Rabu, 16 November 2011

Masih Cinta Timnas 'kah Kita ??




Kita tentu masih mengingat bagaimana kurang lebih 11 bulan ke belakang seorang Austria bisa mengubah paradigma masyarakat mengenai Tim Nasional Indonesia lewat permainan nan menghibur dari timnya. Namun sekarang, seorang Belanda menyihir paradigma itu menjadi sebuah mimpi buruk.

Bukan maksud mengkomparasikan Alfred Riedl dengan Wilhemus Rijsbergen dalam pengantar tulisan ini, tapi tulisan ini menjadi salah satu media bagi penulis untuk menyampaikan keresahannya melihat (kembali) menipisnya animo masyarakat menyaksikan Tim Nasional Utama bangsa ini.

Kita memang sudah masuk kotak dalam perburuan menuju babak 10 besar Kualifikasi Piala Dunia zona Asia, tapi bukan berarti ini akhir segalanya, banyak hal yang perlu diperbaiki dari tim ini. Hal pertama yang perlu disoroti adalah kinerja perancang strategi permainan. Kita telah melihat bagaimana sepak terjang Meener Wim dalam usahanya memperbaiki tim nasional. Dari 8 laga resmi yang dijalani eks-anak buah Rinus Michel iniadalah 1 kali menang, sekali bermain imbang, sisanya menahan malu. Memang sih, kita pernah menahan Arab Saudi di laga ujicoba, tapi itu seakan tiada arti karena setelah itu kita tak bisa mengulangi hasil positif tersebut. Bukan menyalahkan Wim, tapi itulah tanggung jawab pelatih, dimana timnya kalah maka dialah orang pertama yang bertanggung jawab atas kegagalan, tapi Wim tak seperti itu, pelimpahan kesalahan dilimpahkan kepada anak-anaknya, logikanya senakal-nakal anak, tak pernah seorang ibu menyalahi anaknya. Tapi Wim tak bisa bertindak seperti itu, ia seakan lepas tangan, dan menyalahkan kinerja pemainnya, yang ia tegaskan bahwa pemainnya tak memiliki skill dasar bermain bola! Kata-kata pedih itu terucap saat Indonesia dipermalukan Bahrain di rumah sendiri. Penonton tak kalah kecewa, ungkapan kekesalan dilampiaskan dalam bentuk anarki barbar. Tapi tentulah kekesalan itu bukan tanpa sebab, permainan yang menghibur tak melulu dipertontonkan membuat penonton seakan merugi menggocek kantong dan meluangkan waktunya hanya untuk memberi kekesalan bagi mereka.

Puncaknya kemaren, saat melawan Iran, kita seperti tak punya semangat untuk berusaha setidaknya tak dipermalukan, tapi semangat itu seakan tak terpancar dari cara bermain para arjuna bangsa. Dan yang lebih parah lagi, puluhan ribu sorak sorai yang biasanya menjadi amunisi tambahan bagi tim, seakan hilang. GBK sepi. Selama saya menonton Timas Indonesia, tak pernah saya melihat stadion pendiri bangsa itu sangat lengang seperti kemaren. Semua itu adalah bentuk kekecewaan. Mulailah PSSI berkaca dan mengintrospeksi diri atas lengangnya minat masyarakat mendukung tim nasional kita. Perbaharuilah yang seharusnya diperbahurui, hilangkanlah yang seharusnya dihilangkan. Jangan lagi mencari kambing hitam atas semua itu. Kapten tim Bamabang Pamungkas menyadari akan kekecewaan massa atas apa yang terjadi, dan dia meminta agar semua mulai mengintrospeksi diri. Kapten hebat kita itu sadar bahwa jika berlarut-larut dalam mencari hitam tidaklah menyelesaikan semuanya. Jangan biarkan kehilangan rasa respek dari penonton awam kepada Timnas hilang, seiring dengan kinerjanya yang gagal. Telah nyata buktinya bahwa, Timnas gagal! Tak perlu lagi ditawar, ini sudah sampai batas akhir. Lakukan perombakan total!

Kami masih loyal kok!
GBK sepi, bukan berarti keloyalan suporter dipertanyakan. Jangan sampai menyalahkan suporter, jangan pernah menganggap kami mendukung arjuna kami kala menang. Tidak! Kami mencintai tim kami, tapi buat apa mendukung tim yang sudah kehilangan semangat untuk bangkit. Buktinya, GBK padat merayap kala timnas SEA Games bertanding, bukan berarti kami Glory Hunter (Pengincar kejayaan), kami merasa terhibur pada permainan mereka dan mereka membuat kami bangga. So, don’t judge us as unloyality fans. Sepakbola adalah hiburan, kami berhak mendapat hiburan dari pekerja lapangan hijau sekaligus membanggakan kami. So, berbenahlah PSSI! Tunjukkanlah Pak Djohar kalau anda memang bukan pemimpin gagal! Ditunggu penagihan janjinya ya, Pak!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar