Sabtu, 07 Mei 2011

Aku Dan Kenangan, Cinta Monyet nan Prematur

Padang, 2001...
Jika aku menyemput lagi memori atas kenangan ini, aku selalu tertawa membayangkannya. Entah kenapa? Aku selalu berpikir bahwa kisah ini terlalu buruk untuk tidak diceritakan. Kalau begitu akan kuceritakan. Memang sedikit hiperbola dalam penyampaiannya, namun ikutilah bahwa kalian masih bisa menangkap fakta dari ceritaku.

Saat aku masih duduk di kelas 2 sekolah dasar, aku pernah tertarik dalam hal yang namanya cinta. Terlalu berlebihan? Tidak, ini fakta. Aku menyukai seorang gadis yang cantik dan manis, yang rumahnya sekitar 30 meter dari kediamanku, namanya adalah Rieke. Izikan aku beberapa saat untuk mengenang parasnya dan mendeskripsikan seberapa yang kuingat atasnya, dia adalah wanita yang cantik, mempunyai senyuman yang memikat, kalau ngak salah ada lesung pipit di pipinya, yang jelas dia tinggi dariku. Lalu aneh dan berlebihannya dimana? Rieke adalah seorang siswa kelas 4 SD (2001/2002, red). Hah? Memang aneh, aku suka pada seorang yang dua tahun usianya diatasku dan aku selalu terpikat ketika melihatnya. Ternyata aku tumbuh dewasa begitu cepat.

Di sore yang cerah, aku sedang bermain dengan temanku, Arif Prastyo Wibowo, aku memanggilnya Bowo. Dia adalah teman akrabku semasa aku masih di Padang, kami selalu bermain bola bersama, menonton serial Pokemon dan Digimon bersama, pergi sekolah bersama dan melakukan hal yang buruk bersama. Meski hubungan orang tua kami tidak begitu harmonis, karena Bowo pernah menceburkanku ke dalam lumpur sepulang sekolah, hal itu membuat Ibuku naik pitam tiada kepalang, asap pun menggumpal diatas kepalanya, dan lalu ibuku memarahi Bowo di depan Ibunya, dan tentu kalian bisa menebak, seperti apa jika ibu-ibu bertarung. Kisah pilu ini insyaallah akan kuceritakan dalam waktu dekat. Meskipun begitu aku dan Bowo masih tetap berteman seperti biasa, meski terkadang Bowo sering menjahatiku, seperti meninggalkanku saat bermain sepeda, memukul kepalaku, membajak uang jajanku. Sudahlah, cerita mengenai Bowo akan kuceritakan lain waktu, kembali dulu ke cerita Kak Rieke. Pada sore itu tanpa sengaja aku melepaskan suatu kalimat yang tentu saja akan merubah hari-hariku kedepan, dan pandangan teman-teman terhadapku. Aku melepaskan kata-kata, “Aku menyukai Kak Rieke!!” di depan Bowo dan Yuli, teman wanitaku, seorang cadel. Tanpa basa basi Bowo langsung berlarian ke rumah, dan dia mengancamku bahwa dia akan mengadukan statement-ku barusan pada Kak Rieke, lalu dengan bangga dia berlarian dengan Yuli menuju luar rumahku, lalu aku segera mengehentikan mereka agar tidak mengatakan itu, namun mereka mengabaikan permintaanku. Untunglah, sore itu Kak Rieke sedang tidak di rumahnya, maka prosesi acara bodoh itu gagal, dan aku memohon kepada mereka agar tidak mengatakan hal itu kepada Rieke, karena hal itu akan berdampak buruk bagiku dalam pergaulan, karena tentu saja teman-teman yang lebih tua usianya dariku, tentulah juga ada yang berharap pada Rieke, karena Rieke memang cantik. Namun, keesokan harinya saat itu, mereka tak lagi menyinggung masalah Rieke, dan aku pun sedikit lega, karena perasaanku sukses tak tersampaikan, tapi baguslah daripada aku dikucilkan dalam pergaulan.

Rutinitasku sore hari adalah bermain tanah di depan rumah bersama teman-temanku, atau adikku, Icha, dalam beberapa kesempatan, aku melepaskan pandanganku ke Barat, seraya melihat Rieke yang sedang duduk di depan rumahnya, bersama sepupunya, Manil, seorang wanita yang tak kalah cantiknya, sayangnya Manil sedikit tomboy, berbeda dengan Rieke yang memiliki naluriah feminim wanita. Memandang Rieke, dan berusaha melakukan hal yang mencolok, agar dia juga melepaskan pandangan kepadaku, dan berharap hatinya meleleh karena kelakuan maskulin ku yaitu, menimbun feses kambing dengan tanah, setelah kupikirkan ternyata aku begitu bodoh saat kecil. Namun Rieke tak pernah memperhatikanku, dia hanya sesekali membuang pandangannya ke arahku, itupun hanya untuk memvariasikan pandangannya. Huft.

Aku pindah lokasi mengaji, karena tempat lamaku, gurunya galak, meski beliau menyayangiku, namun merasakan aura beliau yang selalu memegangi rotan setiap malam aku tertekan karena pembawaanya yang sangat tidak friendly, maka aku memutuskan untuk pindah tempat mengaji ke lokasi yang lebih baru, dan ternyata di tempat baru gurunya begitu baik dan sabar, saking sabarnya pembatas saf sudah bolong-bolong karena para santri pria bermain gulat wresterling, namun kesabaran Ustadz itu tiada terganti, sampai akhirnya Ustadz itu berhenti, karena batas kesabarannya sudah di ambang batas. Di lokasi ngaji yang baru, aku satu tempat dengan Rieke dan Manil, mereka sudah Al-Qur’an, sedangkan aku masih Iqro’ 3. Tentulah kami tidak satu kelompok, karena ingin segera satu kelompok dengan Rieke, aku memutuskan untuk ngebut menamatkan Iqro’ itu, namun aku sering terkendala di EBTA Iqro’ 5 yang membuatku, harus terus mengulanginya (Saat aku sudah pindah dari Padang, aku belum menamatkan Iqro’) . ketidakmampuanku untuk menamatkan Iqro’ membuatku tidak pernah satu kelompok dengan Rieke, namun ketika jeda aku selalu memandanginya atau Manil, siapa sajalah diantara mereka, yang penting aku bisa tersenyum dalam sanubari. Pun dalam shalat, ketika aku sedang shalat berjamaah qabla ngaji aku sering menoleh ke belakang, memperhatikan Rieke –aku belum tahu saat itu, kalau melepaskan pandangan dari sujud adalah larangan, jadi aku sering melakukan itu.

Nampaknya usahaku untuk menarik perhatian Rieke atasku adalah suatu hal yang mustahil, aku tidak akan pernah mendapatkan ‘cinta’ darinya, karena ada seorang pria kelas 5 SD, namanya Aris, dia seakan merebut Rieke dari harapku. Aris sering menganggu Rieke, dan Rieke tak merasa keberatan, malah ketika aku membaca rautnya, dia seakan terpuaskan dengan jailnya Aris. Sudahlah, Aris sudah dewasa, sementara aku hanya anak kecil yang masih haram untuyk menjamah cinta. Namun ada suatu ketika, dimana Rieke berbicara kepadaku, dan saat itu aku dibuat terbuai, “Dimana letak sapu, diq?” hanya sependek itu. Namun itulah petikan obrolan berhargaku dengannya. Aku merasa bahwa dia telah menerima cintaku, ketika dia mengajakku berbicara. Namun, semenjak aku meninggalkan Kota Padang, aku tiada lagi pernah bertemu dengannya, sampai saat ini. Entah seperti apa dia sekarang, aku yakin dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan tentulah sudah ada seorang pria yang selalu erat menggenggam tangannya, dan menjadi perisai baginya. Karena dia memang pantas mendapatkan itu. Mungkin jika aku menemuinya di suatu masa kelak, barangkali kami tidak akan saling mengenal. Namun semua destinasi sudah ditentukan. Ya, dialah orang pertama yang membuatku tertarik kepadaku.

Kak Rieke, kalau kelak kau membaca ini... Masih ingatkah denganku?? Shiddiq yang begitu lugu itu... Mungkin sudah tidak yaa!! Hehehe....

---------------------------------------------------------------------------------

Pengunjung yang baik adalah pengunjung yang selalu pamit sebelum meninggalkan tempat!!
Jangan Lupa Tinggalkan Jejaknya ya!! :)

2 komentar:

  1. so sweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet
    lain kali cerita tentang sweet heartmu yang sekarang lah idiq :-)

    BalasHapus
  2. wahhh kalo sweetheart sekarang mah pripasi mbakyu!! :p

    BalasHapus