Tampilkan postingan dengan label Aku Dan Kenangan.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku Dan Kenangan.... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

Aku Dan Kenangan, Cinta Monyet nan Prematur

Padang, 2001...
Jika aku menyemput lagi memori atas kenangan ini, aku selalu tertawa membayangkannya. Entah kenapa? Aku selalu berpikir bahwa kisah ini terlalu buruk untuk tidak diceritakan. Kalau begitu akan kuceritakan. Memang sedikit hiperbola dalam penyampaiannya, namun ikutilah bahwa kalian masih bisa menangkap fakta dari ceritaku.

Saat aku masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, aku pernah tertarik dalam hal yang namanya cinta. Terlalu berlebihan? Tidak, ini fakta. Aku menyukai seorang gadis yang cantik dan manis, yang rumahnya sekitar 30 meter dari kediamanku, namanya adalah Rieke. Izikan aku beberapa saat untuk mengenang parasnya dan mendeskripsikan seberapa yang kuingat atasnya, dia adalah wanita yang cantik, mempunyai senyuman yang memikat, kalau ngak salah ada lesung pipit di pipinya, yang jelas dia tinggi dariku. Lalu aneh dan berlebihannya dimana? Rieke adalah seorang siswa kelas 4 SD (2001/2002, red). Hah? Memang aneh, aku suka pada seorang yang dua tahun usianya diatasku dan aku selalu terpikat ketika melihatnya. Ternyata aku tumbuh dewasa begitu cepat.

Di sore yang cerah, aku sedang bermain dengan temanku, Arif Prastyo Wibowo, aku memanggilnya Bowo. Dia adalah teman akrabku semasa aku masih di Padang, kami selalu bermain bola bersama, menonton serial Pokemon dan Digimon bersama, pergi sekolah bersama dan melakukan hal yang buruk bersama. Meski hubungan orang tua kami tidak begitu harmonis, karena Bowo pernah menceburkanku ke dalam lumpur sepulang sekolah, hal itu membuat Ibuku naik pitam tiada kepalang, asap pun menggumpal diatas kepalanya, dan lalu ibuku memarahi Bowo di depan Ibunya, dan tentu kalian bisa menebak, seperti apa jika ibu-ibu bertarung. Kisah pilu ini insyaallah akan kuceritakan dalam waktu dekat. Meskipun begitu aku dan Bowo masih tetap berteman seperti biasa, meski terkadang Bowo sering menjahatiku, seperti meninggalkanku saat bermain sepeda, memukul kepalaku, membajak uang jajanku. Sudahlah, cerita mengenai Bowo akan kuceritakan lain waktu, kembali dulu ke cerita Kak Rieke. Pada sore itu tanpa sengaja aku melepaskan suatu kalimat yang tentu saja akan merubah hari-hariku kedepan, dan pandangan teman-teman terhadapku. Aku melepaskan kata-kata, “Aku menyukai Kak Rieke!!” di depan Bowo dan Yuli, teman wanitaku, seorang cadel. Tanpa basa basi Bowo langsung berlarian ke rumah, dan dia mengancamku bahwa dia akan mengadukan statement-ku barusan pada Kak Rieke, lalu dengan bangga dia berlarian dengan Yuli menuju luar rumahku, lalu aku segera mengehentikan mereka agar tidak mengatakan itu, namun mereka mengabaikan permintaanku. Untunglah, sore itu Kak Rieke sedang tidak di rumahnya, maka prosesi acara bodoh itu gagal, dan aku memohon kepada mereka agar tidak mengatakan hal itu kepada Rieke, karena hal itu akan berdampak buruk bagiku dalam pergaulan, karena tentu saja teman-teman yang lebih tua usianya dariku, tentulah juga ada yang berharap pada Rieke, karena Rieke memang cantik. Namun, keesokan harinya saat itu, mereka tak lagi menyinggung masalah Rieke, dan aku pun sedikit lega, karena perasaanku sukses tak tersampaikan, tapi baguslah daripada aku dikucilkan dalam pergaulan.

Rutinitasku sore hari adalah bermain tanah di depan rumah bersama teman-temanku, atau adikku, Icha, dalam beberapa kesempatan, aku melepaskan pandanganku ke Barat, seraya melihat Rieke yang sedang duduk di depan rumahnya, bersama sepupunya, Manil, seorang wanita yang tak kalah cantiknya, sayangnya Manil sedikit tomboy, berbeda dengan Rieke yang memiliki naluriah feminim wanita. Memandang Rieke, dan berusaha melakukan hal yang mencolok, agar dia juga melepaskan pandangan kepadaku, dan berharap hatinya meleleh karena kelakuan maskulin ku yaitu, menimbun feses kambing dengan tanah, setelah kupikirkan ternyata aku begitu bodoh saat kecil. Namun Rieke tak pernah memperhatikanku, dia hanya sesekali membuang pandangannya ke arahku, itupun hanya untuk memvariasikan pandangannya. Huft.

Aku pindah lokasi mengaji, karena tempat lamaku, gurunya galak, meski beliau menyayangiku, namun merasakan aura beliau yang selalu memegangi rotan setiap malam aku tertekan karena pembawaanya yang sangat tidak friendly, maka aku memutuskan untuk pindah tempat mengaji ke lokasi yang lebih baru, dan ternyata di tempat baru gurunya begitu baik dan sabar, saking sabarnya pembatas saf sudah bolong-bolong karena para santri pria bermain gulat wresterling, namun kesabaran Ustadz itu tiada terganti, sampai akhirnya Ustadz itu berhenti, karena batas kesabarannya sudah di ambang batas. Di lokasi ngaji yang baru, aku satu tempat dengan Rieke dan Manil, mereka sudah Al-Qur’an, sedangkan aku masih Iqro’ 3. Tentulah kami tidak satu kelompok, karena ingin segera satu kelompok dengan Rieke, aku memutuskan untuk ngebut menamatkan Iqro’ itu, namun aku sering terkendala di EBTA Iqro’ 5 yang membuatku, harus terus mengulanginya (Saat aku sudah pindah dari Padang, aku belum menamatkan Iqro’) . ketidakmampuanku untuk menamatkan Iqro’ membuatku tidak pernah satu kelompok dengan Rieke, namun ketika jeda aku selalu memandanginya atau Manil, siapa sajalah diantara mereka, yang penting aku bisa tersenyum dalam sanubari. Pun dalam shalat, ketika aku sedang shalat berjamaah qabla ngaji aku sering menoleh ke belakang, memperhatikan Rieke –aku belum tahu saat itu, kalau melepaskan pandangan dari sujud adalah larangan, jadi aku sering melakukan itu.

Nampaknya usahaku untuk menarik perhatian Rieke atasku adalah suatu hal yang mustahil, aku tidak akan pernah mendapatkan ‘cinta’ darinya, karena ada seorang pria kelas 5 SD, namanya Aris, dia seakan merebut Rieke dari harapku. Aris sering menganggu Rieke, dan Rieke tak merasa keberatan, malah ketika aku membaca rautnya, dia seakan terpuaskan dengan jailnya Aris. Sudahlah, Aris sudah dewasa, sementara aku hanya anak kecil yang masih haram untuyk menjamah cinta. Namun ada suatu ketika, dimana Rieke berbicara kepadaku, dan saat itu aku dibuat terbuai, “Dimana letak sapu, diq?” hanya sependek itu. Namun itulah petikan obrolan berhargaku dengannya. Aku merasa bahwa dia telah menerima cintaku, ketika dia mengajakku berbicara. Namun, semenjak aku meninggalkan Kota Padang, aku tiada lagi pernah bertemu dengannya, sampai saat ini. Entah seperti apa dia sekarang, aku yakin dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan tentulah sudah ada seorang pria yang selalu erat menggenggam tangannya, dan menjadi perisai baginya. Karena dia memang pantas mendapatkan itu. Mungkin jika aku menemuinya di suatu masa kelak, barangkali kami tidak akan saling mengenal. Namun semua destinasi sudah ditentukan. Ya, dialah orang pertama yang membuatku tertarik kepadaku.

Kak Rieke, kalau kelak kau membaca ini... Masih ingatkah denganku?? Shiddiq yang begitu lugu itu... Mungkin sudah tidak yaa!! Hehehe....

---------------------------------------------------------------------------------

Pengunjung yang baik adalah pengunjung yang selalu pamit sebelum meninggalkan tempat!!
Jangan Lupa Tinggalkan Jejaknya ya!! :)

Sabtu, 26 Maret 2011

Aku Dan Kenangan Baju Bola Jerami

Tahun 2003...

Saat aku masih duduk di kelas 3 SD aku begitu amat disayangi kakekku. Suatu ketika di Minggu pagi yang cerah, sang kakek yang berhobi memancing, mengajakku agar menemani beliau memancing, dan aku pun yang kala itu juga ingin merasakan nikmatnya memancing maka aku menerima tawaran sang kakek. Kakekku mengajakku memancing di sawah -di daerahku, di sawah juga ada ikan-ikan kecil- yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah, dan aku pun pergi bersama kakek menaiki mobil kijangnya, aku pergi dengan perlengkapan seadanya, yaitu pancingan kayu manual serta mengenakan kostum bola hitam AC Milan yang kala itu bernomor punggung 9 milik Filipo Inzaghi. Setiba di tempat, aku pun segera memilih tempat duduk, aku memilih duduk di onggokan jerami lembab.


"Ternyata memancing itu membosankan ya, kek!" sahutku kepada kakek.
"Sabarlah! kesabaran dibutuhkan dalam hal ini!" balas kakek.

Aku begitu benci dengan hal yang berkaitan dengan menunggu, bahkan aku seakan ingin segera pulang saat itu, karena sudah tidak tahan dengan teriknya mentari yang mulai memandikan panasnya ke atas kepalaku dan bau tak bersahabat dari jerami di sekitarku, tapi aku tidak berani untuk menganggu keseriusan sang kakek yang sudah terjebak dalam nikmatnya memancing. Aku letakkan kail-ku diatas onggokan jerami, dan aku pergi bermain ke sawah untuk mencari keong agar aku bisa bermain, namun kakekku nampaknya bisa membaca kegundahanku saat itu, dan beliau mengajakku berpindah tempat, namun aku menolak dengan alasan, aku sudah lapar dan bosan. Kami pun pulang tanpa membawa apapun hari itu. Itulah kesan pertamaku dengan memancing, yaitu membosankan dan bau.

Setiba di rumah siangnya, aku mulai tak tahan dengan bau di tubuh kurusku ini, aku segera mandi ke bak mandi, dan ketika membuka baju, aku merasakan bau yang tidak bisa diajak kompromi, aku langsung melaporkan hal itu pada nenekku, dan beliau mengatakan bahwa bajuku berbau seperti jerami lembab -saat itu aku belum tahu apa itu jerami-, dan aku telah memutuskan tidak akan memakai baju bola berjerami itu, meskipun aku tahu kalau baju itu salah satu hadiah dari pamanku yang baru balik dari China Taipei.
Cukup lama aku membiarkan baju menganggur di lemari pakaianku. Sampai suatu saat, datanglah temanku, dia lebih tua dariku, dan dia diam-diam memohon kepadaku agar aku memberinya salah satu dari koleksi baju bolaku, agar dia bisa masuk klub bola SSB di daerahku, dan tanpa pikir panjang aku langsung memberikan baju bola Milan berjerami itu kepadanya, meski pada saat itu sudah tak berbau jerami lagi, namun baju itu cukup berdampak padaku dan aku membenci bau pada baju itu, dan itu juga menyebabkan aku membenci jerami.

Namun akhir-akhir ini aku sudah mulai bisa menerima keberadaan jerami, karena salah satu Anime favoritku menceritakan kisah Bajak Laut Topi Jerami. Entah kenapa aku sudah mulai betah duduk di jerami kering, tapi kalau jerami lembab mungkin masih belum bisa.


Aku dan Kenangan Cinta Dalam Demokrasi

Tahun 2004...

Ketika itu aku masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, selain menimba ilmu dari sekolah dasar yang mayoritas mengajarkan ilmu duniawi -kata guruku sih gitu-, aku juga mengecap pendidikan di TPA, atau di daerahku ini biasa disebut Madrasah Diniyah Awalliyah (MDA), di MDA ini aku tidak hanya belajar mengaji ataupun kisah Nabi dan Rasul terdahulu, namun kami juga diberkahi ilmu-ilmu agama lain seperti Al-Qur'an Hadits, Sejarah Islam, Akidah Akhlak, Fikih Ibadah dan juga Bahasa Arab dasar, yang dimana di sekolah pagiku pelajaran ini merupakan pelajaran minoritas, bahkan tidak pernah diajarkan. Di MDA kami belajar tidak hanya di Masjid, tapi kami juga belajar pada tahapan kelas yang sistematika, dimana kami juga belajar di kelasa-kelas yang tersedia dengan guru yang beragam pula, belajarnya dari siang sampai sore.


Oke... Dalam cerita kali ini, aku akan menjemput memori lama yang hampir hilang, yaitu ketika aku duduk di kelas 3 MDA (di MDA juga ada tahapan kelas), di suatu sore yang mendung dengan suasana kelas yang begitu hiruk -menggambarkan betapa nakalnya kami :)- pada tahun ajaran baru, guru pun masuk ke kelas kami dan dalam beberapa detik suara hiruk itu pun frekuensinya menurun. Kami pun berdoa sebelum belajar dan sebelum belajar kami dianjurkan (kesannya wajib sih) untuk membayar infak -biasanya Rp. 100,- atau 10% uang jajanku- sebelum itu pun guru pun dengan tegas akan mengadakan susunan struktur kelas yang baru untuk menunjuk ketua kelas dan wakil ketua kelas. Momen ini begitu membuatku bersemangat, karena momen ini adalah momen bagiku untuk menunjuk temanku yang tak punya potensi untuk menjadi seorang leader, akan aku tunjuk dan akan aku buat dengan satu hak suaraku ini menjadi awal kehancuran kelas. Namun rasa senang itu seketika berubah menjadi mendung pekat pada hawaku -kebetulan di luar juga sedang mendung- aku ditunjuk oleh teman-teman sebagai salah satu kandidat, sepertinya mereka sudah bersekongkol ingin menjatuhkan dalam lubang hitam ini yaitu sebagai ketua kelas, mungkin tujuan mereka agar aku lebih mengurangi intensitas absenku. Guru pun mengesahkannya dan aku bersaing dengan temanku yang namanya Rahmat.

Sebentar... Sebelum meneruskan cerita ini, aku akan menjelaskan hal penting! Aku dan Rahmat adalah pria yang secara tidak langsung bersaing demi memperebutkan seorang wanita di mata temanku, karena sejak awal aku pindah -aku murid pindahan dari Padang saat kelas 3- ke Solok ini, hanya beberapa hari setelah itu aku langsung dijodohkan ala anak SD dengan seorang gadis, sebutlah namanya Dia. Awalnya sih di kelas 3 aku tak menyukainya, namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak perlakuan penjodohan itu kepadaku, rasa cinta itu sedikit muncul -sedikit cuma, gak usah lebay deh..-, bahkan ada hal terbodoh yang dilakukan di jembatan dekat sekolah, salah seorang temanku (aku belum tahu siapa, bahkan sampai sekarang) dengan berani membuat di jembatan tulisan yang sangat tidak bermakna, dia menulis "Dia ♥ Sidiq". What The Hell?? bahkan ini jauh lebih memalukan dibandingkan ketika anda membuka baju anda di jalanan kota Tokyo. Namun bagiku tak masalah, toh aku juga suka Dia saat itu. Namun ketika beberapa bulan setelah itu, aku melihat hal yang menyedihkan dibawahnya, entah bangsat mana yang menulis, dengan lantang terukir sebuah tulisan "Dia ♥ Rahmat". Ini sedikit membuatku tergoncang, sejak kapan Dia menghianati cinta suci ini? -padahal kami berdua tidak pernah berbicara-. Namun aku tidak bisa marah, karena aku dan Rahmat teman, kami bukan rival.

Kembali ke hari pemilihan yang bodoh itu... Karena kandidat hari itu hanya aku dan Rahmat, maka sorotan kelas pun langsung tertuju ke arah Dia, intinya "Siapa yang akan dipilih Dia?" bahkan aku hari itu berpikir ini adalah ajang, "Nama siapa yang berhak bersanding dengan nama Dia di ukiran jembatan?" . Saat pemilihan itu aku benar-benar berharap satu suara Dia bagiku bahkan bisa mengalahkan tigapuluh suara responden yang lain, karena saat itu bagiku suara Dia lah yang terpenting.

Pemilihan pun dimulai, secara mengejutkan aku memimpin perolehan suara dari Rahmat sekitar jarak lima suara. Dan tibalah saat yang membuat jantung anda berdebar kencang. Saat dimana satu suara yang dinantikan publik kelas 3 pun tiba, dia dengan malu-malu mengatakan, "Shidiq!". Oh No... aku begitu gembira hari itu. Dan seisi kelas pun bagaikan grup paduan suara upacara bendera dengan serentak bersorak, "Cieeeee.... Dia milih Shidiq". Bahkan momen ini aku selalu memikirkannya bahkan ketika mandi aku sering tersenyum membayangkan hari itu. Pada akhirnya aku menang pemilihan itu, aku bersedih sekaligus senang, yang membuatku sedih adalah karena aku menjadi ketua kelas -suatu jabatan yang paling kubenci saat itu- satu lagi, karena aku dipilih Dia secara tidak langsung, dan mengalahkan Rahmat. Namun ada satu hal yang luput dari pemikiranku hari itu, bahwasanya Rahmat juga berusaha keras mengelak dari jabatan membosankan itu, ataukah mungkin ini merupakan konspirasi Dia agar aku senang dan melupakan jabatan ketua kelas itu, atau mungkin ini agar membuat Rahmat senang karena dia berhasil gagal dalam pemilihan itu. Saat itu aku sampai berpikir begitu. Tapi, yang jelas bagi orang awam, Dia memilihku, bukan Rahmat.

Ketika aku kelas 6, dia pun kelas 6, namun Rahmat sudah kelas 7 dan sudah SMP. Aku baru tahu bahwasanya Dia dulu menyukai Rahmat dan aku mengetahui hal itu karena pada awal kelas 6, siswa kelas 6 benar-benar menjadi Couple Hunter, salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan menulis namanya dengan nama orang yang dia suka lalu dibatasi oleh gambar hati, saat itu aku melihat bahwa yang ditulis Dia di tangannya, adalah namanya dan nama Rahmat. Jadi, saat itu aku mengerti bahwa Dia lebih memilih Rahmat, dan Rahmat lah yang menang dalam ukiran nama di jembatan itu. Tapi, entahlah, setelah masuk SMP pun, aku dan Dia sudah tidak bertemu lagi, namun SMU aku kembali bertemu Dia, tapi sejak saat kelas 6 itu Dia tak pernah lagi menemui cinta monyetnya yaitu Rahmat.

Jumat, 25 Maret 2011

Aku Dan Kenangan Merman Pada Jam Pelajaran Biologi

Okeh blog! ini saya mau bikin sedikit rubrik mengenai beberapa kenangan masa dulu saya yang pantas untuk ditulis padamu, meski tak ada yang membaca, yang penting aku sudah menulisnya. Rubrik ini aku beri judul folder, "Aku dan Kenangan..." (lihat di label).
Ini cerita pertamaku dalam rubrik ini yang kuberi judul "Merman Pada Jam Pelajaran Biologi"...

Tahun 2009...
Ketika aku masih mengenakan seragam putih bercelana biru yang pada saat itu aku menjadi senior diantara junior a.k.a kelas 3 SMP :D
Ya... pada jam pelajaran Biologi yang saat itu dibimbing oleh Buk Parti Erlinda yang merupakan guru Biologi terbaik di MTsN Kota Solok pada zamanku dulu. Hari itu aku dan teman sekelas belajar Biologi dengan materi aku tak begitu mengingatnya, namun pada hari itu kami membahas ekosistem laut, pelajaran hari itu berlangsung khitmat, tak ada suara yang menganggu, karena jam pelajaran itu dilaksanakan pada Kamis pagi, yang notabene siswa masih bersemangat untuk mengikuti pelajaran.

Aku yang pada saat itu ingin memperdalam peran sebagai siswa kritis mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut sang pahlawan, juga coretan non-sistematis sang guru di papan tulis kucatat semua saripati materi dengan sedikit kata penghubung agar catatan mampu menutupi coretan non-sistematis itu menjadi catatan yang sistematis sehingga mudah dibaca ketika ujian semester dan juga ujian akhir (kami saat itu sudah kelas IX). Sang guru saat itu begitu bersemangat di satu jam awal, sampai bel pertama berbunyi, menandakan pelajaran sudah mencapai setengah periode penuh. Dan jam kedua adalah jam bagi kami untuk share atau sekedar menanyakan hal yang terbentur di pikiran mengenai pelajaran biologi,. Ya... khusus dengan Buk Linda (nickname sang guru) lah kami diberi satu jam untuk hal seperti ini.

Aku yang pada saat itu juga menjadi seorang Death-Maniac One Piece, mulai berdiskusi dengan kawan sebelah, namanya Bobi perawakannya sedikit aneh, dia berkumis dan rambutnya bergulung serta bulu tangannya yang tebal, namun dia bukan manusia Pithecantropus Paleojavanicus atau bahkan Megantropus, dia masih manusia, namun kadar tumbuh rambut / bulu di badannya begitu cepat, bahkan aku yang sekarang (kelas XI belum mampu menandingi intensitas bulunya). Bobi jugalah seorang penggila One Piece yang terkena sengatan virus One Piece dariku -karena begitu rajin meminjam komikku- aku dan dia mulai mendiskusikan hal-hal mengenai ekosistim laut. Terlintas di benakku ini suatu pertanyaan yang pasti akan mebuat Buk Linda akan menangguhkan pertanyaanku -karena aku begitu bangga jika guru menangguhkan pertanyaanku, entah karena apa?-, yah, lalu aku berdiskusi dengan Bobi mengenai pertanyaan hebatku ini. "Menurut keberadaan merman itu di laut shahih, tidak?" tanyaku kepada Bobi, sembari membangun suatu pertanyaan untuk ditangguhkan.
"Entahlah, merman seperti nenek Kokoro, yang kau maksud, tulang?" dia kembali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan agar aku lebih memebri pencerahan.
"Ya, seperti nenek seksi itu!" aku mengiyakan.
"Menurutku, kau harus menanyakannya kepada Buk Linda!" dia mendukungku untuk segera mengacungkan tangan dan bertanya mengenai eksistensi Merman di dunia nyata ini.
"Baiklah, aku akan menyusun kata dulu, biar lebih seksi terdengar di telinga orang awam." aku mulai memikirkan kata-kata yang tepat.
"Ya, itu urusanmu, biarkan aku sendiri sambil membaca komik." lalu Bobi membuka kembali halaman komik yang tadi sudah dia mark.

Aku pun mengacungkan tangan dengan sejuta keyakinan bahwa pertanyaanku akan ditangguhkan. Buk Linda memberiku izin untuk bertanya. Aku langsung mengambil nafas sembari bertanya, "Buk Apakah Merman itu ada di laut, jika ada tolong jelaskan!" aku begitu bangga, dan Bobi juga tersenyum melihat kejantananku dalam bertanya.
"Baik Sidiq, saat ini saya belum memiliki referensi mengenai Merman, pertanyaanmu saya tangguhkan!, berikutnya!" Buk Linda tampak pasrah dan menangguhkan jawabanku, setelah itu meminta kepada murid lain untuk bertanya.

Tak terkira betapa bangganya aku hari itu, pertanyaanku ditangguhkan, berarti pertanyaanku super-hebat -bagiku jika guru menangguhkan pertanyaanmu berarti kau adalah siswa luar biasa-. Ini gila! dan aku menunggu jawaban dari Buk Linda, namun Buk Linda tak kuncung memberi jawaban atas pertanyaan hebatku itu.


Lama setelah itu, ketika aku telah SMU...
aku pun membaca One Piece terbaru di komik tankuboon dan aku membaca suatu penjelasan dari sang Mangaka, Eiichiro Oda, bahwa Merman hanyalah karakter fikitif yang hanya ada di dunia One Piece, bahwasanya merman adalah Mermaid Man atau manusia duyung!
Aku tersentak sembari menjemput kenangan kelas IX lalu dan seakan malu jika Buk Linda benar-benar menjawab pertanyaanku mengenai Merman itu, bahkan aku akan dicap sebagai siswa kritis paling menyedihkan, karena aku terlalu berfantasi dalam komik sehingga aku pun membawanya ke dalam dunia nyata.
Untunglah Buk Linda tak menjawabnya! Aku beruntung, jika pertanyaan bodoh itu dijawab maka aku tak lebih dari siswa sok-kritis.

Cerita ini seakan membangunku untuk menjadi seorang pribadi yang hrus benar-benar berpikir masak sebelum bertanya atau berbicara, jika tidak kau hanya akan menjadi seorang yang menyedihkan, karena ke-soktahuanmu akan membawamu pada rasa malu yang dalam.
Setidaknya pepatah, "Lebih baik diam daripada sok tahu" cukup relevan untuk menggambarkan betapa menyedihkan cerita ini.
LOL :D