Sabtu, 07 Mei 2011

Temanku Seorang Teroris?

Judul tulisanku kali ini memang agak provokatif, namun aku tiada bermaksud untuk demikian, bacalah tulisan ini sampai akhir. Seketika aku ingin menulis tulisan, karena suatu dialog singkat antara dua orang temanku tadi di sekolah. Aku merasa tidak biasa mengenai dialog mereka, aku mendekati mereka berdua, dan berusaha untuk mengontrol sedikit emosi, dan mendengarkan semua kata yang terucap dalam dialog yang berdurasi sekitar satu menit itu. Tema yang mereka bahas dalam dialog itu adalah mengenai tewasnya ‘Raja Teroris’ (Alm) Osama bin Laden, seorang pemimpin garis keras yang ingin menegakkan kalimat suci, “Lailahaillallah” di setiap penjuru jagat ini. Memang sih, cara yang ditempuh (Alm) Osama begitu berantagonasi dengan cara yang diajarkan Rasulullah, yang mengajarkan kepada umatnya untuk menciptakan perdamaian di dunia ini, setelah beliau meninggalkan kita, dua pusaka hingga akhir zaman, Al-Qur’an dan Hadits adalah referensi bagi kita untuk berbuat apapun di dunia ini, atas dasar dua pusaka itu. Sedangkan cara yang ditempuh (Alm) Osama bin Laden yang dengan dasar jihad, rela memusnahkan manusia yang notabene tidak seiman dengannya, cara yang tidak diprektekkan oleh pemimpin Rasulullah. Seketika jalur hitam yang diambil Osama langsung muncul tudingan dari Barat yang notabene terbangun atas bangsa Yahudi dan Nasrani, yang dengan lantang menunjuk Islam sebagai penyebab semua ini. Al-Qur’an memang sudah mendestinasikan bahwa ‘perang’ anatar Islam dan Yahudi akan selalu berkembang hingga masa berakhir, bahwasanya mereka (Yahudi) tidak akan pernah tersenyum puas sampai Islam benar-benar tak berebekas (dikutip dari beberapa sumber). Muncullah semua hal yang mengatasnamakan bahwa Islam harus dibasmi dari penjuru jagat.

Muhtar, sebutlah itu nama temanku yang sedang berdialog dengan Abdi, temanku yang lain. “Osama bin Laden tewas, namun Islam tetap akan berdiri tegak sampai akhir zaman!!” pernyataan ini termuncrat dari mulut Muhtar. Sebuah pernyataan yang jika Anda tidak mengenali siapa Muhtar, pasti akan mengira bahwa kata-kata Muhtar penuh dengan makna yang seakan memotivasi kita umat Islam. Namun, sejauh aku mengenali Muhtar, aku tidak begitu setuju dengan paham yang dianutnya. Dia pernah berseloroh kepadaku bahwa dia siap berdebat mengenai Islam dengan siapapun dengan ilmunya yang ia dapat dari gurunya.

Dalam suatu kesempatan aku sempat berdiskusi mengenai pahamnya. Dia berbisik padaku, “Diq, tahukah engkau siapa pimpinan Islam di dunia dan di Indonesia saat ini??”, dia seakan menawari untuk saling terbuka dalam diskusi ini, aku pun terpikat akan kata-katanya, lalu aku bertanya balik. “Di dunia Osama bin Laden, di Indonesia Abu Bakar Ba’asyir!!” dia dengan tegas menyampaikan itu padaku. Sontak aku kaget dengan pernyataannya. Aku memang bukan ahli Kitab, ahli Agama, namun aku tahu bahwa nama yang tersebut diatas, dua-duanya adalah teroris, musuh semua manusia. Aku langsung berdiri dari tempat dan meninggalkannya. Seketika aku berpikir, apakah aku sedang berbicara dengan seorang calon teroris?? Aku tidak mengerti mengapa dia dengan lantang menyatakan bahwa para teroris yang memilih jalur keras sebagai imam dari umat Islam. Waallahu’alam.
Dalam beberapa kesempatan sebelum itu, saat jam pelajaran Kewarganegaraan (KWN). Aku duduk di sebelahnya. “Aku membenci dia (guru KWN) itu?”, dia memulai pembicaraan ini.
“Kenapa?” aku bingung. “kalau caranya sih memang, wong dia mengajar pragmatis banget.” aku sedikit mendukung pendapatnya.
“Bukan itu, aku tidak percaya Hukum di Bangsa ini!!” tegasnya.
“kenapa? Apanya yang salah?” aku bingung.
“Ya, bangsa Indonesia ini bodoh, mempercayai SBY sebagai presiden, gak lihat kamu. Itu orang kena tsunami di Mentawai, si SBY malah liburan ke Hanoi. Mana otaknya sih??” dia mulai memperlihatkan kebenciannya.
“hei, kalau ngomong itu hati-hati dong, bukannya Pak SBY itu ke Hanoi karena lagi ada urusan kenegaraan. Dan tsunami itu kemaren, sementara Pak presiden ke Hanoi udah tiga hari yang lalu kalau gak salah.” Aku coba melakukan pembelaan menyanggah pernyataannya.
“woi diq, kau tau ndak? Dasar Hukum itu semuanya ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Trus ngapain kamu patuhi juga UUD 45 itu. Itu bohong.” Dia menekanku.
“iya, itu benar yang kau bilang, cuman kita hidup dalam negara majemuk, bukan negara teokrasi satu agama, jadi, mana mungkin orang Kristiani, Buddha ama Hindu musti ikut-ikut hukum Al-Qur’an. Toh, mereka gak punya hak untuk mempercayai Al-Qur’an.” Aku mencoba melurukan, dengan keislaman ortodoks milikku ini.
Lalu dia tak lagi membalas kata-kataku tadi, bukan berarti dia kalah, tapi dia terlihat tidak mau mengiyakan penjelasanku barusan.

Di kesempatan lain, Muhtar juga cukup senang mengajakku berdebat soal Islam, ya, mungkin saja karena latar belakang sekolah pra-SMU ku di sekolah agama. Muhtar pernah mengatakan padaku, bahwa dia adalah seorang yang begitu teoritis dalam beragama, namun begitu pasif dalam pengaplikasiannya. Dia mengakui sendiri padaku. Konsep agamanya padat, namun pelaksanaannya sama dengan nol. Aku berpikir, lebih baik Anda seorang Islam yang lemah dalam konsep, namun Anda begitu taat menjalankan syariat agama. Agama bukan sekedar konsep belaka, pengaplikasian adalah kredit utama dari agama itu sendiri.

Demikian aku menceritakan sedikit pengalamanku mengenai Muhtar. Aku tak berharap dia salah dalam ajaran agamanya, semoga dia bukan seorang calon teroris. Aku tidak tahu jalan mana yang ditempuh untuk menegakkan kalimat “Lailahaillallah” di muka bumi ini, namun tujuan kita satu yaitu menjaga Islam tetap terpelihara, meski kelak di suatu masa, destinasi Tuhan akan hadir. Waallahu’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar