
2004, siapa sih yang tidak ingat saat pelatih berkebangsaan Jerman, Otto Rehagel membawa sebuah tim nasional yang awalnya dipandang sebelah mata, tapi mampu meberikan kejutan dengan menjuarai Euro 2004. Ya, Yunani dengan gaya pragmatisnya mampu menjuarai salah satu turnamen mayor di Eropa. Bahkan mereka hanya mampu mencetak tujuh gol selama turnamen itu berlangsung, atau dengan rataan 1,16 gol per pertandingan! 2012, Fernando Santos siap mengulangi prestasi Rehagel dengan gaya pragmatis, serangan balik dan memanfaatkan set piece. Sayang, itu semua gagal total.
Semalam, Yunani sebagai deputi grup B siap menghadang langkah salah satu favorit juara, Jerman. Yunani dengan pragmatisnya seolah-olah mengundang Tim Panzer untuk bermain total menyerang. Yunani dengan gayanya yang membosankan itu menumpuk enam sampai tujuh manusia di kotak penalti! Bahkan di tengah pertandingan sempat Manuel Neuer sampai ke garis tengah. Tapi, Yunani melakukan kesalahan fatal, mereka terlalu bertahan, bahkan menurut UEFA Yunani bahkan kalah telak penguasaan bola dari Jerman, 30%! Yunani tahu kualitas pemain mereka kalah jauh dari Jerman yang muda, bertenaga. Mereka hanyalah kereta-kereta tua yang dibawa dengan beberapa pemain yang memiliki pengalaman. Sebut saja Samaras atau Karagounis –sayang semalam Karagounis tak bisa turun. Hasilnya, ya mereka hanya mampu menahan Jerman 40 menit awal, sebelum Philip Lahm dengan tendangan spekulasinya memecah kebuntuan. Gol Lahm tak banyak merubah gaya permainan Yunani, mereka masih berharap pada dewi fortuna untuk bisa mencetak gol. Ya, memang mereka sempat menyamakan angka lewat proses serangan balik yang dibangun Gekas sebelum diakhiri oleh Samaras. Tapi, Yunani harus ingat bahwa tembok pertahanan mereka tidak dijaga pemain yang terlalu hebat. Akhirnya tambahan dari Sami Khedira, Miroslav Klose dan Marco Reus, ditambah satu penalti Dimitris Salpingidis, menyudahi perlawanan Yunani 4-2. Mereka pulang, pencita permainan indah bersorak kegirangan.
Yunani harus ingat, mereka hampir tersingkir dari Grup A, jika saja Rusia tak bermain maruk kala melawan mereka. Mereka lolos sebagai runner up –yang hanya menang head to head dari Rusia. Skuad yang mereka bawa pun tercatat sudah tua-tua, seperti Kostas Chalkias (38), Giorgis Karagounis (35) atau Theofanis Gekas (32) dan pemain muda yang mereka bawa terkesan melempem, Sotiris Ninis yang tak bermain bagus, Sokratis Papastathopoulus yang sebenarnya tidak bermain buruk, tapi kelakuannya di lapangan yang sudah mendapat sekali kartu merah. Mereka harus belajar dari skuad 2004 mereka yang tak hanya mengandalka seranga balik. Yunani 2004 sebenarnya mulai melakukan kejutan dengan mengalahkan Juara Bertahan, Prancis lewat sundulan Angelos Charisteas, gol ini lewat sebuah proses serangan balik. Atau yang masih ingat, lewat set piece, sepakan pojok Angelos Basinas diakhiri dengan tandukan Angelos Charisteas sekaligus membuyarkan mimpi tuan rumah untuk juara, Cristiano Ronaldo 18 tahun mewek.
Satu hal yang tidak dimiliki Yunani 2012 yaitu keseimbangan pemain yang tangguh di setiap posisi, beda dengan Yunani 2004. Di lini belakang mereka punya Giourkas Seitaridis yang memimpin barisan pertahanan, untuk spesialis pengatur serangan dan penyambung antara pertahanan dan penyerangan, Yunani 2004 punya Giorgis Karaounis dan sang kapten, Theodoros Zagorakis. Pemanfaat set piece mereka punya, Angelos Basinas. Sementara untuk penyelesai proses serangan balik mereka punya Angelos Charisteas. Dan satu hal yang tidak mereka miliki adalah kiper hebat yang mampu menahan semua gepuran lawan, ya, Antonios Nikopolidis. Yunani 2004 hanya punya Michailis Sifakis yang performana sangat buruk semalam, sering tak lengket menangkap bola atau Kostas Chalkias yang sering salah membuat keputusan. Intinya seperti tulisan saya sebelumnya, Yunani tak hanya butuh sekedar keajaiban Zeus dan dewa-dewi lainnya untuk juara, tapi pemain hebat pun merupakan algojo penting dalam menjalankan semua harapan rakyat Yunani. Skuad 2012 masih belum bisa seperti skuad 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar