beberapa detik sebelum 7.20 pagi -itulah limit bagi mereka untuk masuk sekolah-. Ya untuk pertama kalinya semester ini aku duduk di depan mulut guru dan aku tak merasa risih -tak seperti biasanya-, dan aku begitu enjoy dalam belajar. Semoga ini menjadi momentum kebangkitanku dari keterpurukan ini. Sampai pulang sekolah aku merasa enjoy, juga dengan ulangan TIK ku, ya meski ada beberapa kesalahan, tapi itu tidak begitu buruk.
Seperti biasa ini hari Sabtu, malam ini adalah satnite, beberapa minggu terakhir aku begitu merindukan malam ini, tentu anda tahu ini adalah momen yang tepat untuk menghabiskan malam dengannya dengan berkirim pesan, membicarakan hal yang tak penting. Tapi aku suka satnite seperti itu dengannya. Namun ini tidak biasa, aku telah memvonis bahwa aku tak akan berkirim pesan via telepon genggam padanya malam ini, karena handphone sedang tidak padanya. Kulalui sore dan malam ba'da Maghrib dengan ketidakjelasan, tak bisa gaming atau berkirim pesan dengan 'dia'. Ya sampai pukul 21.00 aku masih menunggu short message service (SMS) dari dia, sampai HP-ku bergetar pada pukul 21.04, aku dilihat ada 5 pesan masuk, 2 pesan dari kawan dan 3 darinya, dia menyatakan bahwa dia merindukanku, dan aku membalas bahwa aku juga merindukannya. Ya, kami sudah 4 hari tiada berkirim pesan. Bayangkan! rindu ini begitu menyiksa, hanya melihatnya lewat Mesjid atau menoleh beberapa detik ke kelasnya, namun pada 18 Februari aku melihatnya dan dia menyapaku, dia memang tak begitu cantik, dia memang tak begitu mempesona, tapi selama 3 minggu proses pendekatan, aku melihat suatu hal penting mengalahkan hal yang disebut diatas yaitu Her true Love for me. Ya, ketulusannya mencintaiku itu bagaikan semacam hujan yang mampu membasahi tanah gersang, dengan ketidakunggulan parasnya, dan ketidakcantikannya bagaikan tanah gersang, namun ketulusannya cintanya adalah hujan yang mampu menghilangkan kegersangan pada dirinya, dan inilah yang membuatku menyukainya. Aku pernah beberapa kali jatuh cinta kepada wanita hanya dengan melihat keunggulan parasnya, namun aku melupakan suatu item terpenting untuk membangun hubungan, yaitu rasa saling mencintai antarinsan dalam menjalin hubungan. Ya, aku tak peduli orang berkata apa, tapi sudah tahu bahwa dia mencintaiku dengan segala kekurangan yang aku miliki, dan aku begitu bijaksana memilikinya. Awal melihatnya aku galau, kenapa dia tak secantik orang yang kutaksir sebelumnya, namun aku tetap percaya padanya bahwa dia tidak main-main, namun dalam posisiku sebagai seorang jantan maka tugaskulah untuk memberikan cinta kepadanya, ya itu bagaikan pelajaran kimia, ketika ion negatif mendekat menuju postif dan membangun suatu senyawa sempurna. Lupakan kimia... -karena ini bukan jam kimia- Sekarang aku paham, setalah menemukannya, dan sebelumnya cinta yang selalu ditolak selama 8 bulan oleh seorang wanita yang menyukaiku namun tak bisa mencintaiku, bahkan pasca ditolaknya aku drop, berimbas pada prestasi akademikku. Dan dari situlah aku paham dan bisa berkesimpulan, "Merajut tali kasih bukanlah sebelah pihak, rasa sayang itu merupakan pondasi untuk membangun suatu hubungan panjang". Indah bukan jika anda memiliki seorang kekasih yang juga memberikan feedback kepada anda?
Ya cukup 45 menit bagiku untuk basa-basi padanya, puukul 21.51 aku ungkapkan bahwa aku menyukainya dan aku ingin menjadi kekasihnya. dan pukul 21.57 dia menjawab bahwa dia juga mencintaiku dan bersedia menjadi kekasihku. Maka resmilah 19/2/11:9.57am aku memacarinya dan dia menjadi pacar kedua dalam hidupku, seharusnya ketiga. Tak lama pasca aku memacarinya, aku meleponnya untuk pertama kalinya dan entah kenapa aku merasakan hawa nervous pada dirinya, dan 'Falling for U - Seconhand Serenade' darinya menutup teleponku padanya.
Ya... Hari ini aku resmi mendapatkan seorang wanita tak sempurna namun terlihat sempurna dan aku bijaksana menjadi bagiannya.


Senin, 24 Januari 2011

Kembalikan Sportivitas Sepakbola!!


Belum genap sebulan pasca AFF, sepakbola Indonesia kembali berulah dengan munculnya Liga tandingan yang namanya Liga Primer Indonesia, yang digagas pengusaha kenamaan, Arifin Panigoro. Kita seakan telah melupakan gaung semarak AFF yang kala itu mampu menyatukan semua warga Indonesia karena sepakbola, mulai dari pengasong sampai RI 1 tersihir selama Desember 2010 pada satu dukungan yaitu, Garuda Terbanglah Yang Tinggi!! Namun kita masih gagal, tapi kedewasaan suporter kala itu begitu tampak, ‘kecurangan’ Malaysia di Kuala Lumpur dapat kita balikkan dengan kemenangan di laga pamungkas, sayang kita belum juara, namun para pendukung tak anarkis, atau bahkan mengecam Malaysia, mereka sudah dewasa, bahkan lebih dewasa dari mereka! Mereka yang saat ini bertanggung jawab penuh atas persepakbolaan negeri ini.

Namun rasa persatuan itu seakan memudar begitu cepat, hanya seminggu pasca final, kita kembali terpecah, kali ini karena hadirnya dua liga profesional dalam satu negara, yaitu Indonesia Super League (ISL), yang induk semangnya PSSI, serta Liga Primer Indonesia (LPI), yang muncul dari pihak independen, yang katanya ingin menunjukkan bahwa sepakbola adalah olahraga yang harus menjunjung tinggi sportifitas dan kemandirian dari sebuah klub, yang selama ini tak terasa kental di ISL, bahkan sisi terpenting yaitu sportifitas dalam sepakbola telah dicederai oleh mereka penguasa federasi. Karena sudah geger dengan hal itu maka muncullah LPI dengan gagahnya dan PSSI menolak secara tegas kehadiran LPI, dan mencap LPI tak lebih dari kompetesi Tarkam yang ilegal. Ini menunjukkan suatu indikasi bahwa PSSI begitu tak ingin ketunggalannya dalam mengolah sepakbola Indonesia dengan cara mereka, dicampuri oleh pihak luar.
Nurdin Halid vs Arifin Panigoro adalah hal penting dalam munculnya masalah ini. Nurdin yang secara tidak langsung masih ingin menjadi presiden PSSI seakan tersaingi dengan munculnya Arifin Panigoro, yang belakangan juga mengincar kursi empuk PSSI. Namun siapa yang tak garang jika kenikmatan yang sedang dirasa akan terampas. Tentu semua marah, seperti itulah mungkin hakikatnya bagi Nurdin ‘Puang’ Halid, kenikmatannya menjadi presiden PSSI begitu ia dapatkan, tapi prestasi tak kuncung ia datangkan, Nurdin tak pernah menyadari bahwa kenikmatannya di PSSI saat ini adalah derita bagi kami, para penikmat sepakbola Indonesia, yang rindu akan gelar. Sementara Arifin begitu yakin bahwa LPI akan sukses dan secara tidak langsung ia sudah menarik perhatian rakyat, dan dengan itu pula jalannya untuk menduduki kursi yang diduduki Nurdin saat ini akan mendapat dukungan dari rakyat. Jika memang itu tujuan Arifin, maka ia juga merusak sportifitas sepakbola, ia memecah persatuan yang sudah terjalin semenjak AFF dengan Liga Primer Indonesianya yang sudah membuat persepakbolaan Indonesia menjadi sorotan Federation International Football Asociation (FIFA), yang konon kabarnya akan menjatuhkan hukuman kepada PSSI jika LPI tetap bergulir.
Intinya, baik Nurdin ataupun Arifin tak perlu mencalonkan diri menjadi presiden PSSI, berikanlah jabatan itu kepada orang yang benar-benar mencintai sepakbola Indonesia, dan dia bekerja di PSSI karena Indonesia bukan karena uang. Saya yakin jika ketua PSSI seperti kriteria diatas, saya yakin bahwa sepakbola negeri ini akan bangkit dari mati surinya, dan akan kembali seperti dulu, bahkan lebih. Memang sepakbola adalah olahraga yang notabene keras tapi kita tak perlu keras dalam mengurusnya, keikhlasan dari pemimpinnyalah yang akan mengubah semuanya. Sepakbola bukan politik yang penuh dengan kejanggalaan dan kebohogan. Saya ingat Butet Kertarejasa pernah berujar dalam acara parodi, “Sepakbola berbeda dengan politik, kesuksesan dalam sepakbola adalah kesuksesan bersama, sementara kesuksesan dalam politik adalah kesuksesan pemimpinya.” Jadi jangan pernah sesekali menyamakan sepakbola dengan politik. Kembalikan Sportifitas Sepakbola, wahai para perampas!!

Dilema Dalam Berpendidikan. Apakah Ini Sudah Tepat ?


Oleh: Ashiddiq Adha

Sekolah adalah media yang memberikan ilmu kepada manusia, sekolah adalah salah satu lembaga sosial yang berpengaruh bagi seseorang. Tentu saja, karena sekolah lah yang pertama kali memperkenalkan segala sesuatu kepada seseorang, mulai dari hal-hal kecil seperti membaca, bertata krama, sampai hal yang tak terduga seperti angkasa luar, dan sebagainya. Tentu saja banyak manfaat sekolah.


Namun satu hal yang kucermati saat ini mengenai pendidikan di Indonesia, dan saya pribadi menjadi pemeran dalam proses sekolah, saya pribadi bersekolah di salah satu sekolah negeri yang cukup bergengsi di kota saya, dan tak tanggung-tanggung sekolah memberikan suatu batas pencapaian minimum yang harus kita capai agar kita bisa menuntaskan secara nilai salah satu mata pelajaran, tujuannya sangatlah baik, mendidik kita agar tak bermain-main di rumah, dan selalu menyempatkan waktu untuk belajar.

Satu hal yang ingin saya ungkap dalam artikel ini adalah apakah pendidikan Indonesia ini sudah tepat? Kenapa saya bertanya seperti itu? Saya memiliki suatu dasar yang sangat sederhana yakni apakah 13 mata pelajaran yang disodorkan setiap minggunya harus kita kuasai? Manusia bukanlah makhluk sempurna, tentu juga tak memiliki kapasitas pemikiran yang luar biasa. Kenapa di Indonesia sekolah lanjutan masih mempelajari semua pelajaran, meski secara formal SMU sudah memiliki jurusan, namun 13 mata pelajaran yang selazimnya cukup banyak, harus dikuasai 75% (khusus di sekolah saya), secara kau harus memiliki nilai minimum 75! Hal ini sangatlah buruk bagi siswa yang memiliki kemampuan standard seperti saya, karena hal ini tidak mudah, ujung-ujungnya siswa akan pasrah dan tidak belajar, dan mereka akan mendapatkan nilai yang tidak memuaskan dan akan bermuara pada hal-hal yang tidak diinginkan seperti putus sekolah, dan menjadi pengangguran.

Kenapa di Indonesia ini pendidikan lanjutan tidak harus menjurus kepada suatu bidang yang pribadi itu memiliki minat juga memiliki potensi di bidang itu, meski untuk sekolah lanjutan Depdiknas telah menyediakan SMK, namun saya juga tidak melihat peran yang signifikan dari SMK (ruang lingkupnya adalah kota saya), sudah dijuruskan tapi tetap ada juga yang menjadi pengangguran. Seyogya Depdiknas juga harus mencari jalan keluar dalam masalah ini, apakah setiap siswa yang ada di sekolah lanjutan diberikan suatu bidang yang mereka kuasai dan sukai agar mereka memiliki kemampuan yang jelas, tidak seperti sekarang, siswa diharuskan menghapal banyak mata pelajaran, namun jika tak ada yang mereka kuasai atau tanggung-tanggung, juga tidak akan membuahkan hasil. Toh, nanti ujuang-ujungnya pekerjaan yang akan kita dapatkan hanya satu pekerjaan, dan kita tak mungkin menjadi guru matematika merangkap guru sastra sekaligus menjadi guru sosiologi. Benarkan?
Kita bisa melihat negara-negara lain, yang minim pengangguran dan memiliki banyak SDM yang berkualitas, mungkin saja mereka menerapkan cara yang saya paparkan yaitu mendalami suatu bidang, fokus pada bidang itu, dan tak tanggung-tanggung, mereka all-out pada bidang itu, karena mereka telah yakin bahwa bidang itulah yang akan membawa mereka kelak di masa depan agar menjadi orang! Kenapa kita harus banyak mendalami bidang, namun muaranya kita hanya akan menjadi pengangguran.

Ini hanyalah aspirasi saya, saya tak menuntut Mendiknas mendengar ini, karena sekarang adalah era-Reformasi, era-Demokrasi, maka kita harus bisa memanfaatkan peluang untuk berpendapat ini, tentu saja dengan berpendapat. Jika para pembaca ada yang tidak setuju dengan artikel singkat ini, saya minta maaf, karena saya masih belum bisa membuat artikel seobjektif mungkin, karena mungkin masih subjektif. Namun jika para pembaca ingin memberi saya saran ataupun kritik, silakan karena dengan kritik dan saran itulah saya dapat berkembang!