Kamis, 23 Desember 2010

Ganyang Malaysia Jilid 2

Oleh: Ashiddiq Adha

Dalam jilid 1 Garuda sukses membuat malu Harimau Malaya, tamparan keras itu ternyata tak membekas bagi Jiran, mereka telah mengintropeksi diri dan berhasil menggapai puncak meski berat jalan yang mereka tempuh, tak seperti Garuda mereka mendaki menuju puncak bagaikan berjalan diatas tol, Garuda menorehkan rekor sempurna, tak tersentuh kekalahan! Masih dalam bulan yang sama, dua negara yang suhu politiknya tidak begitu bersahabat belakangan ini kembali bertemu diatas karpet hijau, dengan misi yang sama, tak lain tak bukan ialah membawa harga diri bangsa masing-masing. 26 dan 29 Desember nanti laga besar itu akan dihelat, Kuala Lumpur pertama, dan Jakarta penutup.

Garuda mencapai Final, jika melihat pada hasil, mereka sangatlah mulus untuk sedikit lagi mengambil trofi yang selama dua tahun ini mendekap di Vietnam. Malaysia, lawan mereka di final diganyang 5-1, Laos dicukur 6-0, Thailand yang selama ini notabene menjadi pesakitan Garuda berhasil dibuat menangis 2-1, di masa yang sama Harimau Malaya membuat malu negara Indo-Cina Laos 5-1, sekaligus masuk Semi Final dikarenakan Thailand gagal mengalahkan Indonesia, jika Indonesia kalah dari Thailand, tiadalah guna 5-1 Malaysia di Palembang itu, karena mereka hanya akan menjadi pecundang. Dua hari setelah pertandingan itu warga Malaysia begitu tunduk kepada warga Indonesia, dan terkesan respek kepada Indonesian, begitu berterimakasih, tak besar kepala seperti biasanya, namun setelah itu mereka kembali berulah, dan warga Indonesia pun kembali terpancing, terjadilah peperangan mempertaruhkan harga diri bangsa masing-masing, terutama di fanpagenya AFF Suzuki Cup 2010. Hinaan kembali ditujukan kepada masing-masing negara.
Babak Semi Final pun dihelat, semi final pertama mempertemukan Malaysia dengan holder Champion Vietnam, 2 gol beruntung Safee Sali melangkahkan satu kaki Malaysia di final, mereka semakin lupa daratan. Sehari berselang, antrean tiket yang mengular di Jakarta yang bertujuan hanya satu, “DUKUNGAN KEPADA GARUDA!” mereka rela bermalam di Senayan, hanya untuk mendapatkan selembar tiket. Rombongan istana kenegaraan pun juga ikut terlibat dalam pertandingan, permintaan sang kapten Bambang Pamungkas kepada Bapak Yudhoyono, diiyakan Si nomor satu, mengingat euforia yang melanda Indonesia. Hasilnya 1-0, Garuda berhasil membuat Anjing Jalanan menelan kekalahan sebagai “tamu di rumah orang”, sebuah gol yang bisa dibilang juga sedikit beruntung, Si Uruguay-Indonesia Christian Gonzales, berhasil memberikan kemenangan lewat gol sundulannya, yang juga merupakan gol sunduluan pertama bagi Indonesia di turnamen ini. Dan Garuda berpesta Kamis itu, namun Leg kedua masih akan terbentang, mungkin saja si anjing jalannan Pinoy mampu menyalak keras di Senayan, mengalahkan riuhnya stadion 50 tahun tersebut.
Leg kedua pun dihelat, malam minggu K. Rajagobal bertamu ke My Dinh, Hanoi, dengan busana bak mengikuti kegiatan kerohanian Shalat Jumat, baju putih itu cukup menjelaskan. Dan Jiran cukup segan mengobrak abrik Hanoi, dan mereka hadir di Hanoi sebagai tamu yang baik, mereka hanya duduk manis di pertahanan mereka, dan itu membuat Tuan Rumah frustasi, negeri Paman Ho berusaha keras agar Malaysia lebih lantang di Hanoi, namun boomerang malah menimpa Vietnam, alih-alih ingin mendapat penalti dengan rebah di kotak enambelas, namun sang pengadil menganggap itu sebagai suatu yang dibuat-buat, diving dan kartu merah keluar dari kantong berlabel FIFA itu dan 10 orang melawan 11! Hingga akhir Harimau Malaya berhasil menjaga tabungan 2-0 yang sudah mereka bawa dari Kuala Lumpur tiga hari lalu. Dan mereka berhasil melaju ke final, dan berhasil membawa suatu kejutan, dengan 90% membawa pemain belia, dan ternyata sukses. Selamat buat Malaysia!
Namun di Indonesia tak kalah hebohnya, sedikit luka menyertai beberapa cerita sebelum leg kedua, penonton semakin membludak, kapasitas tiket tak banyak, namun pendistribusian tiket yang buruk membuat PSSI dan Nurdin Halid kembali menjadi sasaran empuk untuk dikambinghitaman suporter, mereka marah, merusak kantor PSSI, membakar bendera organisasi sepakbola tertinggi nasional itu, dan seperti biasa meneriakkan, “NURDIN MUNDUR!”, kalimat itu sudah sering terdengar. Dan Minggu malam itu akhirnya tiba, pamor Bachdim yang mulai tersaingi oleh ketampanan pemain naturalisasi negeri Pinoy, semisal Younghusband bersaudara, serta kiper ketiga Fulham dibelakang Mark Schwarzer dan Pascal Zuberbuehler, ada Neil Etheridge yang juga menarik perhatian, dengan wajah yang sinetron banget, serta sang masterpiece Simon McMenemy juga muncul sebagai idola malam itu. Ada yang aneh pada winning team yang diturunkan Alfred Riedl malam itu, minus Irfan Bachdim, mungkin para kaum hawa yang datang ke stadion kecewa sampai menit ke 42, bule lain pun hadir dengan Gol spektakuler kelas dunianya, Christian ‘El Loco’ Gonzales muncul menjadi idola, bahkan selebrasinya yang menciumi Garuda menjadi heboh. Gol indah WNI kemaren sore itu menjadi bukti bahwa, “Cukup satu pemain naturalisasi sudah mampu menendang sembilan pemain naturalisasi!”. Dan duel besar panas pun akan dihelat 26 Desember mendatang di Kuala Lumpur dan tiga hari setelahnya 29 Desember akan dihelat di Jakarta, kota pembuka dan penutup AFF Suzuki Cup 2010, akankah skor layaknya partai pembuka juga akan hadir? Tak ada yang tahu. Namun Alfred Riedl tetap berpikir penuh dengan mencurahkan seluruh tenaga agar Firman Utina atau Bambang Pamungkas bisa mengangkat Piala yang sudah 14 tahun berpindah tangan pada tiga negara itu. Semua harapan masyarakat Indonesia ada pada skuad Garuda. Apakah di bulan Desember ini Garuda mampu mengganyang Malaysia tiga kali, dan dua kali berturut-turut? Yang jelas kita sama-sama berdoa, agar Timnas tidak terganggu oleh faktor teknis serta non-teknis, dan bisa all-out pada 26 dan 29 Desember nanti. Dan memepersembahkan Piala AFF sebagai hadiah akhir tahun, sebagai penutup tahun yang penuh bencana bagi Indonesia.


Budayakan Berkomentar!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar