Sabtu, 26 Maret 2011

Aku dan Kenangan Cinta Dalam Demokrasi

Tahun 2004...

Ketika itu aku masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, selain menimba ilmu dari sekolah dasar yang mayoritas mengajarkan ilmu duniawi -kata guruku sih gitu-, aku juga mengecap pendidikan di TPA, atau di daerahku ini biasa disebut Madrasah Diniyah Awalliyah (MDA), di MDA ini aku tidak hanya belajar mengaji ataupun kisah Nabi dan Rasul terdahulu, namun kami juga diberkahi ilmu-ilmu agama lain seperti Al-Qur'an Hadits, Sejarah Islam, Akidah Akhlak, Fikih Ibadah dan juga Bahasa Arab dasar, yang dimana di sekolah pagiku pelajaran ini merupakan pelajaran minoritas, bahkan tidak pernah diajarkan. Di MDA kami belajar tidak hanya di Masjid, tapi kami juga belajar pada tahapan kelas yang sistematika, dimana kami juga belajar di kelasa-kelas yang tersedia dengan guru yang beragam pula, belajarnya dari siang sampai sore.


Oke... Dalam cerita kali ini, aku akan menjemput memori lama yang hampir hilang, yaitu ketika aku duduk di kelas 3 MDA (di MDA juga ada tahapan kelas), di suatu sore yang mendung dengan suasana kelas yang begitu hiruk -menggambarkan betapa nakalnya kami :)- pada tahun ajaran baru, guru pun masuk ke kelas kami dan dalam beberapa detik suara hiruk itu pun frekuensinya menurun. Kami pun berdoa sebelum belajar dan sebelum belajar kami dianjurkan (kesannya wajib sih) untuk membayar infak -biasanya Rp. 100,- atau 10% uang jajanku- sebelum itu pun guru pun dengan tegas akan mengadakan susunan struktur kelas yang baru untuk menunjuk ketua kelas dan wakil ketua kelas. Momen ini begitu membuatku bersemangat, karena momen ini adalah momen bagiku untuk menunjuk temanku yang tak punya potensi untuk menjadi seorang leader, akan aku tunjuk dan akan aku buat dengan satu hak suaraku ini menjadi awal kehancuran kelas. Namun rasa senang itu seketika berubah menjadi mendung pekat pada hawaku -kebetulan di luar juga sedang mendung- aku ditunjuk oleh teman-teman sebagai salah satu kandidat, sepertinya mereka sudah bersekongkol ingin menjatuhkan dalam lubang hitam ini yaitu sebagai ketua kelas, mungkin tujuan mereka agar aku lebih mengurangi intensitas absenku. Guru pun mengesahkannya dan aku bersaing dengan temanku yang namanya Rahmat.

Sebentar... Sebelum meneruskan cerita ini, aku akan menjelaskan hal penting! Aku dan Rahmat adalah pria yang secara tidak langsung bersaing demi memperebutkan seorang wanita di mata temanku, karena sejak awal aku pindah -aku murid pindahan dari Padang saat kelas 3- ke Solok ini, hanya beberapa hari setelah itu aku langsung dijodohkan ala anak SD dengan seorang gadis, sebutlah namanya Dia. Awalnya sih di kelas 3 aku tak menyukainya, namun seiring berjalannya waktu dan semakin banyak perlakuan penjodohan itu kepadaku, rasa cinta itu sedikit muncul -sedikit cuma, gak usah lebay deh..-, bahkan ada hal terbodoh yang dilakukan di jembatan dekat sekolah, salah seorang temanku (aku belum tahu siapa, bahkan sampai sekarang) dengan berani membuat di jembatan tulisan yang sangat tidak bermakna, dia menulis "Dia ♥ Sidiq". What The Hell?? bahkan ini jauh lebih memalukan dibandingkan ketika anda membuka baju anda di jalanan kota Tokyo. Namun bagiku tak masalah, toh aku juga suka Dia saat itu. Namun ketika beberapa bulan setelah itu, aku melihat hal yang menyedihkan dibawahnya, entah bangsat mana yang menulis, dengan lantang terukir sebuah tulisan "Dia ♥ Rahmat". Ini sedikit membuatku tergoncang, sejak kapan Dia menghianati cinta suci ini? -padahal kami berdua tidak pernah berbicara-. Namun aku tidak bisa marah, karena aku dan Rahmat teman, kami bukan rival.

Kembali ke hari pemilihan yang bodoh itu... Karena kandidat hari itu hanya aku dan Rahmat, maka sorotan kelas pun langsung tertuju ke arah Dia, intinya "Siapa yang akan dipilih Dia?" bahkan aku hari itu berpikir ini adalah ajang, "Nama siapa yang berhak bersanding dengan nama Dia di ukiran jembatan?" . Saat pemilihan itu aku benar-benar berharap satu suara Dia bagiku bahkan bisa mengalahkan tigapuluh suara responden yang lain, karena saat itu bagiku suara Dia lah yang terpenting.

Pemilihan pun dimulai, secara mengejutkan aku memimpin perolehan suara dari Rahmat sekitar jarak lima suara. Dan tibalah saat yang membuat jantung anda berdebar kencang. Saat dimana satu suara yang dinantikan publik kelas 3 pun tiba, dia dengan malu-malu mengatakan, "Shidiq!". Oh No... aku begitu gembira hari itu. Dan seisi kelas pun bagaikan grup paduan suara upacara bendera dengan serentak bersorak, "Cieeeee.... Dia milih Shidiq". Bahkan momen ini aku selalu memikirkannya bahkan ketika mandi aku sering tersenyum membayangkan hari itu. Pada akhirnya aku menang pemilihan itu, aku bersedih sekaligus senang, yang membuatku sedih adalah karena aku menjadi ketua kelas -suatu jabatan yang paling kubenci saat itu- satu lagi, karena aku dipilih Dia secara tidak langsung, dan mengalahkan Rahmat. Namun ada satu hal yang luput dari pemikiranku hari itu, bahwasanya Rahmat juga berusaha keras mengelak dari jabatan membosankan itu, ataukah mungkin ini merupakan konspirasi Dia agar aku senang dan melupakan jabatan ketua kelas itu, atau mungkin ini agar membuat Rahmat senang karena dia berhasil gagal dalam pemilihan itu. Saat itu aku sampai berpikir begitu. Tapi, yang jelas bagi orang awam, Dia memilihku, bukan Rahmat.

Ketika aku kelas 6, dia pun kelas 6, namun Rahmat sudah kelas 7 dan sudah SMP. Aku baru tahu bahwasanya Dia dulu menyukai Rahmat dan aku mengetahui hal itu karena pada awal kelas 6, siswa kelas 6 benar-benar menjadi Couple Hunter, salah satu hal yang mereka lakukan adalah dengan menulis namanya dengan nama orang yang dia suka lalu dibatasi oleh gambar hati, saat itu aku melihat bahwa yang ditulis Dia di tangannya, adalah namanya dan nama Rahmat. Jadi, saat itu aku mengerti bahwa Dia lebih memilih Rahmat, dan Rahmat lah yang menang dalam ukiran nama di jembatan itu. Tapi, entahlah, setelah masuk SMP pun, aku dan Dia sudah tidak bertemu lagi, namun SMU aku kembali bertemu Dia, tapi sejak saat kelas 6 itu Dia tak pernah lagi menemui cinta monyetnya yaitu Rahmat.

1 komentar:

  1. "DIA"..
    bagaimana anda dan dia sekarang?

    dan cinta suci itu!!
    *preeeetT
    :P

    LOL

    BalasHapus