H-1 / 31 Maret 2011
Satu hari sebelum UTS aku dan kelasku masih belajar seperti biasa –seperti itulah sekolahku- sangat membosankan memang... namun itulah tuntutan sebagai seorang pelajar yang baik dan sakti. Hanya pada jam pelajaran terakhir kami tak belajar. Dan Nomor ujian pun dibagian, ditambah sedikit wejangan dari wali kelas –sudah berulang-ulang- dan sedikit ancaman bagi siswa pria yang rambutnya tak sesuai standar SNI, maka si wali kelas yang berubah peran menjadi Komite Displin katanya akan memotong rambut pria yang nakal, sepertiku ini.
Dan aku mendapatkan Kartu Ujian, seperti ini:

Hari Pertama / 1 April 2011
Hari pertama UTS, kami kelas XI hanya mengerjakan satu mata pelajaran pada hari pertama –biasanya dua-, yaitu Bahasa Indonesia. Sebuah pelajaran yang cukup menyenangkan bagiku pribadi, namun bagi teman-temanku tidak, entahlah... Teori Einstein bekerja dalam hal ini, yaitu Relativitas.
Sebelum Ujian, aku hanya membahas soal-soal tahun terdahulu dengan jenis soal yang hampir sama, dan aku segera mengambil kesimpulan bahwa soal tahun ini juga tak akan jauh berbeda dari soal-soal tahun terdahulu, dan aku tak begitu memperhatikan Buku dan catatanku –catatanku sudah tiada-.
Ketika hari H, aku berangkat dari rumah seperti biasa, yaiut dengan perhitungan matematis yang memungkinkan aku tiba di sekolah di saat bel berbunyi, dan itu pun terwujud, aku datang tepat waktu, saat pengawas sudah duduk di kursi panasnya untuk mengawasi kenakalan kami sewaktu ujian. Soal pun dibagikan pengawas muda itu, dan aku begitu shock ketika melihat soal, 90% persen teori! Tidak seperti soal-soal tahun terdahulu yang aku bahas, bahkan ini akan menjadi pembuka UTS yang buruk, karena tidak membawa bekal ilmu teori Bahasa Indonesia. Ini akan membuat reputasiku hancur, aku ingin kuliah di sastra Indonesia, namun nilaiku begitu memalukan, aku sempat berpikir. Namun, sense kepengaranganku pun muncul secara ajaib, dan setidaknya ada beberapa soal yang hanya hasil pemikiran otak bersihku ini. Aku tak begitu memperhatikannya. Namun aku memiliki satu nilai plus dalam ujian, yaitu aku berhasil mengatasi soal jebakan betmen. Dan itu cukup membuatku lega. Namun aku memprediksi nilai UTS Bahasa Indonesia ku mungkin pas-pasan atau mungkin tidak tuntas! Itu bukan urusanku.

[Soal Bahasa Indonesia bagian 1]

[Soal Bahasa Indonesia bagian 2]
Besok Ujian masih tiada lepas dari Bahasa yaitu Bahasa Britania dan Bahasa Bavarian. Aku sudah begitu yakin, bahwa Bahasa Bavarian-ku hanya akan menamparku ketika penerimaan rapor nanti. Ya, aku hanya berharap semoga esok Ujianku berjalan lancar, dan bisa dapat contekan dari si Bintang kelas yang duduk persis di belakangku.
Hari Kedua / 2 April
Tanpa persiapan yang maksimal, dua mata ujian yang masih belum lepas dari ilmu kebahasaan kembali menguji, kali ini duet bahasa luar, Inggris dan Jerman sudah menantangku untuk mengisi lembar ujian yang suci.
Aku datang ke sekolah terlambat dan membuat salah satu guru menegurku namun aku abaikan, aku berlari bagaikan Eyeshield 21 menuju kelas dan ujian Bahasa Inggris telah menanti. Aku duduk di tempatku, yang kali sangat strategis bagi guru untuk mengawasi kesucianku. Ujian Bahasa Inggris sedikit menjebak, namun aku berharap dapat menyelesaikan 23 soal-soal itu, semoga jawaban tidak terlalu melenceng dari harapan.

[Soal Ujian Bahasa Inggris bagian 1]

[Soal Ujian Bahasa Inggris bagian 2]
Ujian kedua Bahasa Jerman. Memang sudah seperti yang diprediksikan bahwa anak asuh Bapak M. Arif tidak akan mampu melalui ujian ini, namun kami diberi ruqsah dari guru yang bersangkutan untuk mengerjakan soal yang berhubungan dengan materi yang kami pelajari, walhasil cukup dua soal yang harus kami selesaikan, meski ada sub-soal, namun tidak begitu banyak. Ujiannya sedikit anomali dari yang lain, namun kalau sudah keputusannya begitu, apa boleh buat, toh... aku juga tak mengerti satupun Bahasa Jerman. Aku masih belum bisa menerimanya sebagai salah satu bahasa primer dalam hidupku, setidaknya sekunder juga belum masuk kriteriaku. Namun berkat sedikit usaha yang sering dilakukan pelajar, Lembar Kerja Ujianku tidak kosong dan ada beberapa isian yang aku tak tahu apa yang aku tulis, karena aku hanya mencotek dan mencotek. Jangan hukum aku!!

[Soal Bahasa Jerman bagian 2]
#NB: Bagian 1 tidak diperintahkan, karena belum belajar.
Ujian hari itu berakhir, kami akan break weekend dan akan kembali bertarung hari Senin dengan Matematika dan Agama, Matematika kuharap bisa karena tidak terlalu buruk seperti kimia, dan Agama Islam, aku tak pernah mencatat, maka senjata pamungkas adalah belajar di sekolah atau fotokopi catatn kawan. Hanya dua opsi itu.
• Hari Ketiga / 4 April 2011
Ini bagaikan lelucon, aku benar-benar bagaikan pecundang yang hanya mencoret kertas hari ini. Aku tak ingin berkata banyak, yang jelas Ujian hari ini Worst Day!! Bahkan soal termudah aku sampai tidak ingat cara mengerjakannya. Bukankah ini lelucon?
• Hari Keempat / 5 April 2011
Hari ini adalah hari keempat dari siksaan ini, hidangan Fisika dan Kewarganegaraan harus kami tuntaskan. Sebelum ujian aku sempat membuat pernyataan, “Jika Anda tak sanggup melakukan keduanya, maka setidaknya anda harus menguasai salah satunya dengan serius!”. Sebagai anak IPA, selazimnya aku mendalami Fisika, namun aku mengerti Fisika-ku sudah tidak seperti Fisika kelas X, dimana aku begitu menguasai konsep, sekarang tidak, aku benar-benar dikutuk Dewa Einstein. Daripada itu aku hanya memfokuskan diri dalam Kewarganegaraan, alih-alih ini bisa menjadi nilai yang bagus, meski harus mengorbankan Fisika.
Oke, tepat pagi 5 April aku bangun dengan beban, bayangan siksaan dari Dewa Einstein. Aku harus tegar, pagi itu aku lebih awal berangkat sekolah, setidaknya untuk bisa mendengar pembicaraan kawan-kawanku lalu mencernanya, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan. Bel itu berdering maka masuklah aku ke kelas, duduk di posisi yang begitu strategis bagi pengawas untuk mengawasi kenakalanku, soal dibagikan aku sedikit lega karena aku bisa menyelesaikan soal pertama, namun berikutnya aku hanya memakai teknik logika dalam mencari, mengabaikan sejuta rumus yang menumpuk di catatanku, bahkan dengan lucunya, untuk soal terakhir, aku menulis di Lembar Kerja-ku, “MAAF BU!! DALAM KASUS KALI INI, SAYA HANYA BISA MENCARINYA DENGAN LOGIKA!!” bukankah ini sedikit gila, tapi semoga sang Guru membaca keputusasaanku yang kutulis ini. Agar dia mengerti betapa susahnya mengerjakan soal-soalnya. Tidak begitu baik memang, namun soal pertama sedikit mengobati kegalauanku ini.
