Senin, 24 Januari 2011

Dilema Dalam Berpendidikan. Apakah Ini Sudah Tepat ?


Oleh: Ashiddiq Adha

Sekolah adalah media yang memberikan ilmu kepada manusia, sekolah adalah salah satu lembaga sosial yang berpengaruh bagi seseorang. Tentu saja, karena sekolah lah yang pertama kali memperkenalkan segala sesuatu kepada seseorang, mulai dari hal-hal kecil seperti membaca, bertata krama, sampai hal yang tak terduga seperti angkasa luar, dan sebagainya. Tentu saja banyak manfaat sekolah.


Namun satu hal yang kucermati saat ini mengenai pendidikan di Indonesia, dan saya pribadi menjadi pemeran dalam proses sekolah, saya pribadi bersekolah di salah satu sekolah negeri yang cukup bergengsi di kota saya, dan tak tanggung-tanggung sekolah memberikan suatu batas pencapaian minimum yang harus kita capai agar kita bisa menuntaskan secara nilai salah satu mata pelajaran, tujuannya sangatlah baik, mendidik kita agar tak bermain-main di rumah, dan selalu menyempatkan waktu untuk belajar.

Satu hal yang ingin saya ungkap dalam artikel ini adalah apakah pendidikan Indonesia ini sudah tepat? Kenapa saya bertanya seperti itu? Saya memiliki suatu dasar yang sangat sederhana yakni apakah 13 mata pelajaran yang disodorkan setiap minggunya harus kita kuasai? Manusia bukanlah makhluk sempurna, tentu juga tak memiliki kapasitas pemikiran yang luar biasa. Kenapa di Indonesia sekolah lanjutan masih mempelajari semua pelajaran, meski secara formal SMU sudah memiliki jurusan, namun 13 mata pelajaran yang selazimnya cukup banyak, harus dikuasai 75% (khusus di sekolah saya), secara kau harus memiliki nilai minimum 75! Hal ini sangatlah buruk bagi siswa yang memiliki kemampuan standard seperti saya, karena hal ini tidak mudah, ujung-ujungnya siswa akan pasrah dan tidak belajar, dan mereka akan mendapatkan nilai yang tidak memuaskan dan akan bermuara pada hal-hal yang tidak diinginkan seperti putus sekolah, dan menjadi pengangguran.

Kenapa di Indonesia ini pendidikan lanjutan tidak harus menjurus kepada suatu bidang yang pribadi itu memiliki minat juga memiliki potensi di bidang itu, meski untuk sekolah lanjutan Depdiknas telah menyediakan SMK, namun saya juga tidak melihat peran yang signifikan dari SMK (ruang lingkupnya adalah kota saya), sudah dijuruskan tapi tetap ada juga yang menjadi pengangguran. Seyogya Depdiknas juga harus mencari jalan keluar dalam masalah ini, apakah setiap siswa yang ada di sekolah lanjutan diberikan suatu bidang yang mereka kuasai dan sukai agar mereka memiliki kemampuan yang jelas, tidak seperti sekarang, siswa diharuskan menghapal banyak mata pelajaran, namun jika tak ada yang mereka kuasai atau tanggung-tanggung, juga tidak akan membuahkan hasil. Toh, nanti ujuang-ujungnya pekerjaan yang akan kita dapatkan hanya satu pekerjaan, dan kita tak mungkin menjadi guru matematika merangkap guru sastra sekaligus menjadi guru sosiologi. Benarkan?
Kita bisa melihat negara-negara lain, yang minim pengangguran dan memiliki banyak SDM yang berkualitas, mungkin saja mereka menerapkan cara yang saya paparkan yaitu mendalami suatu bidang, fokus pada bidang itu, dan tak tanggung-tanggung, mereka all-out pada bidang itu, karena mereka telah yakin bahwa bidang itulah yang akan membawa mereka kelak di masa depan agar menjadi orang! Kenapa kita harus banyak mendalami bidang, namun muaranya kita hanya akan menjadi pengangguran.

Ini hanyalah aspirasi saya, saya tak menuntut Mendiknas mendengar ini, karena sekarang adalah era-Reformasi, era-Demokrasi, maka kita harus bisa memanfaatkan peluang untuk berpendapat ini, tentu saja dengan berpendapat. Jika para pembaca ada yang tidak setuju dengan artikel singkat ini, saya minta maaf, karena saya masih belum bisa membuat artikel seobjektif mungkin, karena mungkin masih subjektif. Namun jika para pembaca ingin memberi saya saran ataupun kritik, silakan karena dengan kritik dan saran itulah saya dapat berkembang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar