Sabtu, 07 Mei 2011

Atraktif vs Konsisten

“Barcelona memainkan sepakbola atraktif, dan Manchester United bermain dengan sepakbola konsisten!!” kata-kata bijak dari Bung Gita Suwondo, seorang komentator lokal sepakbola yang saat itu sedang memandu siaran langsung Semi Final Liga Champions antara: Manchester United vs Schalke 04. Saya pribadi langsung tertarik dengan kata-kata itu, hal senada juga diiyakan Bung Ricky Jo, yang pada pagi itu berperan sebagai presenter acara itu.

Anda mungkin tahu Barcelona FC. Ya, sebuah tim dari distrik Catalonia, Spanyol. Yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir pembicaraan, karena mereka memperagakan sepakbola menyerang nan nikmat dilihat. Style sepakbola Barcelona adalah pengembangan Total Football, sebuah filosofi sepakbola yang dianut oleh Johan Cruyff, yang notabene adalah guru dari Josep Guardiola, pelatih Barcelona sekarang. Menguasai lapangan tengah adalah keahlian Barcelona, gaya ¬Tiki-Taka yang berporos pada seorang Xavi Hernandez di lapangan tengah yang berperan sebagai nyawa permainan dibantu Andres Iniesta, yang begitu serasi dengan Xavi di lini tengah, Xaviesta adalah dua sosok arsitek sebuah tim, Barcelona dan Spanyol begitu beruntung memiliki dua insan terbaik dalam sepakbola modern ini. Di lini depan trio pembunuh berdarah dingin siap menghadirkan petaka bagi setiap tim, Pedro Rodriguez, jebolan La Masia; David Villa, eks-ikon Mestalla dan seorang anak ajaib abad 21 Lionel Anders Messi, si mungil dengan agillity yang wah, Leo bukan tipikal striker pembunuh macam Didier Drogba atau Emanuel Adebayor. Berposisi awal bukan sebagai striker, tangan emas Pep Guardiola mampu menyulap sang maestro menjadi seorang striker pintar. Tanpa mengecilkan peran di lini paling bawah. Dua Puyol-Pique adalah salah satu duet hebat di dunia saat ini, dengan kehadiran mereka yang bagai karang tangguh, Victor Valdes tidak terlalu sering berjibaku.
Permainan Tiki-Taka ini begitu luar biasa, rata-rata setiap tim yang di hadapi Blaugrana selalu kalah dalam hal ball posesion. Sebuah bukti yang mampu menunjukkan bahwa mereka begitu kuasanya Xaviesta di lini tengah, dan jika dua orang ini mampu dimatikan United 28 Mei nanti, bisa dipastikan separuh nyawa dari Blaugrana akan hilang, dan jelaslah trio macannya Barca di depan, tidak akan berkutik.

Manchester United, tim dari Barat Laut Inggris ini adalah tim besar yang memiliki kultur sepakbola yang luar biasa, memiliki sisi historikal yang sanggat indah. Sejak era Sir Matt Busby pasca Perang Dunia II, sampai kini masa Sir Alex Ferguson, United konsisten melahirkan bintang-bintang besar di kancah persepakbolaan Britania, mulai dari Bobby Charltorn, Duncan Edwards, George Best, Dennis Law, Bryan Robson, David Beckham, Ryan Giggs sampai sekarang mereka tidak berhenti melahirkan bibit unggul yang akan tumbuh menjadi yang terhebat di jagat ini. Musim ini United tampil cukup perkasa di kancah lokal, sempat tertinggal beberapa langkah dari Chelsea di awal musim, mental juara dan konsistensilah yang berbicara, mereka mampu menyalip The Blues kala mereka sedang dalam masalah internal yang melanda klub. Di kancah Eropa, di awal turnamen, mereka terlihat tak begitu meyakinkan, ditahan Rangers 0-0 di Theter of Dreams, lalu hanya menang tipis 1-0 atas Valencia dan tim semenjana Bursaspor, namun mereka berhasil melaju ke second round setelah menjadi juara grup. Marsielle menjadi korban, namun penampilan belum begitu meyakinkan, sampai di Perempat Final, fase inilah dimana United mulai menunjukkan mental tangguh, rival senegara Chelsea dihajar dua kali, Bridge dan Trafford menjadi saksi keperkasaan Fergie-babes, terakhir dark horse Schalke dipecundangi dengan aggregat 6-1, sebuah margin keunggulan aggregat yang menjadi rekor baru. Melihat statistik di atas, jelah United adalah tim dengan mental juara yang hebat, dan konsistensi yang luar biasa.
The Flying Dutchman, Edwin van der Sar menjadi palang terakhir pertahanan United, duo center baik terbaik dunia saat ini Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic siap meredam pergerakan Leo Messi, Villa dan Pedro, tentu saja dengan dua sokongan sektor tepi, pos Patrice Evra dan Rafael da Silva atau beberapa pemain lain. Sementara untuk bagian tengah, Ryan Giggs dengan sisi senirotas kenyang pengalamannya, siap membantu Michael Carrick atau Darren Fletcher mengalirkan bola menuju sayap lewat tusukan Nani dan Valencia, nani dengan terobosannya siap mengobrak-abrik pertahanan Barca, dan Antonio dengan umpan-umpan manisnya siap memanjakan si kacang polong Javier Hernandez, dan Wayne Rooney berperan sebagai deep lying foward. Sebuah skema hebat yang siap dilancarkan Feguson guna merebut trofi keempat sekaligus revans atas tragedi Roma 2009.

Yang menarik dari laga ini adalah pertarungan lini tengah, arsitek Xavi siap beradu tajam dengan Sir Ryan Giggs, siapa yang cerdik?? Wembley siap mementaskan laga besar ini dalam 20 hari ke depan.

2 komentar:

  1. Jangan berhenti mengutarakan pendapat melalui tulisan yaa.. semakin sering menulis, semakin kita ingin belajar menjadi lebih baik lagi. Sukses!
    Ditunggu karyanya menjelang final Liga Champion!

    BalasHapus
  2. terimakasih atas masukannya Bung Wesh !! :)

    BalasHapus