Istirahat sejenak, tak lama aku harus mengerjakan Ujian Kewarganegaraan. Materi yang dibahas dalam Ujian adalah mengenai Hubungan Internasional, sedikit cerita, sewaktu kelas X aku sempat berpikir, jika aku tercebur ke kelas IPS, maka aku akan mendalami ilmu diplomaik ini, dan untung-untung nanti bisa menjadi ambasador. Sudahlah lupakanlah kenangan lama itu... Ujian Kewarganegaraanku Insyaallah bisa kujalankan dengan baik, meski ada sedikit cacat, namun semoga saja itu tak mempengaruhi hasilnya nanti.
Besok, ujian yang benar-benar selalu menjadi pesakitanku yaitu Kimia, aku yakin ujian ini pasti akan kembali menjadi batu sandungan bagiku, disertai Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, yaitu pelajaran yang tak ada materi untuk diujiankan, namun gurunya masih ngotot buat diadakan ujian. Benar-benar terlalu memaksakan diri!
• Hari Kelima / 6 April 2011
Hari ini Kimia dan Penjaskes, menurut perkiraan hari ini akan begitu lancar, karena aku tak perlu banyak berpikir, karena aku memang malas untuk memikirkan kimia dan penjaskes, alasannya jelas, Kimia aku tidak mengerti dan Penjaskes, suatu pelajaran yang 100% praktek, nihil teori di semester genap ini. Dan ku songsong langkah baru untuk ke sekolah lebih awal, tentulah untuk belajar sedikit. Oh iya, sebelum ke sekolah aku meminta rumus dasar materi titrasi dan buffer, dan Algi (temanku) memberikan dua rumus yang katanya rumus dasar lewat handphone -namun aku tak memakainya ketika ujian.
Ujian dimulai, soal ada lima butir dan soal pertama, tentulah ingatan samar rumus dalam inbox pesan yang masih kuingat. Memang awalnya sedikit salah, namun aku menerawang Lembar Soal dan aku ingat rumus itu. BINGO!
Cukup untuk soal pertama dan kedua, selebihnya aku lupa dan tidak ingat lagi, namun aku masih memaksakan dengan teori feelogi untuk menyelesaikan sampai soal nomor lima, tentulah hasilnya akan buruk, namun setidaknya ada kabar aku bisa menyelesaikan nomor 1 dan 2, itu sudah cukup, setidaknya membuatku lega dan tak tertekan hari itu.
Ujian kedua, Penjaskes. Aku sempat berdiskusi dengan kawan-kawan pra-ujian, dan memang hal-hal yang kami diskusikan mayoritas hadir di Lembaran Soal, dan lumayanlah. Mungkin sedikit lebih baik dari Kimia.
• Hari Keenam / 7 April 2011
Biologi dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah tantangan berikutnya. Entah apa yang membuatku berpikir bahwa aku harus malas belajar, karena soal akan dibuat Buk Elly –beliau bukan guru mata Biologi kelasku, aku berpikir soalnya akn begitu membuatku memuntahkan segala sari-sari dari kepalaku untuk memahami soal-soalnya yang lebih seperti menyuruh kami membuat karya ilmiah. Dan TIK aku hanya menyempatkan membaca sebelum tidur –seperti membaca doa saja.
Ujian Biologi, ruang 4 (kelasku), semuanya hanya memperhatikan Lembar Jawaban menurutku. Mereka semua menghapal, dan aku telah melakukan blunder terbodoh, bahwa yang membuat soal bagi kelas XI IA3 dan tetangga XI IA4 adalah guru Biologi kami, Bapak Eko Gunanto. Tentu saja soal yang beliau berikan, adalah setiap kata-kata yang beliau keluarkan ketika belajar formal. Jelaslah ini bagaikan mimpi buruk, karena aku tidak belajar malamnya. Untuk soal nomor 1-5 aku bisa menjawabnya, namun tak tahu benar atau tidak. Untuk soal berikutnya, aku hanya pasrah pada Tuhan, berharap ada sedikit contekan. Bahkan untuk soal proses pembuatan pipis memiliki bobot nilai tertinggi, aku hanya mengingat proses filtrasi, namun aku bertanya kepada teman sebelah (Annisya), dia menambahkan padaku proses Reabsorsi dan Augmentasi, maka jadilah pipis yang sering kau buang di jamban belakang rumahmu. Sedikit ironis, hari itu pengawas selalu menegur Annisya ketika dia membeberkan jawabannya kepadaku, kenapa mereka tidak menegurku?
Ujian TIK, kembali diskusi pra-ujian, ternyata lumayan sukses, dan taktik itu kembali kuterapkan sebelum Ujian TIK. Ujian berjalan lancar, karena mayoritas soal yang ada adalah soal lama, yang sudah aku bedah bersama teman lain, namun aku begitu bodoh, aku membuat kesalahan kecil, dan semoga itu tak mempengaruhi nilaiku.
Besok, ujianku haanya satu mata ujian, yaitu Sejarah. Aku tak pernah mencatat sejarah, dan juga tak pernah mendengar –guru kami diganti sementara karena guru lama berbadan dua, jika dengan guru lama aku senang memperhatikan, meski memang tidak mencatat-.
• Hari Ketujuh / 8 April
Seminggu sudah aku ujian, semua berjalan seperti air yang mengalir, namun tentulah air yang mengalir di sungai belakang rumahku tak selamanya mulus, terkadang mereka menemui bangkai, sampah, kain basahan yang dihanyutkan air atau bahkan kotoran (maaf! Aku memang sedikit jorok kalau memikirkan hal itu), seperti itulah perumpamaan betapa menyedihkannya ujianku, namun aku masih bisa mencapai muara sungai, yaitu detik-detik terakhir Ujian –aku memang ingin sedikit bergaya dalam bahasa, namun kenapa harus jorok, tapi yang jelas Anda tak perlu merisaukannya.
Sejarah, bukankah ini masa lalu? Aku tak mengerti kenapa aku mencintai sejarah, namun ironisnya nilai sejarahku tak sebanding dengan cintak padanya, ini bagaikan rasa cintaku kepada Pevita Pearce, namun dia tak pernah menjawab cintaku, mungkin karena dia sudah punya pacar, atau mungkin dia lebih dewasa dariku, atau bahkan aku tidak bisa bernyanyi seperti Nino RAN -gini-gini eke penyanyi saweran lo, cyinn!!- Sudahlah lupakanlah Pevita Pearce, dia memang cantik –tidaaak, hidungku mimisan.
BPUPKI, PPKI, Rengasedngkolok, Poklamasi, Pertempuran Pasca-Proklamasi. Ya, inilah materi yang akan diujiankan, aku harus serius, karena kahir-akhir ujian, setan kemalasan ini kembali memayungi hari-hariku, tapi aku sudah memiliki proteksi yang cukup baik yaitu Sang motivator.
Maafkan aku hari ini! Aku memang sedikit gila, namun jika Anda tak suka dengan tulisan saya, maka jangan sesekali Anda mencaci saya, ini blog saya, kalau tidak suka silakan tekan Alt+F4 di keyboard Anda, maka Anda akan segera lenyap dari blog pecundang ini. Jika suka, lanjutkanlah membaca tulisan ini, dan ayo kita bersulang! TOAST!!
Kembali ke report! Aku sempat berdiskusi dengan kawan-kawan pra-ujian, dan ada satu soal yang menerutku tidak akan muncul yaitu, 7 komite van Aksi. Lalu aku mengabaikannya, dan tak bermaksud untuk menghapal dan mendalaminya. Ternyata hukum karma masih ada, soal yang aku abaikan itu muncul, setengah menyesal, namun aku masih mengingat 4 diantara 7 itu dan lumayanlah. Secara umum ujian sejarah, memiliki tipe soal, Trap Questions.
Semoga saja ujian sejarahku membuahkan nilai yang bagus dan setidaknya cintaku kepadanya sedikit terbalas, meski dia tidak mungkin menerima sebagai kekasihnya, karena aku telah menghianatinya, setidaknya aku bisa menjadi kekaih gelapnya.
• Hari Terakhir / 9 April
Inilah hari terakhir bagiku untuk lepas dari siksaan ini, berjalan lancar memang ujianku, namun nilai tentu tak selancar ujian. UTS ditutup oleh Pendidikan Al-Qur’an (PAQ), dan hanya itu mata ujian hari ini, sebelum ujian aku sempat berpikir, bagaimana dengan ujian kawan-kawanku yang non-muslim dan masuk kelas IPA, seperti Felix dan Parlin, bukankah mereka ujian mereka sudah usai –khusus untuk kelas IPA, ujian kami hari ini yaitu Pendidikan Al-Qur’an, tentulah mereka tak lagi mengikuti ujian, namun aku masih melihat mereka di sekolah, tapi fokus utamaku bukan itu, fokus pertama adalah PAQ, aku harus sukses dalam ujian ini, karena jika gagal sedikit banyaknya akan mencoret namaku sebagai ex-murid sekolah Islam. Kemaren (red. Jumat) sesudah ujian Sejarah, masuk sebuah pesan pada Inbox handphone-ku dari orang tak dikenal yang mengabarkan soal-soal yang akan muncul dalam ujian besok (red. Hari Ini), aku tak begitu mempercayainya, namun untuk jaga-jaga aku juga menganggap itu sebagai referensi.
Dan bel pun berdentang, aku pun ke ruang ujian, dan ketika pengawas membagikan soal, tanpa basa-basi langsung kulahap soal itu, ternyata memang, SMS nyasar kemaren bertuah, aku yang sudah jaga-jaga, lumayan lancar mengerjakan ujian hari ini, dan aku keluar pertama dari ruang yang sudah memasungku selama satu minggu penuh itu. Dan aku mengakhiri UTS semester genap 2010/2011 hari ini. Alhamdulillah!
• TRIVIA Selama Ujian.
1. Mayoritas Ujianku mengenai mata pelajaran yang berbau eksak atau berhitung, hampir semuanya gagal, bahkan hanya keajaiban yang bisa menolongku –aku sering bertanya-tanya, eksak-ku buruk, lalu kenapa aku masuk kelas IPA?.
2. Jika aku meminum susu kemasan sebelum Ujian, maka saat ujian aku merasa enjoy dan tak terlalu terbebani.
3. Ujian Matematika adalah ujian terburuk-ku pada UTS ini, karena ada beberapa soal yang selazimnya bisa kutuntaskan, seketika buyar saat aku mulai menulis jawaban.
4. Sejak Ujian hari ketiga (4/4) aku tidak lagi mengenakan ikat pinggang saat ke sekolah, karena ikat pinggang-ku putus, karena pertumbuhan.
5. PAQ-lah ujian yang aku benar-benar lancar menjawabnya, tanpa bantuan orang lain atau terkaan (kecuali soal ke-6 yang mengharuskan kami berpendapat, jadi untuk soal ini jawabannya relatif)
6. Ujian kali ini aku duduk di kursi terdepan, dengan rasio mencotek dibawah 5%.
7. Selama ujian ini, intensitas berkirimpesanku dengan my sweetheart jauh lebih banyak dari hari biasa.
NB: Untuk hal ketujuh itu hanya perasaanku saja, dan tidak ada berhubungan dengan ujian, meski kami masih berbicara soal ujian dalam beberapa kesempatan.
Terimakasih sudah membaca curhatan dalam kegalauanku menghadapi UTS kali ini, aku berharap saat Ujian Semester nanti akan sangat lebih sukses dari UTS kali ini, dan tentu saja aku bisa naik kelas dan membuat orang di sekitarku bangga.
------------------------------------------------------------
LEAVE COMMENT, PLEASE!!
hei..........orang tak dikenal yang mengirimu kisi-kisi PAQ itu aku: avi...berterimakasihlah :-) hahahaha
BalasHapusasli kacau sekali ujianmu idiq....
Hei.. saya admin disini, jangan posting yang tidak sopan!! \./
BalasHapushahah.. terimakasih, namun akibat ketololan yg berbuah kecerobohan saya, PAQ cuma dapat 93 -bukan nyombong sih, tapi yg lain dapet 98- :(
KACAU? ya, sedikit lah..
yang paling menyebalkan Agama yg dipimpin guru yang begitu TEXTBOOK.. -apaan sih??
avi
BalasHapusbetul....aku sutuju tuan muda yang kamarnya berantakan :D xixixixi