Lanjutan tulisan dari wartawan olahraga lokal Sumatera Barat yang saya forward dari SPARTACKS Cyber
oleh: Rizal Marajo
SUATU hari, seseorang dengan nomor yang tak ada dalam daftar kontak saya (.red), mengirim SMS panjang lebar, sampai-sampai ponsel butut saya tak kuat menampungnya secara utuh. Isi SMS itu menanggapi tulisan saya yang dipublikasi di harian Singgalang dan jejaring sosial, tentang sosok Nil Maizar.
Dalam tulisan itu saya menulis tentang “kekagetan” saya, ketika Nil Maizar ditunjuk jadi pelatih kepala Semen Padang. Saya mungkin juga agak usil juga, mengambil sosok Pep Guardiola sebagai referensi untuk mendorong dan menyemangati Nil dalam mengemban tugasnya itu. Supaya lebih hot, saya beri judul “Nil dan Pep”.
Inilah yang jadi masalah, “teman” saya itu kurang senang, dan tega-teganya menyempatkan diri mengirim SMS sepanjang tali baruak itu. “Mambuek berita tu nan iyo-iyo se lah Zal, jan dibandiang-bandiang loh si Nil tu jo Pep lai. Ndak pas tu doh, jauah lai mah. Jadi baban nan ka lai dek nyo tu mah,” begitu kira-kira inti SMS teman itu. Saya anggap teman, karena hati saya mengatakan dia pasti orang yang kenal baik dengan saya.
Karena saya merasa tak pernah membandingkan Nil dan Pep dalam tulisan itu, dan hanya sebatas menyodorkan referensi bernama Pep kepada Nil, agar dia bisa belajar dan menimba ilmu dari sukses lelaki Barcelona itu, maka saya hanya menjawab singkat SMS itu.
“Mungkin uda bisa baca ulang lagi tulisan itu, mudah-mudahan ketemu intinya. Kalau ketemu mungkin uda akan menyesal telah repot-repot mengirim SMS sepanjang itu kepada saya,” jawab saya via SMS juga. Setelah itu, sampai kini nomor bersangkutan tak pernah aktif lagi.
SMS itu, adalah satu dari banyak suara yang menyangsikan kemampuan Nil melatih “Kabau Sirah”. Kalau dilihat di jejaring sosial, atau hasil bincang-bincang saya dengan para insan sepakbola Kota Padang, tidak sedikit yang langsung memvonis Nil bakal gagal. “SP siap-siap kembali ke divisi I,” tulis sesorang di facebook.
Banyak juga yang memaki manajemen, dianggap goblok segala macam, karena berani-beraninya memberi tongkat komando kepada “pelatih hijau” sepeti Nil saat SP baru promosi ke Liga Super. Kemudian ada juga yang bilang, Nil belum pantas dan harus banyak belajar dulu sebelum dibercaya jadi pelatih kepala.
Saya sampai kewalahan meyakinkan publik di media atau jejaring sosial, agar mereka tak langsung “membenamkan” sebelum Nil diberi kesempatan untuk bekerja dan membuktikan diri. Padahal ini kesempatan langka bagi pelatih putra daerah untuk menangani Semen Padang. Kapan mau maju, kalau belum apa-apa sudah diremehkan, dilecehkan kemampuannya, bakan “dibunuh” secara dingin dingin.
Selain faktor itu, saya berani “pegang” Nil dan percaya dia akan mampu mengemban tugas berat dari manajemen itu, karena saya kenal Nil bukan baru sehari dua hari atau baru kenal saat melihat namanya muncul di jejaring sosial.
Saya tahu betul karakter dia, dia sosok yang mau belajar, pekerja keras, mau menerima masukan dan tidak alergi dikritik. Diluar itu, saya pun tahu, hidupnya memang diabdikannya untuk sepakbola. Dia pekerja sepakbola yang telah memilih dunia itu untuk pilihan hidupnya. Itu saja sudah memberi saya pesan khusus, dia akan mampu bekerja dengan baik.
Waktu sudah menjawab, perjuangan berat dan panjang hingga putaran pertama Indonesia Super League (ISL) berakhir bisa dilewati dengan baik. Nil tentu tidak sendiri, tapi itu hasil yang setimpal untuk kerja kerasnya beserta asistennya dan sosok yang sangat dihormatinya dibelakangnya, yakni penasehat teknis Suhatman Imam. Ditambah dukungan manajemen dan tentu saja suporter, Nil bisa membawa timnya di posisi yang mungkin tak terbayangkan sebelumnya.
Sebagai tim promosi menduduki peringkat empat di paroh musim, cukup layak disebut sebuah prestasi. Imbasnya, SP sekarang adalah “Kuda Hitam” yang semakin diperhitungkan, dan berpotensi mengacak-acak kekuatan-kekuatan tim yang secara tradisi selama ini menguasai Liga Indonesia.
Bukan hanya soal posisi empat itu, tapi yang lebih penting dilihat, bagaimana dia membangun skuadnya jadi tim yang solid, bersemangat dan bisa memainkan sepakbola yang memikat. Tiga hal itu juga yang telah “mengundang” publik kembali ramai-ramai mendatangi Stadion H. Agus Salim Padang. Hal yang sudah lama menghilang. Hal itu pula yang membuat publik tak lagi malu-malu kucing memakai jersey Semen Padang dimuka umum.
Dulu banyak juga yang meragukan, apakah pelatih dengan reputasi masih minim seperti Nil akan punya kharisma dan wibawa dimata para pemainnya. Tapi diakui atau tidak, salah satu kunci sukses Nil adalah dia mampu menyatukan skuadnya untuk sesuatu yang disebutnya keluarga, dalam rumah yang bernama Semen Padang FC.
Sejatinya, Nil memang bukan pelatih otoriter yang pendekatannya cenderung keras pada pemain. Dia tipikal pelatih yang bisa merangkul pemainnya dengan pendekatan personal yang lebih halus, dan menyentuh sisi terdalam di hati pemain, tanpa mengabaikan disiplin.
Orang bilang, chemistry yang dia ciptakan mampu membuat pemainnya merasa sayang pada dirinya dan mau berbuat yang terbaik untuknya. “Lupakan yang terjadi hari ini, lawan Persema kita tebus,” katanya diruang ganti ketika SP menelan kekalahan lawan Arema Indonesia. Dia tidak mencak-mencak memarahi pemainnya atau berkoar di media masa menyalahkan pemainnya. Hasilnya, Persema berhasil dikalahkan.
Lawan Sriwijaya FC, kekalahan telak 5-0 tak serta merta Nil memarahi pemain yang tampil kurang darah atau lengah. Dia hanya menanyakan kepada para pemainnya soal laga berikutnya: “Untuk apa kita pergi ke Bandung? Nah, ketika semua pemainnya menyatakan ingin meraih angka, Nil hanya berkata singkat. “Kalau begitu, mari kita kerja keras lagi,”.
Simple dan sederhana, sama bersahajanya dengan penampilan Nil yang tak seperti pelatih-pelatih lain yang umumnya tampil “jaim”, arogan, bahkan terkesan angkuh dan berlagak sudah seperti Jose Mourinho atau Joachim Loew.
Well, tulisan ini bukan untuk memuji-muji Nil Maizar, tapi hanya sedikit membuka realita kecil yang ada pada dirinya. Kita tentu berharap, Nil Maizar akan tetap bisa bekerja baik sampai kompetisi selesai. Siapapun pasti berharap, Nil bisa mempertahankan, kalau perlu meningkatkan apa yang telah dicapainya di putaran pertama.
Bagaimanapun, dia baru separoh jalan bersama timnya, dia belum sampai pada finish yang bisa dijadikan parameter berhasil atau tidaknya di bekerja. Dia belum saatnya dipuji secara berlebihan, apalagi sampai membesar-besarkan namanya secara berlebihan. Masih banyak PR dalam tim yang mesti dikerjakan dan dibenahinya. Putaran kedua adalah pembuktian sesungguhnya bagi Nil Maizar.*****
*) Penulis adalah sport editor Harian Singgalang Padang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar