Sebuah tulisan yang saya tulis hari ini, bukan sebuah curhatan dalam bentuk rasa frustasi, ini hanya sebagian kecil dari bentuk curhat yang saya lakukan dengan tujuan untuk melepas uneg-uneg. Maka, tolong sedikit pahami esensi tulisan saya ini. Bukan frustasi, tapi hanya ingin melepaskan uneg-uneg.
Saya memang terlahir tidak dianugerahi goyangan tangan yang cekatan diatas kertas, saya memang bukan imaginer yang gila, yang mampu memikirkan sesuatu yang estetik di luar rasio. Tapi saya menyukai seni, senang menggoyang pensil diatas kertas untuk menghasilkan sesuatu yang jika nilai tidak sempurna. Ya, seni tidak mengenal bagus atau jelek sesuatu, benar atau salahnya suatu karya, tapi seni hanya mengenal sudah sempurna karya itu.
Saya memilih "Arsitektur Universitas Brawijaya" di opsi pertama saya dalam tes masuk Perguruan Tinggi Negeri tempo hari, saya nomorduakan jurusan Komunikasi yang sebenarnya lebih saya kuasai. Bukan karena paksaan orang tua, tapi orang tua sangat berharap agar saya bisa menjadi seorang Insinyur, prospektif di dunia kerja bagus, masa depan lebih terjamin ketimbang menjadi seorang kuli pena, yang setiap hari kesana kemari mencari sesuatu yang bisa dijual. Saya memilih Arsitektur karena itu, saya senang menggambar, sekali lagi karena saya senang, bukan karena terampil.
Alhamdulillah, Tuhan meluluskan usaha saya di pilihan pertama, saya hanya berpikir, kalau memang Architecture is my way, my future.
Setelah memasuki dunia kampus, saya mulai berpikir, apakah saya pantas berada diantara mereka? Para imajiner gila, penggambar handal, desainer hebat.
Saya menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa.
Nah, ada satu hal yang mendasari saya membuat judul postingan ini dengan judul seperti itu. Jangan kira menjadi mahasiswa itu mudah. Saya ma sih membawa sesuatu kanak-kanak era SMA ke dunia kampus. Sistem kebut satu malam dalam mengerjakan tugas, keapatisan dan banyak hal lainnya yang merasa bahwa saya belum pantas dipanggil MAHASISWA.
Saya harap tulisan tidakhanya sekadar pelepas uneg-uneg yang sedeang menggelantung di pikiran saya, tapi semoga ini bisa menjadi suatu pemicu bangkitnya semangat saya untuk bisa lebih rajin, lebih peduli dan lebih ingin untuk menjadi Arsitek. Ya, meski bukan "Arsitek" jalan takdir saya, tapi setidaknya label "Sarjana Arsitek" ada pada diri saya.
"Eh, jangan dulu panggil saya Arsitek!"
"Saya masihmahasiswa."
Saya memang terlahir tidak dianugerahi goyangan tangan yang cekatan diatas kertas, saya memang bukan imaginer yang gila, yang mampu memikirkan sesuatu yang estetik di luar rasio. Tapi saya menyukai seni, senang menggoyang pensil diatas kertas untuk menghasilkan sesuatu yang jika nilai tidak sempurna. Ya, seni tidak mengenal bagus atau jelek sesuatu, benar atau salahnya suatu karya, tapi seni hanya mengenal sudah sempurna karya itu.
Saya memilih "Arsitektur Universitas Brawijaya" di opsi pertama saya dalam tes masuk Perguruan Tinggi Negeri tempo hari, saya nomorduakan jurusan Komunikasi yang sebenarnya lebih saya kuasai. Bukan karena paksaan orang tua, tapi orang tua sangat berharap agar saya bisa menjadi seorang Insinyur, prospektif di dunia kerja bagus, masa depan lebih terjamin ketimbang menjadi seorang kuli pena, yang setiap hari kesana kemari mencari sesuatu yang bisa dijual. Saya memilih Arsitektur karena itu, saya senang menggambar, sekali lagi karena saya senang, bukan karena terampil.
Alhamdulillah, Tuhan meluluskan usaha saya di pilihan pertama, saya hanya berpikir, kalau memang Architecture is my way, my future.
Setelah memasuki dunia kampus, saya mulai berpikir, apakah saya pantas berada diantara mereka? Para imajiner gila, penggambar handal, desainer hebat.
Saya menyerahkan semuanya kepada Yang Kuasa.
Nah, ada satu hal yang mendasari saya membuat judul postingan ini dengan judul seperti itu. Jangan kira menjadi mahasiswa itu mudah. Saya ma sih membawa sesuatu kanak-kanak era SMA ke dunia kampus. Sistem kebut satu malam dalam mengerjakan tugas, keapatisan dan banyak hal lainnya yang merasa bahwa saya belum pantas dipanggil MAHASISWA.
Saya harap tulisan tidakhanya sekadar pelepas uneg-uneg yang sedeang menggelantung di pikiran saya, tapi semoga ini bisa menjadi suatu pemicu bangkitnya semangat saya untuk bisa lebih rajin, lebih peduli dan lebih ingin untuk menjadi Arsitek. Ya, meski bukan "Arsitek" jalan takdir saya, tapi setidaknya label "Sarjana Arsitek" ada pada diri saya.
"Eh, jangan dulu panggil saya Arsitek!"
"Saya masih
semangat !!
BalasHapus