Rabu, 07 September 2011

Brazil Itu gak Dekat !!


Saat asa muncul kala mampu mengalahkan Turkmenistan di babak pertama dengan permainan atraktif nan menghibur, Indonesia melaju ke babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia (Pildun) Zona ketiga. Kala itu semua orang di negeri ini begitu yakin bahwa negara ini akan memecahkan rekor mereka untuk berlaga di Pildun untuk pertama kali –setelah perwakilan atas Hindia Belanda tak diakui PSSI--. Berbagai keyakinan dan optimisme terpancar dari seluruh warga ini, bahwa Tim sepakbola negeri ini akan mengutus wakilnya pada pergelaran terakbar sedunia itu.



Kala drawing, Indonesia terdampar satu grup bersama negara Teluk, Iran, Qatar dan Bahrain, negara pertama adalah raksasa Asia, tiga gelar juara kontinental telah diraih Iran. Qatar, sebuah negara yang perkembangan Liganya sangat baik dan terarah, Qatar Star League, gelontoran fulus negeri minyak ini menyanggupi mereka untuk berpikir instan dengan menaturalisasi kewarganegaan beberapa pemain yang dianggap pantas. Dan Bahrain, negara yang dewasa ini sedang mengalami permasalahn politik ini adalah spesialis nyaris di dua Pildun edisi terakhir. So, jalan menuju Brazil tidaklah mudah.

Sepakbola bangsa ini yang baru saja lepas dari belenggu rezim lama, berpindah ke rezim baru dengan harapan dan tujuan baru. Langkah perdana yang nyata adalah dengan memecat pria kesayangan fan medio Desember 2010 lalu, Alfred Riedl, entah karena alasan apa, rezim baru memecat pria Austria ini, penggantinya adalah Wilhemus Rijsbergen, pria Belanda mantan anak buah Rinus Michel –si peletak batu pertama filosofi Total Voetball—bertekad menjadikan Timnas bermain layaknya Timnas Belanda atau Barcelona, yang mengandalkan sepakbola more passing dan speed, tanpa melihat kekalahan dari segi fisik. Debut Wim secara resmi adalah kala menjamu Turkmenistan di stadion penuh sengsara, Ashgabat Olympic, namun pertandingan pertama dan kedua melawan Turkmenistan, kita tak bisa menilai itu adalah bukti kerja keras Wim, menahan Turkmenistan di Ashgabat membawa pemain-pemain pilihan Riedl, sementara saat menang 4-3 di GBK adalah berkat bantuan asisten Wim, pelatih berkualitas milik bangsa ini, Rahmad Darmawan. Pasca kelolosan itu, Rahmad dijadikan pelatih kepala di Timnas U-23 untuk proyeksi SEAG. Disini lah cerita Wim dimulai.

Nyaris kalah dari juniornya, sebelum penalti Bambang Pamungkas menyelamatkan Tim ini, lalu mencukur Palestina 4-1, dan kalah 0-1 dari Yordania, adalah rapor Wim Pra-Kualifikasi Babak ketiga. Wim kerap mengambinghitamkan stamina, dan konsentrasi, toh sebelumnya Wim pernah mendatangkan pelatih fisik kelas Eropa, namun Wim sering beralibi masih kendala fisik yang menyebabkan Timnas bermain tanpa visi. Menurut pandangan pribadi saya, Timnas memang tak bisa menerapkan sepakbola seperti yang Wim inginkan, Timnas masih sering memberikan bola lambung tak jelas. Sudahlah…

Sebelum memulai laga sebenarnya, para fan dan media kerap mengapungkan sejarah manis, kala kita membekuk Qatar 2-1 di China 2004, dan Bahrain 2-1 di Jakarta pada tahun 2007 – dengan melupakan kekalahan 1-3 dari Bahrain 2004 lalu--, semua seolah-olah yakin hanya Iran lawan terberat kita di grup ini, toh, kita pernah menghabisi dua kontestan lainnya. Bahrain dan Qatar 2007 dan 2004 bukan yang akan kita hadapi sekarang, mereka tentu berbenah, sepakbola memiliki dinamika tersendiri, tak selalu statis dalam ketertinggalan, mereka belajar untuk berbenah. “Janganlah terlalu sering mengganggap sejarah adalah sesuatu yang akan kita temui sekarang !!” Kita boleh kok termotivasi dari masa lalu tapi jangan pernah berikir kalau kita akan menghadapi sejarah. Ini bukan De Javu. Harapan untuk runner up semakin buyar, kala Iran dan Bahrain menghabisi kita 0-3 dan 0-2.

Belajarlah dari Thailand, mereka berbenah kala kemunduran prestasi di AFF 2010 lalu, di pertandingan terakhir, Oman mereka bekap 3-0, bahkan Lucas Neill berujar bahwa Australia tak pantas menang atas Thailand, di pertandingan pertama.
Inilah yang tak dimiliki bangsa ini, sikap ingin terus belajar, kita sudah cukup puas dengan pencapaian AFF, atau dengan permainan menawan babak pertama Leg 2nd saat melawan Turkmenistan, yang sejujurnya masih belum bisa membawa kita ke Brazil. Brazil itu gak dekat, butuh perjuangan kesana, modal 45 menit kala lawan Turkmenistan bukan menjadi jaminan bagi kita untuk ke Brazil. Teruslah belajar!! Dan jangan terpuaskan hanya karena kita bermain seperti Barcelona sebabak . jalan masih panjang, dan konsistensi permainan dituntut agar asa bangsa ini menuju Brazil 2014 bisa kesampaian. Jayalah Garudaku !!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar