
PSSI tetap menggelar kompetesi level teratas Indonesia tetap satu wilayah, hal itu tak lepas dari desakan banyak pihak, termasuk klub yang keberatan dengan profesionalnya Liga format Dua Wilayah. Awalnya PSSI tetap mempertahankan jumlah peserta Liga 18 klub, namun beberapa hari berselang PSSI membuat keputusan aneh nan lucu, dengan menambah 6 klub tambahan.
6 klub tambahan itu adalah PSM Makassar, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSMS Medan, Persebaya Surabaya dan tim yang terdegradasi musim lalu, Bontang FC. Alasan penambahan 6 klub ini beragam dan cukup sulit dinalari.
Pertama paket PSM, Persema dan Persibo, yang keanggotannya dikembalikan PSSI rezim sekarang, setelah PSSI rezim sebelumnya memblacklist mereka dari daftar anggota, karena berhenti di tengah kompetesi dan bergabung dengan kompetisi lain. Alasan PSSI mempromosikan mereka ke kasta teratas adalah karena semangat mereka berkompetesi, sangat lucu memang, karena ada kata ‘semangat berkompetesi’, ini seolah-olah PSSI tak melihat betapa semangatnya klun-klub lain berkompetesi, kenapa hanya 3 klub ini saja yang dipromosikan, sebagai contoh Deltras Sidoardjo, tim yang bisa dikatakan gagal dalam aspek finansial musim lalu, tetap bersemangat menyelesaikan liga dengan apa yang ada, atau mungkin tim-tim di Divisi Utama yang banyak akan bangkrut, tapi mereka secara profesional menyelesaikan kompetesi, dengan mengabaikan prestasi demi profesionalitas. Paket tiga tim ini yang seharusnya berlaga dari Divisi Utama karena telah diputuskan oleh PSSI terdahulu karena sebuah pelanggaran berat karena berhenti berkompetisi di tengah jalan, tapi kenapa mereka seolah ‘dimanjakan’ oleh PSSI sekarang? Lucu bukan?
Berikutnya paket PSMS dan Persebaya, dua tim ini musim lalu berlaga di Divisi Utama, namun gagal promosi, tapi justru mereka mendapatkan hal yang mungkin tak pernah mereka pikirkan, bisa terealisasi dengan mudahnya. Alasan PSSI mempromosikan dua tim kuat era-Perserikatan ini karena dua tim ini memiliki basis fan dan kultur sepakbola yang luar biasa. Dimana profesionalitas PSSI? Kita bisa menengok Leeds United dan Nottingham Forest di Inggris, dua tim besar di masa lalu, dan memiliki sejarah hebat di blantika sepakbola Inggris, khusus untuk Notthinghan Forest, prestasi mereka sekarang belum bisa dikalahkan Arsenal atau Chelsea di kancah Eropa, yaitu 2 kali juara Liga Champions! Tapi sekarang mereka bermain di kasta bawah. Tapi itu bedanya dengan Liga Indonesia yang dengan gratisnya memasang tim dengan kultur yang bagus di kasta teratas. Bisa saja tim seperti Persik Kediri atau PSIS Semarang memprotes keputusan ini, karena dua tim ini juga memiliki kultur bagus di Ligina era-Milenium Baru. Lucu memang!
Terakhir, yang tak kalah menggelikan adalah Bontang FC (BFC) tim yang dikalahkan Persidafon di babak play off ini tetap dimasukan, sesuai regulasi BFC harusnya bermain di Divisi Utama musim depan, tapi karena faktor kasihan dan semangat berkompetesi, PSSI menjatahkan satu slot pada tim Kalimantan Timur ini.
Cukup aneh dengan keputusan PSSI soal regulasi Liga, di saat banyak pihak yang terpuaskan dengan batalnya format kompetisi dua wilayah, PSSI menghadirkan masalah baru. PSSI memaksa klub untuk profesional, tapi kok mereka tak profesional? Diharapakan kesadaran dari masing-masing klub yang ‘tergratiskan’ dan ‘beruntung’ bermain di kompetesi level satu untuk profesional soal dimana mereka seharusnya berkompetisi. Jayalah sepakbola Indonesia!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar