Rabu, 08 Juni 2011

Pentingnya Arah Hidup

"Lihat tuh si Icha, dia juara lagi kan !!" kalimat penuh komparasi ini sering menghampiri tatkala setiap akhir semester. Kalimat yang tersirat di dalamnya suatu campuk motivasi, malah aku terima sebagai ketidakadilan.

Tahun ini, adik perempuanku Annisa, menamatkan masa Sekolah Menengahnya di Madrasah Tsanawiyah Padang Panjang -salah satu MTsN terbaik di Sumbar-. Dia telah menyelesaikan studi beratnya selama tiga tahun, tanpa Orang Tua, dan tinggal di Asrama dengan tingkat kedispilan nan ketat, membuat dia tumbuh sebagai pribadi mandiri, berlain denganku, remaja yang masih 'manja', dulu sebelum dia menamatkan sekolah dasarnya, dia bahkan tak lebih pintar dariku menyuci baju, memyuci piring, memasang bohlam. Namun sekarang dia sudah berubah, dia menjadi lebih dewasa dariku -secara pribadi sih iya-, bahkan dia tak semenyebalkan dulu, dimana kami sering berebut nonton TV, sekarang dia sudah bisa mengalah kepada ku, abangnya -aku merasa adik baginya-, meski terkadang aku masih bersitegang, aku nonton Bola, dan dia drama Korea.

Setelah aku berpikir dengan mendengar beberapa obrolan orang tuaku mengenainya, ternyata dia adalah gadis penuh visi. Saat dia masih duduk di kelas VII, dia sudah menargetkan dirinya, agar Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran, mau membelinya, bukan dia yang menjual diri untuk UI. Aku membayangkan itu membuat mataku kelilipan. Boro-boro masuk Fakultas Kedokteran UI, masuk kedoktaran Unand aja susah bukan main. Dia begitu giat belajar, memang sih di sekolahnya dia tak selalu hadir sebagai yang terbaik, namun dia cukup sering berdiri dalam seremoni pemuncak kelas -aku hanya di SD dan MTs yang merasakan hal begini-.

Sabtu kemarin (4/6), siswa SMP / sederajat menerima hasil kelulusan Ujian Nasional, dia datang padaku, dan dengan gaya yang tidak menggambarkan ekspresi senang memberikan secarik kertas panjang yang sudah dipress, aku merasa di-inferior-kan melihat hasil mengagumkan nilainya, dengan Jumlah Nilai: 36,65 dari nilai makasimal 40. Dia juga dianugerahi sebagai nilai terbaik kedua di sekolahnya. Matematika-nya pun sempurna, dan Ilmu Alamnya hanya cacat pada dua soal!
Aku coba membandingkan dengan nilai-ku dulu, hanya 33,85. Nilai sepertiku membuatku menjual diri pada sekolah-sekolah.

Itulah bedanya aku dengannya, aku adalah si penikmat masa ini, yang terkadang tak terlalu memikirkan tujuan hidup, aku sudah menghapus 'Dokter' dari daftar cita-citaku, karena aku sangat tidak memahami ilmu biologi -dasar kedokteran dalam ilmu sekolah-, aku pernah bercita-cita menjadi seorang suksesor Yohannes Surya saat aku sangat mencintai Ilmu Fisika, seorang Astronot, saat aku kagum pada Neil Armstrong, menjadi seorang Komikus, saat aku diadiksikan oleh komik, menjadi seorang pesepakbola saat aku menjadi pemain andalan ketika sekolah dasar, dan menjadi novelis saat aku terkesima membaca novel Andrea Hirata. Namun aku tak pernah tahu kemana jalan hidup yang akan ku tempuh suatu saat nanti. Aku tak memiliki visi yang jauh macam adikku.

Jurnalis
Aku sempat disinggung oleh kawanku, "Woi diq, ntar lo mau masuk mana tamat SMA ??"
"Sastra Indonesia, mungkin..." jawabku acuh.
"Bagus tuh, tulisan lo mantep coy.." dia menyemangatiku.
"Oh yeaahhh!!" tutupku.

Namun saat santai dengan keluarga, saudara bertanya seperti itu, aku jawab sama. Dan dia bertanya apa cita-citaku. Aku menjawab Wartawan Olahraga.
Dia menyarankanku masuk Ilmu Komunikasi, setidaknya Ilmu Komunikasi telah mencambukku dan sedikit memotivasiku untuk belajar lebih giat. Dan aku sudah memiliki visi ke depan, yang harus aku dapatkan.

---------------------------------------------------------------------------------------

Pernahkah Anda memikirkan visi Anda ke depan??
Ya, itu sangat penting, bahkan perlu guna menjadikan Anda seseorang yang bermanfaat kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar